ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Halu-nya Riska


__ADS_3

"Awas saja kalau sampai aku tahu kau menyakitinya atau bahkan tidak mengurusnya dengan baik malam ini, aku akan mencari mu meski harus berurusan dengan kakak sepupu mu yang nota bene adalah sahabat ku dari zaman sekolah." Ancam Irwan sambil menatap tajam ke arah Bayu yang jelas-jelas sudah meniduri adk perempuannya bahkan tepat di depan matanya sendiri, namun sialnya pria itu malah keukeuh enggan untuk bertanggung jawab.


"Oh ayolah,,, kamu seperti tidak pernah muda saja!" ujar Linda sambil terus menarik lengan suaminya.


Sungguh hatinya sangat kesal malam ini karena rencana yang sudah di susunnya untuk menjatuhkan harga diri Adela di depan Irwan ternyata harus gagal total, sementara mengenai Riska yang akhirnya kini menjadi santapan Bayu, terus terang Linda tidak begitu peduli dan tidak mau ambil pusing, baginya apapun yang terjadi pada Riska selama itu tidak menguntungkan dan merugikan dirinya maka tidak akan peduli.


Begitu pun dengan Irwan, bukannya dia tidak ingin melindungi dan mengurusi adiknya sekarang ini, namun perkataan Linda ada benarnya juga, jika dia keukeuh membawa adik perempuannya dalam keadaan mabuk dan kacau seperti sekarang ini, tentu saja akan menjadi pertanyaan besar bagi ibunya, dan ibunya bisa gila jika sampai mengetahui masalah ini, jadi meninggalkan Riska bersama Bayu saat ini menurutnya adalah keputusan terburuk yang harus dia ambil untuk kebaikan semuanya, untuk ibunya, adiknya, dan juga dirinya tentu saja, betapa dia akan sangat di persalahkan oleh ibunya jika sampai ibunya tahu hal ini justru terjadi saat Riska sedang pergi bersama dirinya dan juga Linda.


**


Riska terbangun dari ranjang hotel dengan kepala yang masih terasa berat sekaligus pusing, pakaian yang semalam di pakainya masih tercecer di lantai, tubuh polosnya kini hanya di tutupi selimut tebal saja.


Riska tersenyum melihat kekacauan di kamar itu, terbayang kembali di benaknya betapa dahsyatnya pertempuran semalam, sehingga menyisakan ranjang dan keadaan kamar yang seperti kapal pecah.


"Cih, tidak aku duga jika dia ternyata se-panas itu di ranjang semalam, kemana dia pergi sekarang?" Gumam Riska dengan mata yang terus mememindai seisi ruangan mencari-cari sosok yang menjadi lawan duel nya semalam, namun sayangnya tidak ada satu orang pun di kamar hotel itu selain dirinya sendiri.


"Kak,,,Kak Dito!" Panggil Riska memanggil nama Dito, pria yang di yakininya telah menghabiskan malam dengan sangat panas dan dahsyatnya semalam dengan dirinya, dia tidak ingat sedikit pun jika pria yang dia pikir Dito yang telah menghabiskan malam dengannya itu tak lain dan tak bukan adalah Bayu, namun sama sekali di ingatannya tidak ada nama atau bayangan Bayu sedikit pun, sampai saat ini dia masih mempercayai jika yang melakukan semua itu dengannya adalah Dito, sehingga pagi ini dia merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Ah,, sepertinya kak Dito sangat malu, sampai harus pergi diam-diam seperti ini meninggalkan ku, atau-- dia memang harus pergi karena memang pagi ini dia harus pergi ke kantor?" Gumamnya lagi bermonolog, saat dirinya memeriksa kamar mandi di dalam kamar hotel, untuk mencari barangkali ternyata Dito berada di sana, namun ternyata memang hanya dirinya lah seorang diri yang tersisa di kamar itu, tidak ada orang lain lagi, Bayu pergi tak lama setelah Irwan dan Linda pergi, dia hanya memindahkan Risak ke atas kasur, lalu menggarapnya sekali lagi, setelah itu dia benar-benar meninggalkan Riska seorang diri di kamar hotel, dia tidak peduli dan tidak takut sedikitpun dengan ancaman yang di layangkan Irwan padanya sebelumnya, lagi pula siapa yang berani melawan keluarga Wijaya, apalagi hanya seorang Irwan yang hanya pengusaha level rendahan di mata Bayu, ancaman Irwan itu tidak akan membuat Bayu merinding barang sedikit pun.


