
Hai suami, hai, hai ibu mertua, selamat ulang tahun adik ipar ku tersayang! Dan hai perebut suami ku!" Ujar Adela seraya melempar senyum pada Sari, Linda dan Riska yang terdiam membodoh melihat Adel yang tampil sangat cantik sehingga Riska yang sedang berulang tahun dan seharusnya menjadi bintang malam itu malah kalah saing dengan penampilan Adela yang sengaja berpenampilan cetar malam ini.
"Adel, bagaimana kamu bisa di sini?" Tanya Irwan.
**
Beberapa waktu lalu,
Adela merasa bosan, malam ini dia berencana ke tempat hiburan malam untuk membunuh rasa bosannya, kehidupannya di masa lalu dia biasa pergi ke klub atau tempat hiburan malam lainnya sekedar untuk bersenang-senang bersama teman-temannya, namun karena ini di masa duapuluh empat tahun yang lalu dimana dirinya pun belum di lahirkan ke duania, dia tidak punya teman, terlebih Adel si pemilik tubuh pun tidak punya banyak teman selain mbok Yum , dan suaminya di sini.
Sehingga akhirnya Adela memesan taksi dan menuju ke sebuah klub yang berada di sebuah hotel berbintang, namun ternyata tanpa di sengaja, saat dirinya melewati ballroom hotel itu dia melihat Irwan beserta keluarga dan istri sirinya sedang berada di sana, tertarik dengan situasi itu, dia menghentikan langkahnya dan mengamati perbincangan mereka dan mengamati Sari yang sedang 'menawarkan' putrinya pada seorang pria.
"Cih, dasar emak-emak tak punya harga diri, anak sendiri di sodor-sodorkan seperti itu." Decih Adela.
HIngga akhirnya Adela memutuskan untuk menghampiri suami dan keluarga besarnya yang sedang mengadakan pesta tanpa dirinya itu.
**
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku tidak boleh memberikan selamat pada adik ipar tersayang ku ini? Oh, seharusnya kamu memberi tahu ku jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga kakak ipar tercinta mu ini bisa menyiapkan hadiah yang istimewa buat mu!" Ujar Adela seraya melirik ke arah Riska yang terlihat sangat marah dengan kehadiran Adela yang tidak di harapkan kehadirannya itu, apalagi kehadirannya saat ini mencuri perhatian semua orang, mulai dari teman-temannya hingga para kolega bisnis kakaknya saat ini yang kebetulan ada beberapa parter bisnis Irwan yang masih single di undang ke acara itu atas permintaan Sari karena barangkali satu di antaranya tertarik dengan Riska dan menjadi menantunya kelak.
"Apa kau sengaja datang untuk mengacaukan acara ulang tahun putri ku? Tidak ada yang mengharapkan kehadiran mu di sini, makanya kau tidak kami undang, sekarang pergilah, sebelum petugas keamanan menyeret mu dari sini!" Geram Sari yang wajahnya langsung berubah menjadi se-merah tomat karena kehadiran Adela, terlebih saat ini ada Prabu yang juga berdiri tak jauh dari mereka, dia tidak mau jika besannya salah sangka dan mengira dirinya sengaja mengundang menantu tak bergunanya itu, karena jika hal itu terjadi maka akan sangat membahayakan karena Prabu bisa saja membatalkan investasinya di perusahaan Irwan.
"Tentu saja tidak sengaja ibu, aku tadi kebetulan hanya lewat dan melihat kalian sedang berpesta di sini tanpa aku, jadi aku kepo," ujar Adela.
"Kepo?" Beo Sari dan Riska mengernyitkan kening, tidak tahu apa yang di maksud Adela.
"Ah,, aku lupa kalau kalian berasal dari jaman batu, gak akan mengerti istilah-istilah yang aku pakai." Gumam Adela yang terkadang masih suka keceplosan menggunakan istilah-istilah dari masa nya.
"Adel," panggil Irwan lirih.
Jujur saja kini Linda merasa sedikit kehilangan kepercayaan dirinya jika harus di bersaing dengan Adel.
"Tapi,,," cicit Irwan mengurungkan niatnya untuk mendekat ke arah istrinya karena ancaman yang di layangkan Linda padanya.
Sungguh Irwan menjadi tidak bisa berkutik jika itu mengenai perusahaannya yang memang sedang menghadapi masalah keuangan itu.
__ADS_1
"Kenapa mas? Kemarin bahkan kita baru saja menghabiskan hari dengan berbelanja dan bersenang-senang berdua, kenapa sekarang ini kamu terlihat seperti menjaga jarak dengan ku? Padahal kalau di rumah kamu selalu menempel pada ku setiap waktu." Ujar Adela sengaja mengatakan itu setelah dia dapat mendengar apa yang di ucapkan Linda pada suaminya.
Sekalian juga dalam hal ini dia ingin melihat bagaimana suaminya akan bersikap dalam situasi seperti ini, sehingga dia bisa dengan mudah untuk menentukan langkah apa yang akan dia lakukan setelahnya.
Mendengar hal itu wajah Linda seperti mengeluarkan asap karena menahan marahnya, padahal kemarin saat dirinya meminta antar untuk di temani shopping, suami sirinya itu mengatakan kalau dia sedang sibuk dan ada beberapa rapat yang harus di hadirinya, namun ternyata kenyataannya dia malah asik menghabiskan uang bersma Adela, meskipun seharusnya dia tidak berhak untuk marah karena sejatinya Adela lebih berhak ataas Irwan di bandingkan dirinya, namun sifat dominan dan rasa jika Irwan sangat membutuhkan dirinya membuatnya di penuhi ego diri yang tidak mau jika Irwan bersama wanita lain meskipun itu istri sah nya yang dia nikahi sebelum dirinya menjadi istri Irwan.
"Usir dia dari sini sekarang juga, dan kalau perlu ceraikan dia sekarang juga, jika tidak ingin kehilangan perusahaan mu di malam ulang tahun adik mu ini, kamu tahu apa yang bisa ayah ku lakukan, membuat perusahaan mu hancur adalah hal yang sangat sepele baginya, lihatlah, ayah sedang memperhatikan kita!" Geram Linda mengancam.
Sungguh Linda tidak ingin kehilangan wajah di hadapan para tamu yang tidak tahu jika dirinya hanyalah istri kedua dari Irwan.
"Adel, sebaiknya kamu pulang!" Ujar Irwan tidak ingin ada keributan lain di pesta adiknya sehingga menjadi tontonan banyak orang, dan yang lebih penting lagi, dirinya tidak ingin kehilangan investasi yang akan di berikan Prabu padanya.
"Aku akan pergi dari sini dengan satu syarat," tatapan mata tajam Adela menusuk langsung tembus ke dada Irwan.
"Katakan apa yang kamu inginkan, aku akan penuhi itu," pasrah Irwan, dia masih bisa membelikan perhiasan atau apapun yang Adel mau saat ini asal istrinya itu mau meninggalkan tempat itu.
"Ceraikan aku saat ini juga, jatuhkan talak pada ku saat ini juga, maka aku akan pergi dari sini!" Tegas Adela.
__ADS_1
Bagai terkena hantaman kecang di dadanya, Irwan bahkan sampai terhenyak saat mendengar permintaan istrinya itu, dia tidak menyangka jika Adel akan berani meminta dirinya untuk menceraikannya, padahal jujur saja dia tidak ingin kehilangan Adel, namun juga dia tidak ingin kehilangan perusahaan dan hanya dengan bersama Linda sia bisa menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.
Sungguh ini pilihan yang sangat sulit, dan sialnya harus dia putuskan saat ini juga.