
Tok,,,, tok,,, tok,,,
Suara ketukan pintu yang lebih terdengar seperti gedoran pintu penagih hutang terdengar dari tuang tengah di mana Adela sedang menonton televisi sambil maskeran. Di zaman sekarang ini, televisi adalah hiburan satu-satunya bagi Adela karena dia tidak bisa lagi menonton drakor lewat ponselnya atau men-scroll akun sosial media nya untuk melihat berita-berita ter up date.
Mbok Yum sudah tidur, Adela memang sengaja menyuruh wanita paruh baya itu untuk istirahat karena seharian wanita yang tidak lagi muda itu kelelahan mengurus semua urusan rumah mulai dari memasak, bersih-bersih dan lain sebagainya, jika dulu kerja Mbok Yum bisa di sebut ringan hanya membantu Adel, lain halnya dengan Adela tang memang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga semua pekerjaan di kerjakan mbok Yum, sendirian. Sebenarnya Adela merasa tidak tega dan kasihan, namun mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan itu, mungkin besok-besok dia akan mulai minta di ajakan Mbok Yum mengerjakan pekerjaan rumah agar dia bisa sedikit membantu meringankan pekerjaan Mbok Yum, kalau tidak dia akan meminta Irwan untuk menambah asisten rumah tangga lagi untuk membantu Mbok Yum.
Dengan malas Adela turun dari sofa empuk dan posisi nyamannya, sekilas Adela melirik jam yang menggantung di dinding, saat ini sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam,
'Siapa tamu tak tahu diri yang mengganggu waktu santai ku malam ini?' Gerutu Adela dengan wajah yang yang di tekuk karena merasa sangat kesal.
Bruak!
Begitu Adela memutar kunci pintu dan membukanya, dua orang wanita menerobos masuk bahkan sampai menubruk tubuhnya dengan kasar, hingga tubuh langsing Adela sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang karena serudukan mereka.
Baru saja Adela membuka mulutnya hendak menghardik kedua wanita yang ternyata adalah Linda sang istri siri Irwan yang malam itu datang bersama Sari, ibu mertuanya, atau ibu dari Irwan, tiba-tiba saja Sari langsung menghampiri Adela dengan penuh percaya diri yang tinggi, lantas membelalak ke arah Adela yang masih mengenakan masker di wajahnya itu sehingga Linda maupun Sari tidak tau perubahan wajah Adela yang sekarang ini karena wajah Adel kini berwarna putih semua dan hanya menyisakan area mata dan area mulut saja yang tidak tertutup.
"Di mana kau sembunyikan anak ku?" Tanya Sari sambil menyelidik dan memindai seluruh ruangan dengan tatapan matanya.
"Ckk, kalian ini, malam-malam mengganggu orang istirahat saja, retak deh masker ku!" Decak Adela kesal.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar, lagi pula mau pakai masker apapun, wajah mu tetap buluk, dan penampilan mu ini--(Sari melirik pakaian tidur satin menerawang yang di kenakan Adela saat ini dengan tatapan jijik)-- apa kau mencoba merayu putra ku dengan pakaian seperti jal_lang begini?" Cibir Sari yang lantas di sambut tawa merendahkan dari Linda yang juga ikut melirik Adela dengan tatapan sinisnya.
"Apa ada yang salah? Mohon maaf ibu mertua ku tersayang, putra mu adalah suami ku, jadi mau aku rayu dengan cara sepeti jal_lang atau seperti apapun, itu sudah halal bagi ku, selama yang aku rayu itu bukan suami orang!" di kalimat terakhir Adelia sengaja melirik ke arah Linda dan membalas tatapan sinis yang Linda lakukan tadi padanya, bahkan kali ini di bonusi kata-kata menohok untuk wanita yang telah berhasil merebut suami si pemilik tubuh ini.
Memang tidak salah apa yang di katakan Sari tadi, Adela memang sengaja mengenakan pakaian tidur yang tipis dan menerawang ini, itu karena dia ingin menggoda Irwan, andai saja Sari dan Linda tau bagaimana Irwan sejak tadi menatapnya penuh 'ingin' dan harus kecewa karena lagi-lagi Adela menolaknya, namun Irwan seperti kerbau di cocok hidungnya, alih-alih marah karena tidak di beri jatah, dia malah memilih tidur untuk meredakan keinginannya, pria itu tidak ingin berdebat dengan Adela yang nantinya akan membuat istri pertamanya itu marah kemudian mengusir dirinya untuk pulang ke rumah istri mudanya, demi Tuhan, Irwan sungguh tergila-gila dengan Adela saat ini sehingga dia rela menekan egonya sendiri.
