
Tubuh dan pikiran Irwan sepertinya mulai di kendalikan oleh setan yang merasuk ke dalam dirinya, matanya terlihat lapar saat melihat tubuh molek nan mulus tergeletak tidak berdaya, namun baru saja Irwan menciumi pipi Adela dengan rakusnya, wanita yang tengah mendpatkan pelecehan itu terbangun dari pingsannya dan segera mendorong tubuh Irwan agar menjauh dari dekat tubuhnya.
"Apa-apaan ini, apa maksudnya, kenapa aku kembali di sini lagi? Bukankah aku sudah melarikan diri dari sini?" gumam Adela kebingungan.
"Hahaha,,, orang bilang kalau jodoh gak kemana, mungkin kamu jodoh ku dan kita benar-benar berjodoh, buktinya kemana pun kamu pergi ujung-ujungnya kembali pada ku!" Irwan menyeringai dengan tawa mengerikannya.
"Omong kosong!" maki Adela dengan kesal.
Namun tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar kamar, terdengar seperti orang yang sedang berkelahi, membuat Irwan penasaran dan tidak tahan dan tergoda untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.
Baru saja Irwan hendak membuka pinta kamarnya, sebuah tendangan ke arah pintu kamar itu membuat wajah Irwan berciuman dengan pintu kayu itu, alhasil seketika dia limbung dan darah segar megucur dari hidungnya yang sepertinya patah.
"DIto!"
"Kak Dito!"
Ujar Adela dan Riska bersamaan saat melihat siapa sosok di balik pintu yang sudah menyebabkan Irwan terjatuh ke lantai dengan wajah babak belur berlumur darah.
"Adel, apa kamu tidaka apa-apa? Apa mereka menyakiti mu?" Dito berhambur memeluk Adel yang terduduk di sisi ranjang, terpakku, karena tidak menyangka jika Dito datang menyelamatkannya di waktu yang sangat tepat.
__ADS_1
"K-kak Dito, aku---aku hanya di paksa kak Irwan untuk membantunya melakukan semua ini." gugup Riska, saat ini gadis itu merasa sangat ketakutan, apalagi dirinya yakin jika Dito sepertinya sudah tau akan keterlibatan dirinya dalam penculikan Adela, sehingga tidak ada cara lain baginya selain mencari kambng hitam untuk menyelamatkan dirinya dan membersihkan n amanya di hadpan Dito, meskipun hal itu harus menjerumuskan kakak kandungnya sendiri.
"Apa maksud mu? Kau melimpahkan semua kesalahan pada ku? Jelas-jelas kau mempunyai semua ide ini, bahkan kau memaksa ku untuk kembali rujuk dengan Adel demi agar kau bisa mendapatkan Dito yang tidak pernah mencintai mu sama sekali!" tepis Irwan, dia tidak ingin di salahkan atas semua yang terjadi, terlebih samar-samar dia juga melihat sosok Linda sedang berjalan menuju ke arah dimana mereka berkumpul sekarang ini.
Jika adiknya tega menjerumuskan dirinya dan melempar semua kesalahan demi nama baiknya di hadapan Dito, maka Irwan juga kini membalas hal yang sama, dia juga tidak ingin rumah tanggaaanya dengan Linda hancur, setelah akhirnya dia sadari jika Adel memang sudah tidak mungkin dia dapatkan lagi.
Tidak adil baginya jika semua ini harus dirinya yang menanggung, sementara semua ini memang murni ide jahat dari Riska yang cinta buta dan tergila-gila pada Dito.
"Adik kakak tak tau diri, tak tau di untung, kau juga Riska, bermuka dua, di hadapan ku seolah kau memihak pada ku, namun di belakang ku kau sengaja menikam ku, dasar ular!"
Plak!
"Adik sial, kau memanfaatkan ku demi cinta gila mu, dan kini hendak melukai istri ku," bentak Irwan.
"Diam kau! Kau juga sama saja, kau sudah tua tapi masih saja mau di manfaatkan oleh bocah ingusan seperti dia, akui saja jika kau juga memang menginginkan mantan istri mu itu kembali ke pelukan mu, iya kan?" Linda mengibaskan tangannya yang hendak di pegang Irwan.
