
"Masuk!" Teriak Dito dari dalam.
Namun ketika Riska membuka pintu ruang kerja Dito, dia di buat sangat terkejut sekaligus terkejut dengan apa yang di lihatnya di dalam ruangan itu.
"Kak,, apa-apaan ini sebenarnya?!" Teriak Riska dengan penuh marah dan mata yang mentap tajam ke arah meja kerja Dito.
Riska lantas masuk dengan perasaan yang sangat jengkel, bahkan dia tak segan menggebrak meja di mana kini Dito dan Adela sedang membahas masalah pekerjaan di komputer yang terletak di meja kerja yang kini di gebrag Riska, membuat Adela dan Dito saling berpandangan karena merasa kaget dan juga kebingungan atas apa yang di lakukan Riska di ruangan itu yang datang-datang langsung marah tanpa tau apa sebabnya.
"Apa kau masih mabuk?" Tanya Adela dengan santainya.
"Diam kau wanita gatal, lebih baik kau pergi dari ruang kerja kekasih ku, berani-beraninya kau menggoda calon suami ku secara terang-terangan di hadapan ku!" Maki Riska sambil berkacak pinggang dan nada suara yang berapiapi penuh amarah.
"Ah,, sepertinya kau bukan mabuk, tapi gila!" kata Adela lagi sambil menyilangkan jari telunjuknya di jidatnya, tak lupa dia mengendikkan kedua bahunya seraya mengejek Riska yang bertambah murka melihat aksi Adela itu.
"Kak Dito, aku minta pecat dia sekarang juga! Apa kak Dito rela calon istri kakak di hina seperti itu bahkan di depa kakak secara langsung!" Ujar Riska lagi.
__ADS_1
"Calon istri?" Beo Dito kebingungan.
"Iya, calon istri, kakak sudah menikmati tubuh ku semalam, apa kakak menolak untuk bertanggung jawab? Atau kakak mau aku memberitahu semua orang bagaimana panasnya permainan kita semalam, biar semua orang tahu jika aku dan Kak Dito sudah tidak mungkin bisa di pisahkan lagi, karena kita sudah melakukan hal sejauh itu, bahkan mungkin karena pergumulan kita semalam akan menghasilkan putra atau putri yang cantik di perut ku, bisa saja,kan?" Oceh Riska terus menyeroscos menyampaikan omong kosongnya.
"Wah,,, tak tertolong lagi kalau sudah begini ceritanya, silahkan anda bertanggung jawab, pak. Saya tidak ikut-ikutan!" Adela menahan tawanya dan berusaha untuk meninggalkan Dito dengan Riska di ruangan itu.
Namun tangan Dito dengan cepat menarik lengan Adela, sehingga tubuh Adela yang kurus itu tersentak lantas terduduk di pangkuan Dito secara tidak sengaja.
"Jangan sembarangan kalau bicara, kau tahu kalau aku tidak melakukan hal itu, diam di sini dan jangan tinggalkan aku sendirian dengan wanita tidak waras itu." Geram Dito berbisik di telinga Adela, sehingga membuat tubuh Adela seketika meremang hebat.
Bukannya Dito tidak berani menghadapi Riska seorang diri, hanya saja, dia takut kelepasan melakukan hal kasar pada Riska, bagaimana pun Riska aalah adik dari sahabatnya, dia akan merasa sangat tidak enak hati pada Irwan dan juga Linda jika sampai terjadi sesuatu pada Riska. Setidaknya jika ada Adela di sana, akan ada saksi jika Riska mengatakan atau berkoar yang tidak-tidak atas kejadian hari ini.
"Arrrggghhh,,, kalian ini apa-apaan, kalau mau menyelesaikan masalah, ya selesaikan sendiri, jangan bawa-bawa aku segala!" Kesal Adela yang akhirnya berdiri dari pangkuan Dito, lantas dia menyingkirkan tangan Riskan yang masih menarik lengan bajunya.
"Syukurlah kau tau diri, janda gatal!" umpat Riska.