"Hey, apa kau sedang menyindir ku? Dasar wanita jelek tidak tahu diri, ngaca makanya! Jangan salahkan suami mu berpaling pada ku, karena kenyataannya aku lebih cantik dan lebih segalanya di banding dengan mu yang kucel, dekil dan miskin!" Hina Linda.
"Wah,,, mulut anda boleh juga ya,,, kita baru pernah berbicara secara langsung seperti ini dan ternyata selain kelakuan mu, mulut mu juga busuk, dasar sampah!" Adela balik menghina Linda berkali-kali lipat lebih pedas.
"Kau!" Linda mengangkat tangannya ke udara berniat menampar pipi Adela karena merasa sangat marah dan tidak terima dengan hinaan yang di lontarkan Adela, padahal hal itu juga karena dirinya menghina Adela terlebih dahulu, dan Adela hanya membalas hinaannya saja.
"Sayang, kamu tidur di sini?" Linda bergegas mendekati Irwan yang saat itu sudah mengenakan piyama tidurnya dengan wajah yang terlihat jelas bangun tidur, dia tidak percaya dan merasa kecewa karena suami rampasannya itu memilih untuk tidur di rumah istri pertama yang katanya sangat tidak menggairahkan dan akan segera di ceraikannya, namun nyatanya?
"Kenapa? Bukankah ini rumah ku juga? Adel istri ku juga, apa yang salah jika aku tidur di sini?" Ujar Irwan, sungguh jawabnnya di luar dugaan Linda dan Sari, mereka pikir Irwan akan memberikan alasan yang membela diri karena di paksa Adel atau apalah, tapi nyatanya Irwan malah terkesan membenarkan apa yang di lakukannya dan seperti terkesan membela Adel.
"Irwan, Linda mencari mu ke rumah ibu, katanya kamu tidak pulang-pulang sejak tadi siang pamit ke rumah Adel." Ujar Sari menimpali.
"Bu, aku sudah pamit padanya untuk ke sini, letak kesalahan ku di mana?" Tanya Irwan.
__ADS_1
"Tapi kamu malah tidur di sini!" Rajuk Linda.
"Linda, seharusnya kamu tau kalau kamu menikahi pria yang sudah beristri, jadi kamu harus bisa memahami jika suami mu bukan hanya milik mu, bukankah Adel juga tidak pernah mengganggu waktu kebersamaan kita?" Kata Irwan.
"Wan, apa maksud mu? Apa aku tidak salah dengar? Kamu sedang membanding-bandingkan aku dengan istri dekil mu itu?" Kata Linda setengah tidak percaya.
"Mas, aku rasa lebih baik kamu pulang saja bersama mereka, aku tidak mau tetangga mendengar keributan di rumah kita, dan pernikahan kedua mu ini tersebar." Akhirnya Adela membuka mulutnya setelah sejak tadi hanya menjadi penonton keseruan pertengkaran antara Irwan, sari dan Linda.
Lagi pula dia belum siap jika harus tidur satu ranjang dengan Irwan, sejujurnya dia merasa senang Linda dan Sari datang ke sini, sehingga dia punya alasan untuk mengusir Irwan malam ini dan membuatnya tidak harus tidur di sofa depan televisi.
"Tapi--" Irwan seperti tidak setuju dengan ucapan Adel, sungguh dirinya tidak ingin perhi kemanapun, meskipun di abaikan Adel, yang penting dia bisa melihat dan bersama istrinya itu tak mengapa.
"Tolong mas, jangan membuat keadaan menjadi rumit, ini untuk nama baik mu juga di lingkungan sini." Rayu Adela.
Merasa ucapan Adela ada benarnya, dengan berat hati akhirnya Irwan menuruti apa yang di minta Adela dan pulang bersama Linda dan juga Sari.
Sementara Adela langsung bersorak kegirangan karena akhirnya dia bisa beristirahat dengan nyaman di kamarnya tanpa gangguan Irwan.
"Ini baru permulaan, mas!" Gumam Adela tersenyum miring.
__ADS_1