ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Pulang kampung


__ADS_3

Adela berjalan menuju ke sebuah kafe di dekat kantornya saat istirahat makan siang, kebetulan Dito sedang menemui klien di ruang kerjanya, sehingga Adela memutuskan untuk makan siang sendirian, sekalian membelikan makan siang untuk Dito juga.


"Del," panggil seseorang yang sungguh sangat tidak asing suaranya.


"Sesempit itukah dunia ini sampai ke mana pun aku pergi aku harus bertemu dengan mu?" Sinis Adela memutar matanya saat tiba-tiba Irwan berada di belakangnya dan menyapanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu," ujar Irwan.


"Bicaralah!"


"Tidak di sini, karena di sini sangat ramai," tolak Irwan.


"Lantas kau mau kita berbicara di tempat seperti apa, kuburan?" Celoteh Adel cuek.


"Ya nggak kuburan juga, maksudnya yang tidak terlalu ramai seperti ini, karena aku ingin berbicara serius dengan mu."


"Kenapa harus di tempat yang tidak ramai? Memangnya kamu mau mengajak ku berbuat mes-um? Aku tidak punya waktu, lagi pula tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, lebih baik kita bicara di persidangan saja nanti." Adela sengaja membuat Irwan jengkel.


"Adel, ayolah,, mari kita bicara baik-baik, aku setuju dengan perceraian yang kamu minta, tapi ada beberapa hal yang harus kita bicarakan terlebih dahulu, tolonglah!" Irwan setengah memaksa, entah apa yang sebenarnya ingin dia bicarakan dengan Adela, sebenarnya Adela tidak tertarik, hanya saja mengingat Irwan sangat mengganggu nya, akhirnya dia setuju untuk bicara dengan Irwan di tempat lain.


"Sepuluh menit, tidak lebih!" Ujar Adela saat Irwan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya untuk mencari tempat lain yang bisa di jadikan tempat untuk mengobrol dengan tenang.


"Tunggu, mengapa ini jalan menuju ke luar kota?" Protes Adela saat baru menyadari jika Irwan mengemudikan mobilnya semakin menjauh dari kota menuju ke jalur luar kota.


"Sebaiknya kamu jangan banyak protes, karena aku bisa saja melakukan hal-hal di luar dugaan mu, ikuti saja perintah ku, kamu hanya perlu duduk diam dan jangan banyak protes!" Ujar Irwan yang tiba-tiba nada bicaranya berubah mmenjadi galak.


"Kau mau menculik ku?" Tanya Adela.


"Aku hanya ingin membawa jalan-jalan istri ku sendiri." Jawab Irwan sambil terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang semakin tinggi.


Sadar jika keadaan kini tidak aman dan Irwan bisa saja nekat dan membahayakan nyawa mereka berdua, Adela akhirnya menutup mulutnya dan diam seperti yang Irwan perintahkan.

__ADS_1


'Sial, kenapa aku sangat familiar dengan daerah ini,' batin Adela, seraya menengok ke arah jendela mobil melihat pemandangan di luar yang sepertinya tidak asing baginya.


'Shiiit,,, ini kan---' gumam Adela lirih.


Rupanya Irwan membawa Adela ke ibu kota dan benar saja Adela merasa tidak asing dengan tempat itu karena ternyata daerah itu dekat degan tempat tinggalnya di masa depan, hanya saja suasananya masih belum se ramai masa itu, saat ini kawasan yang dua puluh empat tahun yang akan datang menjadi kawasan perkantoran dan pertokoan dan bangunan apartemen elit itu kini hanya merupakan bangunan-bangunan rumah dan ruko sederhana saja.


"Turun, dan jangan macam-macam!" Titah Irwan saat mereka berhenti di debuah garasi entah rumah siapa.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Wan?" tanya Adela, dia tidak berontak ataupun melawan.


Sungguh Adela merasa percaya diri karena dia merasa menguasai daerah sini, ini daerah tempat kelahirannya, jadi dia sangat tahu seluk beluk kawasan ini.


Adela hanya ingin tahu apa yang ingin Irwan lakukan padanya.


"Aku hanya ingin mencoba memperbaiki hubungan kita, aku ridak mau bercerai dari mu, kita lanjutkan lagi hubungan kita yang sempat tertunda." Kata Irwan dengan entengnya.


