
Dito terburu-buru berangkat ke perusahaannya saat staf kantor menghubunginya dan mengatakan jika ada perempuan merusuh di loby dan bersikeras ingin bertemu dengan dirinya, bahkan wanita itu mengancam akan mengatakan ke media jika dirinya hamil anak Dito, pemilik showroom terbesar di kota itu.
"Ah sial, perempuan gila mana pagi-pagi begini membuat onar di perusahaan ku," gerutu Dito dengan kesalnya.
Selama ini memang banyak wanita yang tmengejar-ngejar dirinya, namun sejauh ini juga belum ada yang berbuat nekat seperti yang di laporkan staf nya ini, pikirannya melayang menebak-nebak wanita mana yang kini menggila di kantornya itu.
"Siska, Anisa, Maya, atau Riska? Ah,, gak mungkin mereka, mereka tidak akan berani berbuat sejauh itu!" Monolog Dito sepanjang perjalanannya ke kantor.
Sebenarnya bisa saja Dito mengabaikanperempuan yang sedang mengacau ini, dan menyerahkannya pada security agar menangani danmembereskan kekacauan itu, hanya saja mendengar laporan stafnya yang bahkan wanita itu sampai mengaku kalau dirinya tengah hamil anaknya, membuat dirinya merasa penasaran dan ingin melihat wanita gila mana yang berani-beraninya mengaku-ngaku tengah hamil anaknya, padahal, se nakal-nakalnya Dito, dia belum pernah tidur dengan wanita mana pun, meski banyak wanita yang secara suka rela menyerahkan tubuhnya padanya untuk di cicipi.
Sampai di kantor, keadaan tidak se kacau yang dia bayangkan, bahkan semua tampak tenang seperti tidak terjadi sesuatu.
"Mana perempuan yang katanya mengamuk dan memaksa untuk bertemu dengan ku itu?" Tanya Dito mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang tampak normal dan baik-baik saja, bahkan tidak nampak ada wanita mengamuk di sana.
"Ah, itu sudah di tangani dan di bawa oleh ayah anda ke atas, sepertinya di ruanga kerja anda." Terang petugas resepsionis dengan sopan.
"Oh Shiiiit, ayah!" Maki Dito yang baru teringat jika hari ini ayahnya memang akan berkunjung ke showroom miliknya yang baru saja di buka itu, namun sebelumnya Dito tidak mengira jika ayahnya akan datang se pagi itu ke kantornya, bahkan tadinya Dito pikir kalau Ayahnya akan datang ke rumahnya.
__ADS_1
Setengah berlari Dito menuju lift yanga akan membawanya ke lantai atas dimana ruang kerjanya berada, dia tidak mau ayahnya sampai salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan wanita yang belum dia tahu siapa itu dengan dirinya.
Sudah terbayang olehnya jika kini wanita itu sedang di marahi habis-habisan oleh ayahnya yang terkenal dingin dan galak itu, bahkan dia tidak pernah pandang bulu untuk memuntahkan kemarahannya baik itu terhadapa laki-laki maupun perempuan, jika menurutnya bersalah ayahnya itu tidak segan untuk memaki dan menghukumnya dengan keras.
Namun dari balik pintu Dito yang sengaja tidak buru-buru masuk keruangannya namun menempelkan telinganya ke pintu kayu ruangannya guna mencuri dengar apa yang tengah terjadi antara ayahnya dan wanita perusuh itu, namun anehnya tidak terdengar suara apapun, hanya hening di dalam ruangan itu seolah tidak ada orang.
Karena merasa penasaran, akhirnya Dito memutar handle pintu dan mendorong pintu ruang kerjanya.
Nampaklah sang ayah yang sedang duduk berhadapan dengan sosok wanita yang benar-benar di luar perkiraannya, yaitu Adela, wanita yang semalam baru saja di temui dan di kenalnya itu tampak sangat akrab dengan Ayahnya yang biasanya bersikap kaku dan galak jika berhadapan dengan wanita yang dekat dengan Dito.
Beberapa kali saat kuliah bahkan saat dia awal-awal bekerja memperkenalkan teman dekatnya pada Anton Wijaya sang ayah, namun ayahnya itu hanya menunukkan ekspresi tidak peduli dan lebih condong ke arah tidak setuju, kriteria Anton untuk wanita yang akan menjadi kekasih Dito sang putra memang sangat tinggi sehingga banyak wanita tidak lulus penyeleksian dirinya dan tak jarang harus ter-eliminasi dengan di iringi kata-kata sadis dan menyakitkan dari mulut pria setengah baya yang masih terlihat sehat dan wajah yang menunjukkan garis sisa-sisa ketampanannya itu.
