ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Kabur


__ADS_3

Berkat Dito yang keukeuh pergi mencari bantuan tetangga sekitar, akhirnya dia bisa menghubungi Linda, entahlah saat itu satu-satunya orang yang terlintas untuk di mintai pertolongan adalah Linda.


Selain itu, Linda juga mungkin tau keberadaan suaminya, Dito juga mau tidak mau harus memberi tahu apa yang terjadi dengan Adela yang di bawa pergi Irwan, sungguh Dito tidak percaya jika Adela pergi atas kemauannya sendiri seperti yang Riska pernah katakan padanya.


Riska yang saat itu akhirnya terpaksa di tinggal Dito untuk mencari pertolongan sudah tidak ada di Villa saat Dito dan Linda kembali ke sana untuk menjemput nya yang tadi mengaku pusing dan sempat pingsan, entah kemana dia menghilang.


"Riska tau jika kakaknya pergi bersama Adel?" tanya Linda dengan agak geram saat dirinya menjemput Dito di Villa yang ternyata merupakan milik keluarga Linda itu.


"Iya, dia mengajak ku ke sini karena dia curiga jika kakaknya membawa Adel ke tempat ini." Terang Dito.


"Sial, apa Riska mulai berani menghianati ku seperti kakaknya? Dia bahkan tidak mengatakan apapun pada ku." Kesal Linda.


"Aku tidak tau, yang jelas kita punya tujuan yang sama, mencari keberadaan Irwan dan Adel, sebaiknya kita bekerja sama."


Di sepanjang perjalanan Dito juga menceritakan bagaimana dia akhirnya bisa tahu mengenai hubungan Adel dan Irwan yang sebenarnya, karena Linda masih merasa bingung tiba-tiba Dito mengetahui cerita yang selama ini mereka sembunyikan itu, Dito juga menceritakan jika Adela sudah meminta Irwan untuk menceraikan dirinya secara baik-baik, namun Irwan menolaknya, sehingga akhirnya Adela mengajukan berkas perceraian itu sendiri di bantu oleh tim pengacara milik keluarga Wijaya, namun ternyata tiba-tiba ada kejadian seperti ini.


"Berarti Riska juga yang memberi tahu mu tentang itu semua?" Kesal Linda saat Dito mengangguk mengiyakan pertanyaan Linda.


Saat ini Linda tidak hanya merasa di hianati oleh suaminya, namun juga oleh adik iparnya yang selalu dia bantu dan kasih semua yang dia minta, namun balasannya malah menusuknya dari belakang.


"Aku mencintai Adel, begitu pun sebaliknya, kami bahkan berniat untuk segera menikah setelah urusan perceraian selesai, aku tidak percaya jika Adel melarikan diri dengan Irwan, maaf aku rasa suami mu menculik kekasih ku." Kata Dito.

__ADS_1


"Tenang saja, aku sepertinya tahu dimana mereka berada, ayo temui mereka dan kita akan tahu apa yang terjadi sebenarnya." Linda tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya saat mendengar cerita panjang lebar yang di tuturkan Dito padanya.


**


Sementara di tempat lain,


Adela akhirnya berhasil keluar dari rumah tempat dirinya di sekap oleh Irwan, saat Irwan sedang mandi, Adela keluar lewat jendela kamarnya yang kebetulan tidak berteralis, sehingga memudahkan dia untuk keluar, sudah sejak semalam Adela memperhatikan jendela itu, namun baru ada kesempatan sekarang ini untuknya kabur.


Adela masih sangat hapal dengan seluk beluk kaasan itu, sehingga tidak terlalu sulit untuk dirinya bersembunyi dan menemukan jalan rahasia agar Irwan tidak bisa menemukannya, selain berhasil membawa tasnya, Adela juga berhasil mengambil dompet Irwan sehingga dia tidak akan kehabisan uang dalam pelariannya.


Dari kejauhan Adela dapat melihat jika Irwan rupanya sudah menyadari jika Adela kabur dari rumah itu, terbukti dengan kini pria itu terlihat berlari mencari-cari Adela di sepanjang jalan.


Di persimpangan jalan Adela menemukan banguan wartel (warung telekomunikasi) yang hits pada jaman itu dimana tidak semua orang memiliki alat komunikasi seperti telepon rumah dan ponsel, sehingga banyak tempat yang menydiakan jasa telepon umum.


"Mau nelpon neng?" Tanya pria berumur sekitar 27 tahunan itu menyapa dengan sopan.


Alih-alih menjawab, Adela malah terbengong memperhatikan tompel yang berada di pelipis pria itu, bukan berniat tidak sopan, namun Adela seperti tidak asing dengan wajahnya.


"Mang Wawan?" Cicit Adel.


Pria itu mengernyit "Kenapa neng tau nama saya? Lantas mengapa neng manggil saya mang? Emangnya saya mamang tukang cilok?"

__ADS_1


"Ah, maaf. Pak Wawan, bang Wawan, saya kenal anda tapi saat ini bukan satmnya bercerita, saya butuh bantuan anda, saya ingin menelpon seseorang, berapa saya harus membayarnya?" Adela membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang padanya.


"Ini banyak sekali neng, pakai saja dulu teleponnya, bayar nanti sesuai tarif tertera." Kata pria itu menerangkan.


Pria itu terlihat bingung, karena dari dandanan Adel dia terlihat dari kalangan orang berada dan rapi, tapi tidak tau bagaimana cara membayar telepon umum.


"Oh begitu, uangnya abang simpan saja, kalau kurang saya tambah lagi,"


Namun setelah Adela masuk ke bilik telepon dia keluar lagi.


"Ada apa neng?'


Adela menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia baru sadar jika dia tidak tau harus menghubungi siapa., terlebih tidak ada satu orang pun yang dia ingat nomor teleponya, baik itu Dito, maupun nomor kantor nya.


"Saya tidak ingat nomor nya," cengir Adela.


Namun sejurus kemudian Adela tiba-tiba buru-buru masuk kembali ke dalam bilik dan berjongkok untuk bersembunyi di dalam sana saat terlihat Irwan berjalan menuju ke arahnya.


"Permisi, apa anda melihat seorang wanita memakai celana kain berwarna biru dan blouse putih lewat ke arah sini? Atau mampir ke sini?" Tanya Irwan.


Pria bernama Wawan itu gelagapan, ujung matanya sempat melirik ke arah bilik dimana Adela bersembunyi.

__ADS_1


Adela menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya seraya mengisyaratkan pada Wawan untuk tidak memberi tahukan keberadaan dirinya di sana.


"Apa anda melihatnya? Saya akan memberikan hadiah uang untuk anda jika anda menemukan waita itu, dia mencuri uang dan dompet ku!" bohong Irwan yang membuat Wawan galau antara harus mengatakan dimana keberadan Adela, atau menyembunyikannya.


__ADS_2