"Aku salah, aku akui aku salah, aku khilaf, aku minta maaf, jujur, setelah aku bicara dengan Adel kemarin aku sudah bisa mengikhlaskan jika dia ingin lepas dari ku dan memulai hidup bersama pria lain," lirih Irwan.
"Basi!" maki Linda.
__ADS_1
"Del, saat kamu kabur dari sini dan aku mencari mu, aku tau sebenarnya tau kamu ada di wartel itu dan bersembunyi di sana, jika aku memang berniat ingin menangkap mu, aku bisa saja langsung membawa mu, tapi aku memilih untuk melepaskan mu, aku tau kalau kamu bisa pulang atau pergi ke mana pun, karena kamu membawa uang dan dompet ku, tapi ternyata Riska malah menangkap mu dan membawa mu kembali ke sini dan memprovokasi ku lagi, aku akui iman ku terlalu lemah, gampang sekali tergoda, maafkan aku Del, aku akan memenuhi keinginan mu untuk mengurus perceraian kita secara hukum." Kata Irwan panjang lebar.
"Ka-kamu tau aku bersembunyi di wartel itu?" kening Adela berkerut.
Irwan mengangguk, "Setelah kamu keluar dari sana aku berbincang banyak dengan penjaga wartel itu dan meralat ucapan ku yang mengatakan padanya kalau kamu pencuri, aku menjelaskan padanya jika kita mantan suami istri yang berseteru, agar dia tidak mempunyai pikiran jelek pada mu, karena sepertinya dia masih mencurigai mu."
"Linda, aku minta maaf atas semua yang terjadi, dan aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi, aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Lanjut Irwan memohon pada Linda yang masih terlihat kesal dengan Irwan.
"Aku tidak butuh kata-kata manis yang tanpa bukti, aku hanya ingin kau buktikan ucapan mu, ceraikan dia secara hukum dan menikah dengan ku secara hukum juga." ujar Linda, seakan mendapat angin segar karena kini dirinya sedang beradada di atas angin dan dalam mode bebas meminta apapun pada Irwan mumpung sedang merasa bersalah.
"Segera akan aku urus. Dito, aku yakin kau lebih pantas untuk mendampingi Adel, perkara adik perempuan ku, aku tidak akan menghalangi mu jika kau ingin melaporkan kejahatannya pada Adel dan juga pada mu, aku serahkan semuanya pada mu," kata Irwan lagi.
Mendengar hal itu Riska seperti kesetanan, bagaimana bisa semua orang berakhir damai dan bahagia, sementara hanya diinya satu-satunya yang harus menanggung derita? Itu di rasanya tidak adil, di mengeluarkan sebilah belati dari belakang punggungnya yang memang dia siapkan untuk saat-saat terdesak seperti ini, lantas dia menarik pinggang Adela, menempatkan belati itu di leher Adela, di kala semua orang lengah dan tidak menyangka jika Riska akan berbuat se nekat itu.
"Tidak ada yang akan berbahagia, jika aku tidak berbahagia!" ucapnya dengan mata beringas.
"Adel! Riska lepaskan Adel, jika aku yang kau inginkan, aku bersedia bersama mu, tapi lepaskan dia!" kata Dito saat melihat ujung belati semakin menancap di leher Adela dan terlihat ada setitik darah yang mulai mengalir dari ujung belati yang menempel di leher Adela.
"Diam! Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bodohi, aku tau kalian akan melaporkan ku ke pihak yang berwajib, jangan dekati aku atau dia akan mati di hadapan kalian!" Riska semakin menggila, sehingga keadaan menjadi sangat panik di sana.
__ADS_1
"Siapkan mobil untuk ku, menyingkir dari jalan ku jika tidak ingin melihat pisau ini menembus lehernya!" titah Riska, dia benar-benar kehilangan akal sehatnya dan semakin beringas juga nekat karena merasa hidupnya sudah tidak akan berarti lagi, terlebih Dito pun tidak akan mungkin dia dapatkan, kakak lelakinya pun kini membencinya, dia merasa saat ini dunia harus ikut hancur bersamanya.