Adela yang lulusan universitas universitas luar negeri jurusan manajemen dan pernah tinggal di Jepang selama 6 bulan itu lumayan fasih dalam bahasa jepang, selain bahasa inggris, Adela juga menguasai bahasa Mandarin dan bahasa Jepang.
"Sssttt, jangan berisik, ayah sedang mengurus dokumen perjanjian kerja sama besar yang sangat penting dengan Tuan Namoto nanti siang, untung asisten mu pintar bahasa Jepang, jadi ayah tidak kelabakan saat tadi Tuan Namoto datang memberikan berkas ini pada ayah di bawah." Anton menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya menyuruh putranya untuk diam.
"Apa, asisten?" Dito mengernyit, namun kebingungannya itu hanya di balas senyuman jahil dari bibir Adela yang sekilas menoleh padanya.
__ADS_1
**
Semalam saat Adela di usir dari rumah oleh mertua, suami dan juga madunya, dia merasa kebingungan sampai akhirnya dia teringat dengan kartu nama yang di berikan Dito padanya.
Tepat pukul setengah empat subuh dia meninggalkan rumah yang pernah di tinggali selama hampir stu tahun bersama Irwan yang seharusnya menjadi haknya itu, setelah berputar-putar tanpa tujuan, akhirnya dia memutuskan untuk datang ke perusahaan Dito di mana dia di janjikan pekerjaan dan akan di terima kapan pun dia datang, namun sayangnya Adela datang ke perusahaan terlalu pagi, jam setengah enam dia sudah berada di pelataran shoeroom, bahkan kantor itu belum buka, setelah showroom buka dia lantas masuk ke dalam dan meminta izin pada security kantor untuk menunggu Dito dan sdia mengatakan kalau sudah punya janji dengan pemilik perusaaan itu, namun petugas keamanan itu tidak percaya dengan perkataan Adela, terlebih pakaian Adela masih menggunakan gaun semalam dengan nafs yang masih beraroma alkohol karena sambil menunggu waktu dia meminum bir di sebuah warung pinggir jalan 24 jam yang ternyata menjual minuman secara bebas di zaman itu.
Sampai akhirnya satu persatu karyawan datang dan tidak satu pun di antara mereka yang percaya jika Adel benar-benar memiliki janji dengan Dito meski Adela nekat mengaku sebagai kekasih Dito dan mengancam akan menceritakan perihal kehamilan dirinya pada wartawan, namun petugas resepsionis yang berjaga malah berinisiatif untuk menghubungi Dito untuk melaporkan kerusuhan yang di timbulkan oleh Adela di kantornya.
Di tengah kegaduhan itu, Anton datang ke sana, hampir saja dia marah besar dengan kekacauan yang terjadi, namun baru saja dia hendak memaki, Tuan Namoko partner bisnisnya tiba-tiba datang untuk memberi tahu jika pertemuan yang seharusnya di lakukan pukul 9 pagi itu berubah jadwal menjadi jam 1 siang, namun dia yang tidak bisa bahasa indonesia dan penerjemahnya yang tidak hadir di sana membuat Anton bingung, sampai pada akhirnya Adela angkat suara,
"Maaf tuan, tuan ini mengatakan jika dia ingin merubah jadwal pertemuan yang seharusnya pukul 9 pagi ini menjadi pukul 1 siang nanti ,dan dia meminta anda untuk mempelajari dokumen perjanjian yang nanti akan di bahas dalam pertemuan." Ujar Adela menerangkan.
"Oh seperti itu, apa kau bisa berbahasa Jepang?" Tanya Anton yang lantas di angguki Adela.
"Sedikit." Kata Adela merendah.
"Ya sudah katakan padanya kalau aku tidak keberatan." Titah Anton yang lantas menyampaikan hal itu pada rekan bisnis Anton.
__ADS_1
Saat itu Adela belum tahu jika Anton adalah ayah dari Dito, untungnya saat Anton bertanya tentang siapa dia sebenarnya, dia tidak menjawab kalau dia kekasih Dito.
"Saya Adel tuan, saya asisten Tuan Dito yang baru, hanya saja para karyawan di sini tidak percaya jika saya asisten Tuan Dito, jadi mereka melarang saya untuk menunggu di ruangan pak Dito." Jawab Adela mengarang cerita, padahal Dito hanya menjanjikan menerima dirinya untuk bekerja dan tidak pernah menjanjikan dirinya untuk menjadi asistenya.