
Irwan hanya terdiam dan pura-pura tidak memperhatikan saat Linda dan Riska dengan serunya membahas tentang pertemuannya dengan Adela pada Sari saat mereka sedang makan malam berama di rumah yang dulu di tempati Adela dan Irwan, namun kini sudah mereka tempati.
Dalam hati Irwan terus bertanya-tanya bagaimana bisa mantan istrinya itu berubah dengan begitu cepatnya, sementara dia sangat tahu bagaimana kehidupan dia sebelumnya, boro-boro mengendarai mobil, mengendarai motor saja mantan istrinya itu tidak bisa karena dia seorang penakut, sehingga dia meraa apa yang di bicarakan istri dan adiknya itu hanya mengada-ada saja.
'Tidak, itu tidak mungkin!' Gumamnya yang hanya berani dia ucapkan dalam hatinya saja.
"Wan, apa kamu pernah membayarkan dia kursus mengemudi?" Tanya Sari penasaran.
"Tidak pernah," Irwan menggeleng.
"Ini aneh, mustahil jika dia tiba-tiba bisa begitu saja, lagi pula mobil mewah milik siapa yang dia pakai? Apa dia jadi simpanan om-om sekarang?" Linda memanas-manasi keadaan, sungguh bahagia sekali dirinya bisa menjelek-jelekan Adela di depan suaminya itu.
"Cepat ceraikan dia kak, jangan sampai kita ikut malu karena dia tiba-tiba ketahuan melacur," Riska ikut menambah-nambahi.
"Jangan sembarangan bicara jika kalian tidak punya bukti!" Entah mengapa rasanya muncul perasaan todak terima saat mendengar Adela di hina oleh istri dan keluarganya saat ini, membuat Irwan kehilangan selera makannya dan meninggalkan meja makan begitu saja.
"Irwan, sayang,,, kenapa sih, masih saja akmu belain wanita itu?" Teriak Linda sambil berlari mengejar Irwan.
__ADS_1
"Aku bukan membelanya, hanya saja kalian terlalu melebih-lebihkan, lagi pula bukankah dia sudah bersedia bercerai dengan ku, dan juga meninggalkan rumah ini, dia bahkan tidak menuntut apapun dari ku, lantas apa lagi yang kamu permasalahkan?" Geram Irwan karena merasa istrinya dan juga ibu serta adiknya seolah selalu sengaja mencari-cari masalah dengan mantan istrinya yang menurutnya sudah terlalu banyak mengalah itu.
"Selama belum ada surat cerai dari pengadilan agama di antara kalian berdua, aku tidak akan pernah berhenti mencari masalah dengan wanita itu, jadi,,, jika kamu keberatan aku mengusik mantan istri mu itu, maka cepatlah urus perceraian kalian, sehingga status pernikahan kita segera di akui secara hukum dan negara bukan hanya secara siri saja." Sembur Linda yang selalu terngiang-ngiang ledekan Adela yang selalu menyebutnya dengan sebutan istri siri padanya dengan nada yang mengejek.
"Iya, aku akan mengurusnya!" Jawab Irwan sambil berlalu karena dia tidak mau berdebat lebih jauh lagi dengan Linda yang nantinya bisa di pastikan akan merembet sampai ke mana-mana entah itu ke perusahaan dan juga ke investasi ayahnya yang selalu menjadi senjata baginya.
"Aku ngantuk, lagi pula besok aku ada rapat pagi." Sambung Irwan lagiberalasan.
"Sayang, Tuan Namoto sedang berada di kota ini sekarang, dia akan mengadakan jamuan makan malam besok, bagaimana jika kita menghadiri acara itu, ayah ingin memperkenalkan kamu pada dia, siapa tahu dia tertarik untuk investasi di perusahaan mu, lagi pula akan banyak pengusaha hebat yang datang ke sana besok." Ajak Linda.
"Tuan Namoto pebisnis terkenal yang dari Jepang itu?" Sari langsung runcing telinganya jika membahas masalah pengusaha kaya raya.
