
Bruak!
Suara pintu utama rumah yang dulu menjadi rumah kediaman Adela bersama Irwan, namun kini menjadi tempat tinggal Riska dan ibunya itu di tendang dengan sangat kencangnya oleh Riska siang itu.
Mbok Yum yang siang itu kebetulan sedang membersihkan ruang tamu sampai tejingkat saking kagetnya.
"Di mana Kak Irwan, mbok?" Tanya Riska dengan penuh emosi, tadi dari kantor dia menelpon Irwan untuk janji bertemu, namun kakaknya itu mengatakan kalau dia dan Linda sedang berada di rumah ibu mereka, sehingga Akhirnya Riska pulang ke rumah yang seharusnya menjadi hak milik Adela, namun mereka serobot untuk di ambil alih dengan paksa itu.
"Semua orang berada di ruang makan, non." Jawab mbok Ym. Wanita setengah baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil beberapa kali mengusap dadanya seraya mengucap 'amit-amit jabang bayi, jangan sampai anak cucu ku mempunyai sifat seperti itu!'
Sudah sejak lama mbok Yum ingin pergi meninggalkan rumah yang kini tidak lai damai itu semenjak Adela pergi, namun apa daya wanita tua itu butuh uang untuk biaya hidupnya, meski dia punya dua orang anak, tapi dia tidak mau menjadi beban bagi anak-anaknya yang kini telah berkeluarga itu, sebisa mungkin mbok Yum ingin mencukupi kebutuhannya sendiri meski dengan bekerja menjadi asisten rumah tangga seperti yang selama ini di jalaninya.
__ADS_1
"Kalian masih bisa enak-enakan makan sementara aku mengalami nasib sial? Kak, Mbak, katakan pada ku apa yang terjadi semalam pada ku? Apa benar jika pria itu Bayu dan bukan kak Dito?" Sembur Riska pada kakak dan juga kakak iparnya yang kini sedang menikmati makan siang bersama Sari sang ibu.
Sontak saja Irwan dan Linda langsung gelagapan di tanya masalah yang terjadi semalam, apalagi di sana juga ada ibu mereka yang menatap anak-anaknya dengan tatapan bingung, karena tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ayo kita bicara di depan!" ajak Irwan karena tidak ingin sang ibu mendengar obrolan mereka yang mungkin saja akan membuat Sari syok atas apa yang telah terjadi pada putrinya.
"Tidak! Tidak ada yang boleh meninggalkan meja makan ini, ceritakan permasalahan yang terjadi di hadapan ku, sekarang juga! Apa yang sebenarnya kalian rahasiakan dari ku?" Cegah Sari, di tengah rasa penasarannya, Irwan justru berniat membicarakan masalah di belakangnya, sebagai seorang ibu, bagaimana pu dia sudah merasakan jika ada hal yang tidak beres dan di sembunyikan oleh anak-anaknya dari dirinya, sehingga dia bersikeras untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi bu," kata Irwan mulai kebingungan bagaimana dia harus membicarakan masalah aib yang di alami Riska tadi malam di hadapan ibunya secara langsung.
"Sudahlah sayang, aku rasa ibu juga harus tau apa yang terjadi, toh cepat atau lambat berita ini juga kemungkinan akan sampai ke telinga ibu, bukankah lebih baik jika ibu mendengarnya langsung dari anak-anaknya bukan dari mulut orang lain?" Saran Linda yang sebenarnya tidak peduli jika Sari akan syok atau bahkan jantungan sekalipun, karena dia masih sangat kesal dengan kebodohan adik iparnya yang dia anggap sudah menggagalkan rencana untuk menjebak Adela, Linda tetap berpegang teguh jika semua yang terjadi akibat kebodohan dan kebucinan Riska pada Dito.
__ADS_1
Sungguh Linda berharap jika Sari akan menghukum bahkan menghajar Riska kalau sampai mertuanya itu tahu kelakuan bejat putri kebanggaannya, sehingga setidaknya dia akan merasa puas melihat Riska menderita atas kebodohannya itu.
