ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
napak tilas


__ADS_3

"Hah, kakek buyut mu? Kamu keturunan konglomerat dong! Siapa kakek mu, si-siapa ayah mu, Dito atau Bayu?" Adela terlonjak dari kasurnya dang langsung menghampiri Wini yang sedang duduk di sofa seberang ranjangnya.


Jika Wini merupakan cucu buyut dari Teguh Wijaya, maka ayah Wini hanya ada dua kemungkinan, Dito atau Bayu, karena setahu Adela, Teguh Wijaya hanya punya dua orang cucu dari dua orang putranya.


Wini mengernyit, "B-bagaimana kamu bisa mengenal keluarga mereka?"


Satu hal lagi yang membuat Wini merasa aneh, adalah cara penyebutan Adela pada ayah dan pamannya yang tanpa embel-embel pak atau om, tapi langsung menyebut nama seperti menyebut teman sebaya saja.


"Katakan, siapa ayah mu!" Adela terlihat sangat penasaran dan tidak sabar menunggu jawaban Wini.


"Wait,,, almarhum ibu mu bukan bernama Adelia, tapi Dania, berarti kamu bukan anak dari Dito dan Adelia,,," gumam Adela yang masih mengingat nama ibu kandung Wini, karena dia sempat beberapa kali menemani Wini berziarah ke makam ibunya, dan dia sempat membaca tulisan di nisannya.


"Del, dari mana kamu tahu tentang silsilah keluarga ku? Dari mana kamu tahu nama istri om Dito?" tanya Wini penuh tanda tanya.


"Kalau kamu memanggil Dito dengan sebutan om, berarti kamu anak Bayu, iya kan?" tenak Adela.


"Dito, Bayu,,, mereka om sama ayah ku Del, bukan teman sebaya kita!" ketus Wini.


Adel menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, dia sungguh lupa jika di waktu sekarang ini usia mereka sudah lebih dari 40 tahunan, jadi memang sangat tidak tepat jika Adela memanggil Dito dan Bayu seperti itu, karena terdengar tidak sopan.


"Upss, sorry, sungguh aku tidak sengaja, anu---udah kebiasaan." ujarnya.


"Kebiasaan?" Wini tambah melongo mendengar penjelasan Adela yang justru semakin membuatnya bingung.


"Ah sudahlah, lupakan! Jadi benar kan, ayah mu bernama Bayu?" tanya Adela lagi.


Wini mengangguk pelan meski masih merasa bingung dengan sikap Adela.


"Almarhum ibu mu menikah dengan Ba- sorry pak Bayu?" geli rasanya Adela harus menyebut Bayu dengan sebutan Pak Bayu, namun apa mau di kata, kini umur mereka terpaut sangat jauh, tidak patut jika dia hanya menyebut namanya saja, terlebih itu ayahnya Wini.


Kali ini Wini menggeleng pelan, "Tidak!"

__ADS_1


Adela mengernyitkan keningnya, tidak mengerti.


"Ibu ku adalah simpanan dari ayah ku, mereka berpacaran namun tidak menikah, karena ayah ku sudah punya istri." terang Wini, yang masih merasa bingung mengapa tiba-tiba Adela sangat tertarik dengan silsilah keluarganya.


"Oh sial,, dia masih saja bajingan seperti dulu," gumam Adela.


"Kenapa Del?" tanya Wini yang tidak begitu mendengar apa yang di ucapkan Adela.


"Ah tidak,,, tidak! Tapi kamu masih berhubungan baik dengan ayah mu?"


"Terkadang kami masih bertemu, dia juga masih memberi ku uang, rencananya akhir bulan ini aku akan menemuinya, untunglah kamu sudah membaik, jika tidak aku lebih memilih untuk menemani mu di sini saja!" ujar Wini.


"Apa aku boleh ikut menemui ayah mu? Dia masih tinggal di kota S kan?"


"Dari mana kamu tau ayah ku tinggal di sana?"


"Ah, keluarga ayah mu itu keluarga terkenal, sangat gampang mencari tau tentang keluarga mereka, ayolah aku ingin ikut dengan mu, ya,,, ya,,, boleh ya?" rengek Adela.


