
"Apa sudah ada informasi?" Tanya Dito pada Riska yang malam itu masih menemani Dito di kantor, gadis itu pun terlihat seperti sibuk menelpon ke sana kemari untuk mencari informasi tentang keberadaan kakaknya.
"Mba Linda bilang, kak Irwan meminta izin untuk pergi ke luar kota hari ini." Jawab Riska.
"Luar kota?" Beo Dito.
"Hmm,,, sepertinya apa yang di bicarakan kak Irwan tentang rencananya untuk rujuk dengan Adel dan menyembunyikannya dari mba Linda itu benar adanya, aku pikir dia hanya bercanda, ternyata kak Irwan dan Adel masih saling cinta." Gumam Riska, meski dia berbicara dengan lirih, tapi dia sengaja membuat suara gumamannya itu tetap bisa di dengar oleh Dito.
"Katakan pada ku, apa yang kakak mu rencanakan?" Tanya Dito.
"M-maaf, aku tidak bermaksud--"
"Katakan!" Bentak Dito.
"Baik,, baik,,, sepertinya aku tau kemana kak Irwan membawa Adel." Ujar Riska, dia merasa sangat senang karena akhirnya Dito masuk ke dalam perangkapnya.
"Ayo, jangan buang waktu, sebaiknya kita langsung berangkat!" Ajak Dito.
"Pakai mobil ku saja, kak!" Kata Riska.
Karena tidak ingin berdebat dan ingin segera menemui Adela, saat itu Dito hanya mengiyakan saja tanpa mempunyai prasangka atau pikiran buruk apapun terhadap ajakan Riska itu.
"Apa mereka ada di tempat ini?" Tanya Dito saat mobil yang dia kendarai berhenti di sebuah villa yang letaknya berada di pinggiran kota dan jauh ke mana-mana.
__ADS_1
"Aku mengira jika mereka ada di sini, hanya tempat ini yang memungkinkan untuk mereka bersembunyi tanpa di ketahui oleh mbak Linda." Kata Riska.
Dito sebenarnya ragu dengan apa yang di katakan Riska, apalagi saat melihat sekeliling area itu terlihat gelap, di tambah lagi tidak ada mobil Irwan terlihat di sana.
"Sepertinya tidak ada orang di dalam sini, lebih baik kita cari ke tempat lain." ajak Dito yang mulai tidak enak hati.
"Sebaiknya kita cek dulu, jauh-jauh ke sini masa kita gak cek." Riska beralasan, dia bahkan berjalan mendahului Dito.
Perasaan Dito semakin tidak menentu saat dia melihat sekelebat ada bayangan dari balik tirai bangunan itu seperti sedang memperhatikan mereka.
Dito mulai waspada, kini dia benar-benar menyesali karena telah percaya begitu saja dengan ucapan Riska, kata hatinya mengatakan jika ada yang tidak beres dengan semua ini.
Benar saja, saat Dito baru saja melangkahkan kakinya masuk melewati pintu utama villa itu, sebuah tangan kekar membekapnya, setelah itu dia tidak lagi ingat apa yang terjadi.
**
Tidak jauh dari tempatnya berbaring, ada Riska yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan dirinya, kedua tangannya terikat.
"Ris, Riska, bangun!" Dito setengah berteriak membangunkan Riska yang masih terpejam.
Mendengar suara teriakan Dito, akhirnya Riska membuka matanya, "Akh,,, dimana ini, kenapa kepala ku pusing sekali!" kata Riska sambil meringis.
"Ris, apa yang terjadi, mengapa kita berada di sini?" Tanya Dito yang sama sekali tidak ingat apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Entahlah kak, yang aku ingat semalam ada beberapa pria yang menghadang kita, sepertinya mereka hendak mencuri di villa ini, namun merasa terganggu akibat kehadiran kita, setelah itu akunpun tidak ingat apa-apa lagi." Urai Riska.
Dito menggeserkan bokongnya mendekat ke arah Riska hingga mereka kini saling memunggungi.
"Bantu aku buka tali di lengan ini," ujar Dito seraya mendekatkan pergelangan tangannya yang kini telah berhasil membuka simpul tali di pergelangan Riska hingga kedua tangan wanita itu kini sudah terbebas.
"Kak, mereka mencuri mobil ku, dompet dan juga tas ku!" teriak Riska saat melihat ke halaman Villa mobilnya yang semalam di parkir di sana kini sudah tidak terlihat lagi.
"Sial,,, dompet dan ponsel ku juga tidak ada, bagaimana caranya kita keluar dari tempat ini?" Dito baru menyadari saat Riska mengatakan semua itu jika barang-barang miliknya juga sudah raib
Posisi Villa yang jauh dari pemukiman membuat kini mereka seakan terjebak di sana, tanpa uang dan tanpa apapun.
"Kak,,, aku takut, bagaimana ini, aku tidak mau mati konyol di tempat ini," rengek Riska, dia memeluk tubuh Dito sbil menangis, mau tidak mau Dito pun menenangkannya dengan mengusap punggung gadis yang terus menangis itu.
Tadinya Dito curiga jika semua ini ulah Riska, namun melihat betapa Riska ketakutan saat ini, dia merasa jika Riska pun korban seperti dirinya.
Masalah menghilangnya Adel belum terpecahkan , kini malah Dito harus tersandung masalah baru dimana dia harus terjebak dengan Riska, di tempat antah berantah.
"Tenang saja, aku akan mencari jalan untuk keluar dari tempat ini, aku juga tidak boleh terlalu lama terjebak di sini, karena aku harus segera menemukan Adel." Ujar Dito yang sontak saja membuat Riska sedikit merasa kesal, bahkan dalam keadaan seperti ini saja, yang ada dalam pikiran Dito hanya Adel, betapa beruntungnya mantan kakak iparnya itu, pikirnya.
"Aku akan mencari bantuan ke sana, aku ingat beberapa ratus meter dari sini ada rumah, aku akan ke sana, barangkali mereka bisa membantu." Ujar Dito.
"Ah kepala ku,,, tolong aku kak, kepala ku sangat pusing!" Tubuh Riska seketika merosot ke lantai, tubuhnya lunglai.
__ADS_1
"Ris, Riska! Cobaan apa lagi ini, mengapa masalah terus datang?" gerutu Dito seraya menggendong tubuh Riska masuk ke dalam bangunan Villa itu.
Bagaimana pun, tidak mungkin dia meninggalkan Riska dalam keadaan pingsan seperti sekarang ini, mau tidak mau dia tetap harus menunggu sampai gadis itu siuman, meski rasanya itu seperti membuang-buang waktu saja.