"Baiklah jika memang ibu memaksa, jadi sebenarnya semalam Riska tanpa sengaja meminum obat perang-sang dan dia tidur dengan Bayu. Sungguh aku sudah berusaha menjaganya, namun ternyata aku masih saja kecolongan, maafkan atas keteledoran ku bu, yang tidak bisa menjaga adaik perempuan ku ini." Sesal Irwan dengan menundukkan kepalanya, dia tidak berani mengangkat wajahnya di hadapan sang ibu karena benar-benar merasa bersalah dan merasa tidak berguna sebagai seorang kakak yang bahkan bisa kecolongan di depan matanya sendiri.
"Tidak bisa begitu dong, mas! Riska sudah dewasa, dia sudah tau mana yang baik dan yang buruk, tentang dia tidur dengan seorang pria, itu bukan menjadi tanggung jawab atau kesalahan mu, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, kok!" Protes Linda yang tidak terima jika Irwan meng-klaim dirinya lah yang abai dan bersalah atas apa yang terjadi pada diri Riska tadi malam sehingga Riska harus mengalami semua hal itu.
Sari terdiam sejenak, dia mencerna sekali lagi pa yang di uraikan Irwan padanya, tentang masalah yang di alami Riska tadi malam yang baru saja di beberkan oleh putra sulungnya itu, namun sejurus kemudian dia membuaka suaranya,
"Benar kata istri mu, Riska sudah dewasa, dan untuk masalah yang kau ceritakan tadi, ibu rasa ini bukan kesalahan mu, dia seharusnya sudah tau dan bisa menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, dia kini seorang mahasiswi, bukan anak bocah lagi yang kesehariannya harus selalu kita pantau." Kata Sari, matanya menerawang jauh, mengingat kembali saat anak-anaknya masih sangat kecil, dia mengerjakan semua pekerjaan baik itu buruh kasar maupun pekerjaan part time dia lakoni demi sebuah peran yang di sebut sebagai seorang ibu, tidak mudah membesarkan anak-anaknya sendirian selepas suaminya pergi untuk selamanya, karena saat itu perusahaan yang di tinggaljkan suaminya dia tidak mengelolanya, sementara Irwan masih belum lulus SMU saat itu dan belum benar-benar memahami dunia kerja, selepas dia lulus kuliah, barulah perusahaanitu di jalankan kembali oleh Irwan dengan di mulai dari nol lagi, untuk itu Irwan sangat sayang terhadap perusahaan peninggalan ayahnya yang kemudian dia rintis kembali dengan darah dan keringat itu.
"Ini salah ku, bu,,, jangan libatkan kakak!" ujar Riska yang emosinya kini telah berangsur menurun dan membaik, bagaimana pun Irwan tidak bersalah dalam hal ini, karena kakak lelakinya itu memang tidak tahu menahu tentang rencana busuk yang di susunnya bersama Linda sang kakak ipar.
__ADS_1
"Kenapa aku harus menyalahkan mu nak? Apa karena kamu tidur dengan Bayu Wijaya? Oh Riska,, jangan terlalu naif, pergaulan sudah semakin bebas di luaran sana, dan aku bisa mengerti dengan apa yang kalian lakukan. Ternyata kau cukup pintar untuk memilih target pria yang akan di jadikan aset masa depan mu, tenang saja,,, ibu setuju dengan pilihan mu, Ibu akan memaksa Bayu untuk mengambil tanggung jawab, kau harus menjadi bagian dari keluarga Wijaya, meski kau tidak berhasil menggaet Dito, mendapatkan Bayu pun sudah sangat baik, dari pada mengejar-ngejar cinta Dito namun pria itu tak pernah menganggap mu selama ini, dasar pria tidak peka!" ceroscos Sari yang membuat mereka yang berada dihadapan nya terkaget-kaget dengan ucapan Sari yang seolah mendukung gaya hidup anaknya yang terbilang cukup liar penuh kebebasan.
"Tidak, aku hanya menginginkan kak Dito saja seorang, tidak mau yang lain. Kejadian semalam antara aku dan Bayu hanya kecelakaan saja, lagi pula aku tidak pernah merasakan apa-apa pada Bayu, aku tidak mau!" tolak Riska.