"Ah shiiiiit,,, kantor? Bukankah aku aku juga sudah bekerja di sana? Aku harus bekerja juga hari ini, siaal,," ujar Riska menepuk jidatnya sendiri dan buru-buru membersihkan tubuhnya, karena dia juga harus pergi bekerja di perusahaan milik Dito yang membuat wajahnya kini terus berseri-seri dengan hati yang berbunga-bunga.


Karena belum terbiasa dengan pekerjaannya yang baru di jalaninya selama satu hari, Riska sampai lupa jika dia kini punya kewajiban lain selain kuliah.


"Maaf aku terlambat, tapi aku sudah meminta izin kak, eh pak Dito kok, untuk berangkat telat hari ini, kepala ku masih terasa ngilu," kata Risaka sat dia baru saja sampai ke kantor dan bertemu dengan Desi, Riska bahkan berbohong soal dia yang sudah meminta izin pada Dito mengenai keterlambatannya yang hampir tiga jam lamanya itu.


Lagi pula dirinya sudah melewati malam dengan Dito semalam itu artinya dirinya sudah sepenuhnya milik Dito, begi pun sebaliknya, jadi kalau hanya untuk maslah izin, jelas Dito tidak akan keberatan jika dirinya terlambat hanya beberapa jam saja masuk kerja.


Desi yang di ajak bicara oleh Riska hanya menganguk ma;las.


"Sudahlah, menerima kenyataan itu akan lebih baik mba, ikhlaskan saja,,, lagi pula jodoh itu tidak bisa di paksakan, toh?" Ceramah Riska pada Desi, pagi itu.


"Tentu saja aku tidak akan menyerah semudah itu, apalagi mengikhlaskan pria impian ku untuk wanita sundel, gak akan pernah. Kenapa sialbanget nasib ku melihat kejadian itu semalam, ah Dito,,, kamu membuat ku kecewa!" Ratap Desi, seraya menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangannya yang bertumpu di atas meja kerja miliknya, tak lama suara isak tangis Desi samar-samar terdengar, sepertinya wanita itu sangat sedih dan kecewa terhadap Dito.


"Maafkan aku mbak!" cicit Riska sambil mengeluskepala Desi, tak lupa dia juga menyunggingkan senyum sinis nya, seolah semakin membuktikan jika kebaikannya dan perhatiannya yang di lakukan Riska sekarang ini pada Desi hanyalah pura-pura belaka.

__ADS_1


Desi mengangkat wajahnya yang sejak tadi dia sengaja sembunyikan di atas tangannya, "Kenapa kamu harus minta maaf?" Tanya Desi justru bingung sekarang ini.


Desi menangisi kejadian semalam dimana dia melihat adegan Dito menembak Adela, namun untungnya Adela tidak menerimanya, namun begitu hal itu tetap saja membuat dia patah hati yang sangat dalam, karena akhirnya harus mengetahui dan melihat betapa pria yang beberapa tahun di menjadi bos sekaligus pria idamannya itu sudah mempunyai wanita pilihannya sendiri untuk di jadikan pendampingnya.


"Ya aku harus minta maaf, bagai mana pun aku sudah membuat mbak patah hati." Ujar Riska malah membuat Desi menjadi semakin bingung dengan maksud dari pembicaraan Riska kali ini.


'Apa mungkin dia masih mabuk sisa semalam?' gerutu Desi dalam hatinya melihat tingkah aneh Riska pagi itu.


"Ah sudahlah, lebih baik aku menemui kak Dito dulu, kebetulan aku membeli makanan untuknya, dia pasti terburu-buru berangkat ke sini dan lupa sarapan tadi!" Oceh Riska sambil menunjukkan sebuah kotak makanan yang akan dia berikan pada Dito, karena menurutnya Dito pasti belum sarapan karena terburu-buru meninggalkan kamar hotel.


Tok,,,tok,,,tok!


Riska bediri di depan pintu ruang kerja Dito sambil merapihkan anak rambutnya yang menjuntai di pipi, kali ini suasana hatinya memang terasa sangat bahagia, namun juga tidak dapat dia sembunyikan jika dirinya juga merasa gugup harus bertemu dengan Dito setelah semalam menghabiskan malam dengannya dengan sangat panas, (pikirnya).


"Masuk!" Teriak Dito dari dalam.


Namun ketika Riska membuka pintu ruang kerja Dito, dia di buat sangat terkejut sekaligus terkejut dengan apa yang di lihatnya di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Kak,, apa-apaan ini sebenarnya?!" Teriak Riska dengan penuh marah dan mata yang mentap tajam ke arah meja kerja Dito.


__ADS_2