"Wah, acara bagus tuh, kalian harus berangkat, ini peluang besar untuk perusahaan mu Wan, jangan lupa ajak adik mu untuk ikut serta datang ke acara itu, siapa tahu ada pengusaha hebat yang nyantol." Ujar Sari yang ujung-ujungnya tetap saja berusaha ingin menjodohkan Riska dengan pria kaya raya.
"Ish, apaan sih bu, aku gak mau. Aku maunya cuma sama kak Dito aja, titik. Kalau bukan kak Dito aku gak mau nikah sama cowok mana pun!" Ujar Riska yang selalu kesal jika ibunya mulai menjodoh-jodohkan dia dengan pria sesuka hatinya seolah dirinya itu wanita yang tidak laku, padahal umurnya tahun ini saja baru akan genap dua puluh tahun, terlebih dia hanya mau Dito yang harus menjadi pendampingnya, dia tidak bisa berpaling dari cinta pertamanya itu, dia tidak peduli jika sampai saat ini Dito belum pernah menunjukkan respon pada dirinya, baginya dia tidak akan mundur dan akan terus berusaha untuk mendapatkan dan meluluhkan hati Dito sampai dia menjadi miliknya.
"Eh jangan salah, Dito juga pasti datang, terlebih ayahnya kini sedang ada proyek kerja sama dengan tuan Namoto, tentulah dia akan hadir." Kata Linda, membuat wajah Riska langsung berseri-seri dengan mata yang langsung bersinar.
__ADS_1
"Aku ikut ya kak, pliss!" Pintanya menoleh secara bergantian ke arah Linda dan Irwan sang kakak yang hanya mengendikkan kedua bahunya pertanda 'terserah!'.
Sontak saja hal itu membuat Riska bersorak kegirangan, "Yeay,,, besok kita belanja baju buat ke acara itu ya mbak!" Seloroh Riska yang langsung di angguki Linda dengan semangat, karena mereka berdua sama-sama hoby belanja dan berfoya-foya.
**
"Malam ini kamu datang ke hotel S untuk menghadiri acara jamuan makan tuan Namoko, kamu menemani ayah untuk menjadi penerjemahnya, jadi kamu berangkat duluan, dan aku akan berangkat sedikit telat karena sore ini masih harus menyelesaikan sedikit pekerjaan di sini." Kata Dito yang saat ini masih berada di luar kota dan menghubungi Adela melalui saluran telepon kantornya.
"Oke, siap bos, laksanakan!" Jawab Adela dengan santainya.
Ballroom hotel berbintang yang paling mewah di masa itu sudah penuh dengan para pengusaha yang menghadiri undangan jamuan makan malam tuan Namoko, mereka terlihat berlomba berpenampilan cantik, tampan, mewah dan tidak lupa membawa hadiah yang akan di berikan pada tuan Namoko untuk menunjukkan loyalitasnya atau lebih tepatnya untuk mencari muka di hadapan pemodal asing terkenal itu agar perusahaannya di lirik dan syukur-syukur di ajak kerja sama atau minimal di beri suntikan pinjaman dana oleh pebisnis Jepang itu.
Wajah-wajah kemuafikan terpampang jelas dan memenuhi ruangan, Adela mengedarkan pandangannya mencari keberadaan tuan Anton, ayah dari Dito di antara ratusan tamu yang hadir di sana.
Ponsel memang sudah ada di jaman ini, hanya saja masalahnya Adela tidak mempunyai nomor ponsel tuan Anton sehingga terpaksa dia harus mencarinya secara 'manual' dengan kejelian mata yang terus menelisik dan melihat para tamu yang postur tubuhnya mirip dengan Tuan Anton.
Namun tiba-tiba, "Ups!" karena matanya asik dan serius mencari keberadaan ayah dari Dito, tanpa sengaja Adela menubruk bahu seorang pria yang berjalan berlawanan arah dengannya.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak seng--" Belum saja Adela menyelesaikan ucapannya pria itu justru malah menarik lengannya dari kerumunan.
"Adel? Dari jauh aku memperhatikan mu dan bertanya-tanya apa mata ku salah melihat, ternyata ini benar kamu. Aku rindu!" Ujar Irwan tanpa tahu malu.