"Ta-tapi kamu masih---"


Berjasa? Berjasa apa? Pikir mang Wawan, tubuhnya merinding dan merasa miris melihat anak tuannya yang kini bersikap aneh, dan mang Wawan mengira jika ada cedera otak yang terjadi pada Adela sehingga membuat wanita itu menjadi seperti sekarang ini, namun bagaimana pun, jika urusannya kenaikan gaji, mang Wawan angguk-angguk saja, rezeki mana boleh di tolak, pikirnya.


**


Adela senyum-senyum sendiri saat kini dia berada di kota tempat ayah Wini berada, setelah perdebatan yang alot denga nkedua orang tuanya, akhirnya Adela di izinkan untuk ikut bersama Wini, dengan sederet peraturan dari ayah dan ibunya, lagi pula mang Wawan juga ikut menemani perjalanan Adela dan Wini sehingga orang tua Adela lumayan tidak begitu khawatir.


"Kenapa Del? Kayaknya bahagia banget liat jalanan? Bentar lagi sampe ke rumah ayah ku, tuh!" kata Wini sambil menunjuk ke arah depan.


"Iya tau, setelah belokan di ujung jalan itu, kan?" tebak Adela.


Wini melotot, "Bagaimana kamu bisa tau Del? Jangan bilang setelah kamu tidak sadarkan diri kemarin kamu jadi punya ilmu meramal!"

__ADS_1


"Ish,, mana ada, itu karena aku sangat akrab dengan kota ini." kata Adela yang terus melihat ke arah luar jendela, seolah dia sedang napak tilas perjalanan dirinya puluhan tahun lalu.


"Akrab? Rasa-rasanya kamu belum pernah ke sini deh, kapan?"


"Ah,, kamu gak bakal percaya kalau aku ceritain, udah jangan ganggu!" Adela mengibaskan tangannya meminta Wini untuk tidak usah mengganggu keasikannya.


Mobil yang di kendarai Mang Wawan masuk ke sebuah gerbang rumah mewah namun bergaya klasik.


Adela terpaku di depan rumah mewah itu, dia teringat kala dia mendatangi rumah ini untuk menghadiri pesta ulang tahun Teguh Wijaya, yang tak lain merupakan kakek buyut Wini.


"Hey, ayo cepat, masuk!" ajak Wini.


Langkah Adela kembali terhenti saat melihat beberapa foto tergantung di dinding ruang tamu.


"Ini almarhum kakek ku, Hendra Wijaya, dan ini foto almarhum kakek buyut ku Teguh Wijaya, bukankah kau ingin tahu silsilah keluarga Wijaya?" ledek Wini.


"Hemh, dan itu,,, Anton Wijaya, apa dia juga sudah---" Adela menunjuk foto ayah Dito yang juga tergantung di sana.


"Itu kakek ku, dia sudah almarhum juga, sama seperti kakeknya!" seorang pria muda yang usianya beberapa tahun di ats Adela dan Wini datang menyambut kedatangan Wini dan Adela.


"D-Dito?" gumam Adela, wajah pria itu sangat mirip dengan Dito.


"Hey, jangan gila, itu kakak sepupu ku, Dito itu nama ayahnya!" geram Wini melotot ke arah Adela yang masih terpaku menatap wajah pria yang wajahnya snagat mirip dengan Dito itu.


"Hai kak, kangen sekali rasanya lama tidak bertemu," Wini menyalami pria muda itu.


"Makanya aku sengaja datang ke sini saat aku tahu kamu akan pulang, hai teman Wini,, aku Saga kakak sepupu Wini!" sapa pria itu melambaikan tangannya dan menyapa Adela dengan ramah.


"Ah,, hai,,," gugup Adela masih belum bisa mengalihkan pandangannya pada pria bernama Saga itu.


"Hush,,, udah jangan di liatin terus, kakak sepupu ku emang ganteng, kamu pasti naksir ya?" ledek Wini.

__ADS_1


Adela tersenyum canggung, 'Naksir?' batin Adela, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bagaimana bisa naksir, jika ayahnya dulu pernah sangat akrab dengannya.


__ADS_2