
Dito berjalan ke sebuah kedai kopi di dekat kantornya, di sana sudah terlihat Irwan sedang duduk sendirian.
Ya, Dito memang mininta Irwan untuk melakukan pertemuan rahasia dengannya, tanpa ada Linda atau siapapun, hanya antar pria saja.
"Ada apa gerangan memanggil ku seperti ini, apa ini berhubungan dengan Riska dan Bayu? Jika iya, sungguh aku merasa malu dan sangat meminta maaf pada mu atas kelakuan adik perempuan ku yang telah membuat malu keluarga mu." Tebak Irwan yang mengira jika pertemuan mereka terkait masalah antara adik perempuannya dengan Bayu dan juga terkait ibunya yang datang ke kediaman orang tua Bayu.
"Tidak, bukan tentang itu, aku tidak mau ikut campur masalah antara adik permpuan mu dengan adik sepupu ku, mereka sudah besar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, lagi pula mereka punya keluarga yang lebih berhak untuk mencari jalan keluar terbaik bagi semua pihak, jadi aku rasa aku tidak perlu ikut campur dalam masalah itu." Kata Dito sat dia baru saja mendudukan dirinya di kursi yang letaknya berhadapan dengan Irwan agar dia lebih leluasa melihat ekspresi wajah Irwan saat nanti dia membahas masalah Adela.
'Bukan masalah mereka? Lantas?" Irwan menaikan sebelah alisnya.
"Masalah Adelia." Ujar Dito dingin namun terdengar sangat lugas.
"A-Adelia?" Ulang Irwan, dia tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"Ya Adelia istri kamu sakiti dan hianati bersama Linda, aku tidak tau bagaimana ceritanya dan aku juga merasa tidak perlu tahu masalah rumah tangga kalian seperti apa, yang jelas aku ke sini karena aku merasa sangat prihatin dan kasihan dengan Adel yang ternyata masih sangat mencintai mu, semalam dia mabuk dan berteriak-teriak jika dia ingin pulang, ingin kembali pada mu, kenapa kau begitu tega menyakiti hati dia? Adel memang selalu terlihat kuat di depan semua orang, aku juga baru sadar dan melihat semalam, betapa rapuh dan lemahnya perasaan dia, bagaimana bisa kau menjadi suami sekejam itu?" Ujar Dito menyampaikan pemikiran yang dia anggap itu suatu kebenaran, padahal adalah sebuah kesalah pahaman besar.
"Adel? Masih mencintai ku? Di-dia ingin kembali pada ku?" Mata Irwan berbinar, betpa dia bahagia mendengar kabar mengejutkan yang datang dari sahabatnya ini, karena jujur saja hari-harinya masih belum bisa melepaskan dengan keinginannya untuk memiliki Adel kembali.
__ADS_1
"Ya, dia mengatakan itu semalam meski dalam keadaan mabuk, tapi aku tau itu perkataan paling jujur dari hatinya. Aku sudah bejanji untuk mempertemukan mu dengan nya, makanya aku meminta mu untuk datang sendiri tanpa Linda. Dalam hal ini aku juga tidak ingin berpihak atau berhianat pada siapapun, baik kau maupun Linda adalah sahabat ku, tapi masalahnya aku sudah berjanji untuk membawa mu untuk bertemu dengannya, aku hanya memenuhi janji ku pada Adel, itu saja." Ujar Dito, ada rasa perih di dadanya saat dia mengatakan itu semua, dimana dlam bayangannya dia akan benar-benar kehilangan Adela karena dia telah mengembalikan Adela pada yang lebih ber hak.
"Maaf jika aku jadi melibatkan mu dalam masalah rumah tangga ku, jujur saja, aku sangat mencintai Adel,dan masih sangat mencintainya bahkan sampai saat ini, hanya saja aku harus menikah dengan Linda demi kelangsungan perusahaan ku, ini semua tuntutan keadaan, sungguh aku tidak berniat untuk menghianati Adel, apalagi sampai menceraikannya, sungguh." Adu Irwan mencurahkan isi hatinya.
