
"Aku sudah mengucapkan terima kasih pada mu, apa lagi yang kamu ingin kan? Aku tidak punya uang dan tidak punya apapun untuk membalas kebaikan mu, hanya ucapan terimakasih yang mampu aku berikan padamu, tolong jangan persulit aku, aku sudah cukup kacau hari ini, aku di campakkan oleh suami ku dan di goda pria tua hidung belang, aku hanya ingin pulang dan tidur, lantas melupakan semuanya." Ucap Adela yang malah meluapkan keluh kesah nya pada Dito yang kini menatapnya tanpa berkedip.
'Wanita cantik yang malang,' batin Dito saat mendengar ocehan Adela yang terus berkeluh kesah padanya, seperti terlihat memang sedang benar-benar merasa terluka saat itu, dan entah mengapa, melihat itu semua Dita seolah merasa dirinya ikut merasa terluka mendengarnya.
Agak terkesan berlebihan dan mengada-ada memang, tapi itu memang yang terjadi, Dito benar-benar merasakan semua itu hanya dengan mendengar cerita pahit Adela saja, padahal biasanya selama ini Dito bukan tipe orang yang gampang iba atau terenyuh dengan kisah hidup orang lain.
"Baik kalau begitu, aku akan mengantarkan mu pulang, jika benar apa yang kamu ucapkan kalau kamu baru di campakan suami mu, maka jika aku mengantarkan mu pulang tidak menjadi kesalahan, bukan?" Ujar Dito.
Sebenarnya Adela ingin menolak niat baik Dito itu, selain ini pertemuan pertamanya dengan Dito, dia juga tidak yakin apakah niat Dito untuk mengantarkannya pulang itu benar-benar tulus, atau ada niat lain yang tersembunyi di balik kebaikannya itu, tapi mengingat dirinya yang se-kacau ini dan harus pulang naik taksi sendirian tentu akan lebih membahayakan lagi, yaa,,, setidaknya kalaupun dirinya apes malam ini dan di jahati, dia tahu siapa orang yang menjahatinya, dan tidak susah untuk melaporkannya pada polisi.
"Tenang saja, aku tidak akan mengambil keuntungan dari wanita mabuk!" Ujar Dito seperti tahu ketakutan yang di rasakan Adela saat ini.
Adela tidak menjawab apapun, dia hanya membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar klub di ikuti Dito yang mengekor di belakangnya seakan-akan mereka benar-benar sepasang kekasih yang sesungguhnya.
"Ngomong-ngomong, siapa nama mu? Lantas bagaimana kamu bisa tahu siapa nama ku?" Tanya Dito, saat mereka sudah berada dalam mobil dan dalam perjalanan mengantar Adela pulang.
Sejak tadi pertanyaan itu hanya bisa tertahan di ujung tenggorokan Dito, namun kini dua hal yang membuat dirinya seakan tertelan rasa penasaran itu akhirnya terucap juga.
__ADS_1
Sudah sejak awal dia penasaran bagaimana wanita yang duduk di samping kursi kemudi ini bisa tahu namanya.
"Emh,,, ah, itu-- ten-tentu saja aku tahu siapa nama mu, siapa yang tidak tahu nama keponakan pemilik hotel dan klub ternama di kota ini?" ujar Adela mencari-cari alasan yang di pikirnya logis, rasanya malas jika harus jujur mengatakan kalau dia tahu nama Dito karena tidak sengaja melihat Dito di acara ulang tahun Riska, jiks dirinya menjawab seperti itu pasti pertanyaan akan semakin panjang dan tidak berhenti sampai di situ saja, sementara Adela sedikit gengsi harus menjelaskan secara rinci alasan kenapa dia berada di acara ulang tahun itu dan bagaimana dia di campakan dengan cara yang sangat terhina di acara itu oleh suaminya.
Dito mengangguk pelan, tentu saja itu bukan karena dia percaya dengan apa yang di katakan Adela, namun sebaliknya, dia tahu jika apa yang di katakan Adela barusan adalah sebuah kebohongan, karena di antara keluarga besar Wijaya, mungkin hanya dirinya lah satu-satunya yang tidak pernah muncul di hadapan publik dan tidak begitu di kenal oleh orang banyak, selain dirinya yang memang merasa risih dengan embel-embel nama besar keluarganya itu, Dito juga tidak ingin jika kesuksesan yang dia peroleh dengan susah payah akan di kait kaitkan dengan nama besar keluarga Wijaya sehingga dirinya terkesan tidak punya kemampuan apapun jika tanpa nama keluarga besarnya itu.