__ADS_1
"Setidaknya aku tidak menjadi wanita halu seperti mu, bangga sekali kau berkoar telah berzina, apa namanya itu kalau bukan gatal dan murahan?" Cemooh Adela.
"Siapa yang kau bilang halu itu hah? Aku memang sudah tidur dengan nya, kenapa? Kau iri?" Teriak Riska.
"Riska cukup, jangan sampai semua orang tau jika semalam kamu---" Dito bahkan tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang di lakukan Riska pada malam tadi, dia masih erusaha menjaga agar kejadian itu tidak sampai menyebar di kalangan orang kantor, terlebih nama baik keluarga Wijaya pun akan terseret karena Riska melakukannya dengan Bayu, dalam hal ini Dito berusaha menjaga nama baik kedua belah pihak.
"Kenapa kak? Kenapa? Kakak malu kalau semua orang tahu kita sudah melakukan itu semalam? Padahal semalam kakak tidak malu untuk melucuti pakaian ku, dan menjamah tubuh ku penuh napsu dan cinta, kenapa aku tidak boleh mengatakannya pada semua orang? Pantas saja kakak tadi pagi meninggalkan ku sendirian di kamar hotel, apa kakak malu pada ku atas apa yang telah terjadi dengan kita semalam, atau kakak ingin menyangkal mengatakan aku halu seperti yang di katakan wanita iblis itu?" Beber Riska yang sengaja mengatakan semua itu dengan lantang karena tahu jika kini beberapa karyawan tengah berkumpul di sekitar ruangan Dito dan mereka sedang mencuri dengar atas keributan yang terjadi di ruang kerja bos nya itu, Riska sengaja mengatakan semua itu agar semua orang mendengar dan tahu akan hubungan yang terjadi antara dirinya dan Dito, pikirnya.
Dito kini tidak bisa berdiam lagi, jika dirinya terus membiarkan Riska berkoar dan dia memilih diam demi menyelamatkan nama baik keluarga Wijaya dan juga nama baik Risaka dan keluarganya, maka bukan tidak mungkin maka namanya lah yang akan hancur di sini, apalagi di luar karyawannya semakin kepo dengan cerita ini, mereka mulai berbisik-bisik mengemukakan asumsi mereka masing-masing yang tentu saja hanya berdasarkan tebak-tebakan dan praduga.
"Apa kita bisa berbicara baik-baik? Tidak harus berbicara di depan banyak orang seperti ini?" Pinta Dito yang masih memberi wajah pada Riska agar Riska tidak mendapatkan malu atas kebenaran yang mungkin akan menamparnya.
"Tidak! Katakan semuanya di sini, agar semua orang mendengar dan tahu yang sebenarnya, akui semuanya!" Ujar Riska keras kepala.
"Oke, kalau itu mau mu, jangan salahkan aku. Benar kamu memang melakukan perbuatan terlarang itu semalam di hotel, tapi-- bukan engan ku melainkan dengan Bayu, adik sepupu ku, jika kamu tidak percaya, tanyakan pada kakak dan kakak ipar mu yang juga berada di sana, karena jika aku atau Adel yang mengatakan hal itu kamu tidak akan percaya meski aku dan Adel ada di sana tadi malam menyaksikan semuanya." Urai Dito, bukannya kejam atau tidak punya hat, hanya saja semua harus di luruskan , jangan sampai Riska terus keukeuh dengan asumsinya sendiri dan menyeret namanya sehingga nantinya akan memberi banyak masalah untuk dirinya, padahal dia sama sekali tidak terlibat dalam masalah Riska dan Bayu.
__ADS_1
"Tidak! Kak Dito bohong, ini pasti ulah kau waita ular! Kau pasti yang sudah meracuni pikiran kak Dito sehingga kak Dito jadi membenci ku, kau,, kaulah yang sebenarnya tidur dengan Bayu, bukan aku, Dia,, dia yang tidur dengan Bayu kak,,, aku berani bersumpah, kenapa jadi aku? Ini salah paham!" teriak Riska panik, dia juga kebingungan mengapa ceritanya jadi tidak sesuai dengan apa yang di rencanakan dan dengan apa yang ada dalam pikirannya.