"Itu semua keputusan mu, aku tidak bisa mengatur hidup mu, hanya saja aku menyayangkan dengan orang-orang yang mengambil jalan pintas untuk kepentingannya sendiri namun mengorbankan perasan orang lain, karena bagi ku, meraih kebahagiaan dengan menyakiti orang lain, apapun alasannya itu busuk!" kata Dito sinis.
Irwan terdiam, benar kata Dito apapun alasannya, di lihat dari sisi mana pun, dirinya memang tetap salah, namun jika ternyata benarapa kata Dito, kalau Adel masih mencintainya dan ingin kembali bersamanya, dia akan memperbaiki semuanya, dia akan memperbaiki hubungannya dengan Adela, ada pun mengenai Linda, dia akan memikirkannya nanti, yang penting saat ini dia harus menyelamatkan hubungannya dengan Adel terlebih dahulu.
"Dimana Adel, apa boleh aku menemuinya sekarang?" Tanya Irwan.
"Apa jaminannya kalau kau tidak akan menyakitinya lagi?"
"Lalu Linda?"
"Aku kan mengurusnya nanti, pernikahan aku dan Linda memang karena uang, tapi tidak semudah itu untuk ku mengakhiri semuanya, tapi untuk hal ini aku berjanji akan segera menyelesaikannya, kau bisa pegang kata-kata ku." Ujar Irwan yang tadinya mengira jika Dito ada hubungan khusus dengan Adela.
**
__ADS_1
"Tunggu,,, rumah siapa ini? Apa Adel tinggal di sini?" Tanya Irwan kebingungan saat Dito membawanya ke sebuah rumah mewah, Irwan memang tidak tahu jika rumah itu merupakan rumah milik Dito, karena setahunya Dito masih tinggal bersama orang tuanya.
Lantas kalau itu rumah Adela, dari mana mantan istrinya mempunyai uang untuk tinggal di rumah se-mewah itu, jangankan untuk membelinya, menyewanya pun sepertinya Adela tidak akan mampu., rumah itu terlihat beberapa kali lebih besar dan lebih mewah di banding rumah milik dirinya dan Linda yang di hadiahkan ayahnya Linda sebagai kado perkawinan mereka.
"Ya Adel tinggal di sini selama ini, dan ini rumah ku." Jawab Dito dengan santainya.
"Ka-kalian tinggal bersama?" Tanya Irwan, pikiran-pikiran buruk mulai muncul di kepalanya.
"Kami memang tinggal bersama, tapi aku bukan kau, jadi stop berpikir hal yang tidak-tidak tentang aku dan Adel." Tepis Dito yang seperti tahu apa yang di pikirkan Irwan saat ini.
"Anda sudah dat---" Adela yang mendengar suara Dito langsung berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu, namun ucapannya harus terhenti karena dia melihat Irwan bediri tepat di sebelah Dito, pria itu bahkan dengan tidak tahu malunya melemparkan senyum pada Adela.
"Ya, aku sudah datang Del," ujar Irwan dengan penuh percaya diri, membuat Adela merasa mual tiba-tiba melihat tingkah pria tidak tahu malu itu.
"Aku tidak menyambut mu, Aku menyambut pak Dito, pede amat sih jadi orang!" Kesal Adela.
"Jangan jual mahal seperti itu, jangan terus-terusan berpura-pura membenci ku, Dito sudah menceritakan semuanya pada ku, kalau kamu sangat merindukan ku, dan ingin kembali bersama ku, aku benar-benar senang mendengarnya Del, ternyata kamu merasakan rindu yang sama seperti yang aku rasakan," Irwan melangkah maju mendekat ke ambang pintu di mana Adela berdiri, dan mencoba meraih tangannya, namun seketika Adela mundur dan menepis tangan Irwan dengan kasar.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Pak Dito, apa maksud dari semua ini?" Adela menoleh ke arah Dito yang bingung dan mematung, karena rasa-rasanya dia sudah melakukan hal yang benar, memberikan apa yang Adela inginkan, yaitu kembali pada Irwan, namun mengapa justri Adela seperti marah padanya? Apa yang salah? Batin Dito.