Namun entah mengapa tadi saat di klub tiba-tiba saja untukpertama kalinya dia menunjukkan siapa jati dirinya yang sebenarnya di hadapan orang lain hanya karena ingin menolong Adela, wanita asing yang baru saja di temuinya, bahkan dia tidak tahu siapa namanya.
"Oke, lalu apa aku boleh tau siapa nama mu?" Tanya Dito setelah sebelumnya dia pura-pura percaya dengan alasan Adela tentang bagaimana dia tahu namanya.
"Bukankah kita sepasang kekasih? Tidak adil rasanya jika kamu tahu nama ku dan aku tidak tahu siapa nama mu." Cengir Dito menggoda.
"Maaf, tadi aku terpaksa mengatakan kamu kekasih ku, karena kamu orang yang pertama kali aku lihat untuk aku mintai pertolongan," cicit Adela yang merasa sedikit tidak enak hati karena Dito terus saja mengungkit tentang dirinya yang mengaku-ngaku sebagai kekasih nya tadi untuk menyelamatkan diri.
"Nama ku Adela, emh,,, Adelia,,,panggil saja Adel." Ucap Adela seraya meralat ucapannya yang masih belum terbiasa dengan nama pemilik tubuh ini meski untungnya nama mereka hanya berbeda satu huruf saja jadi tidak begitu jauh perbedaannya.
"Ah,,, Adelia, nama yang cantik." Gumam Dito.
__ADS_1
"Tentu saja, secantik orangnya, bukan?" Goda Adela seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipinya sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.
"Hahaha,,, kamu lucu, cantik, percaya diri dan aku tebak, pribadi mu pasti sangat menarik." Kata Dito yang merasa terhibur dengan tingkah konyol Adela terlepas itu tingkah dia karena sedang di bawah pengaruh minuman keras, namun Dito merasa tertarik dengan tingkah Adela yang penuh percaya diri dan supel ini, tentu saja di samping wajahnya yang cantik juga, tidak munafik seperti pria-pria lainnya, Dito juga merasa tertarik dengan wajah dan penampilan Adela yang begitu mempesona itu.
"Ckk, kamu terlalu berlebihan memuji ku, buktinya suami ku memilih untuk meninggalkan ku demi uang dan wanita lain, hanya karena wanita itu di anggap bisa menyelamatkan perusahaannya yang sedang dalam kesusahan, sementara aku hanya istri yang berasal dari panti asuhan dan di anggap tidak akan mampu membantunya, bukankah membantunya tidak hanya melulu dengan uang? Padahal aku bisa lho kerja di perusahaannya dan membantu mencari solusi kesulitan perusahaannya, dasar dia nya saja yang baji-ngan, mata keranjang, hidung belang, tidak setia, beren-gsek!" Umpat Adela yang mengabsen satu demi satu umpatan yang dia tujukan untuk Irwan saat dia kembali teringat bagaimana Irwan menalak dirinya tadi, dan bagaimana Linda tersenyum penuh kemenangan sambil mengejeknya tadi, membuat api amarah di dadanya kembali berkobar-kobar.
"Bagaimana kalau kamu kerja di perusahaan ku saja? Sepertinya aku butuh seseorang yang bisa membantu ku mencari solusi saat aku merasa kesulitan!" Dito menarik sebelah sudut bibirnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Berani menggaji ku berapa?" Tantang Adela.
Sontak saja mendengar hal itu membuat Dito terbahak,kali ini dia menemukan sosok wanita yang penuh tantangan dan sangat ingin dia taklukan.
"Berapa yang kamu minta?" Ujar Dito menantang balik, kata hati Dito mengatakan jika dia tidak boleh melepaskan Adela begitu saja, Adela terlalu menarik dan menantang untuk di lepaskan.
**
Selamat hari raya idul fitri bagi semua yang merayakannya, mohon maaf lahir dan bathin ya buat semuanya,,,🙏🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1