"Bukan aku yang menginginkan perpisahan di antara kita, dan tidak ada yang perlu di perbaiki dari hubungan kita yang sudah terlanjur rusak ini, kau tidak mencintai ku, karena kalau kau mencintai ku, maka seharusnya tak akan pernah ada penghianatan, apapun alasannya. lebih baik kau coba pikir kembali, benarkah cinta yang kau butuhkan? Akubrasa yang kau butuhkan hanya uang dan kekuasaan, sayangnyabitu tidak akan pernah di dapat dari ku, karena yang mempunyai itu semua Linda." Urai Adela panjang lebar.


"Dalam hidup ada kalanya kita harus bisa memilih, karena keserakahan hanya akan menimbulkan petaka bagi kehidupan kita, jika kau pilih cinta, tinggalkan Linda, aku akan mengurungkan niat ku untuk bercerai dengan mu, tapi jika kau pilih uang dan kekuasaan, tinggalkan aku, berbahagialah dengan pilihan mu." Tawar Adela.


Tawa Adela terdengar nyaring saat di tunggu beberapa menit Irwan tidak juga memberikan jawaban atas pilihan yang di berikan Adela tadi.


"Hahaha,,, sebenarnya aku tak harus mempertanyakan ini pada mu, karena aku sudah tau jawaban orang tamak seperti mu, kau pasti tidak bisa memilih karena menginginkan keduanya, jika pun tadi kau memilih aku, aku yakin itu hanya ucapan di mulut saja, iya kan?" Tebak Adela, yang membuat Irwan semakin tidak bisa berkata-kata.


**


Sementara di lain tempat, Dito yang menunggu Adela pulang dari pamitnya yang hanya membeli makan siang itu namun tidak kunjung pulang, padahal ini sudah hampir dua jam berlalu dari waktu istirahat.


Adela juga tidak membawa ponselnya, karena dia sering bilang jika ponselnya itu jadul, padahal Dito sudah membelikan ponsel seri terbaru dan tercanggih di jamannya, namun tetap saja Adela tidak pernah mau membawanya.


"Kaya gini kan repot, mau cari kemana coba?" Gumam Dito gusar.

__ADS_1


"Apa kak Dito mencari Adel?" Riska tiba-tiba muncul balik pintu.


"Aku bos mu, gunakan tatak krama mu jika masuk ke dalam ruangan ini." Sinis Dito, setelah pertengkarannya dengan Irwan tempo hari, rasa-rasanya kini dia pun tak akan segan lagi untuk memberhentikan Riska jika sikap gadis itu masih saja songong.


"Baiklah, aku akan pergi. Padahal aku punya informasi penting tentang kemana perginya Adelia." Riska mengendikkan bahunya dan pura-pura berlalu pergi.


"Tunggu! Apa kamu benar-benar tahu kemana Adel pergi?" Dito penasaran.


"Tentu saja, dan bukan hanya aku, banyak karyawan lainnya juga yang melihat kemana dan dengan siapa Adel pergi tadi saat makan siang." Riska sok jual mahal dan sok penting di hadapan Dito sekarang ini, karena merasa jika Dito kini sudah termakan hasutannya.


"Katakan, kemana dan dengan siapa Adel pergi!" Bentak Dito tidak sabaran.


"Adel pergi dengan Kakak ku." Jawab Riska santai.


"Irwan? Tidak mungkin! Kau pasti bohong!" Tepis Dito tidak percaya.


"Kakak boleh tanyakan hal itu pada karyawan lain yang juga melihat itu, atau cek kamera pengawas di sekitar kafe sebrang kantor, mereka pergi bersama, mungkin mereka akan rujuk!" Hasut Riska memanas-manasi.


"Omong kosong! Adel kekasih ku, tidak akan mungkin dia mau kembali pada kakak mu yang jahat itu!"


Dito menelpon seseorang, wajahnya langsung terlihat lemas setelah berbincang dengan seseorang itu beberapa menit.


"Apa kakak sangat mencintai Adel?" Tanya Riska lirih.


"Tentu saja, bukankah tidak perlu di tanyakan lagi?" Jawab Dito.


"Aku akan membantu kakak, aku akan mencari tahu kemana mereka pergi." Kata Riska.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin membantu?" Dito menaikkan sebelah alisnya merasa curiga.


"Karena--karena aku ingin melakukan suatu hal yang berharga untuk orang yang aku cintai, aku tidak tega melihat kak Dito bersedih seperti ini, bukankah cinta itu tidak harus memiliki? Dan ininpengorbanan terbesar ku untuk orang yang aku cintai." Ujar Riska meyakinkan Dito, dan berharap Dito akan percaya dengan segala bualannya itu.

__ADS_1


"Terimakasih Ris, aku senang mendengarnya." Ujar Dito lega,dia percaya begitu saja tanpa curiga jika Riska memang tulus ingin membantunya.


__ADS_2