
Sementara tak jauh dari ruang kerja Desi, dimana kepala HRD dan itu kini berkomplot dengan mantan adik iparnya untuk bersama-sama melawan dirinya, namun sedikit pun Adela tidak merasa gentar, puluhan bahkan ratusan Desi dan Riska sekalipun akan dia hadapi dengan percaya diri tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Cih, beraninya keroyokan," decih Adela sambil berlalu menjauh.
Riska menjadi asisten Desi di kantor karena memang tidak ada tempat kosong di mana pun untuk di isi nya, sementara Dito menyerahkan pada Desi untuk menempatkan Riska di bagian mana pun terserah Desi, selama itu tidak harus berhubungan langsung dengan dirinya.
Jangan di kira Dito tidak peka dan tidak merasakan jika Riska menyimpan perasaan padanya selama ini, hanya saja Dito masih menghormatiIrwan sebagai temannya sehingga dia berpura-pura tidak mengetahui hal itu, terlebih lagi sekarang Riska juga dekat dengan Bayu, sehingga Dito harus pintar-pintar menempatkan diri dan menjaga jarak dengan cara yang tidak terlalu ekstrim sehingga juga tidak menyinggung pihak manapun.
Tok,,tok,,tok,,,
Suara ketukan pintu ruang kerja Dito terdengar begitu nyaring, senyum Dito tersungging sangat manis saat dia mempersilakan orang di balik pintu yang dia pikir itu Adela untuk masuk menemuinya, namun senyumnya seketika memudar saat tau ternyata orang yang melangkahkan kakinya ke dalam ruangannya itu ternyata bukanlah Adela, melainkan Riska, orang yang sangat tidak di harapkannya untuk dia lihat siang ini.
"Apa aku mengganggu, kak?" Tanya Riska dengan suara dan gesture yang di buat se-manja mungkin, berniat untuk menarik perhatian Dito yang kini menjadi bos di tempatnya bekerja itu.
Dito menggeleng pelan, "Tidak, apa ada yang perlu di bicarakan dengan ku?"
"Ah, anu-- aku hanya ingin menyapa kakak, sekaligus ingin mengucapkan terimakasih karena kakak sudah memberi kesempatan untuk ku bekerja di perusahaan milik kakak ini." Ujar Riska yang tidak langsung duduk di kursi yang berada di seberang meja kerja Dito melainkan terus berjalan mendekat ke arah dimana Dito duduk, dan kini Riska berdiri tepat di samping kursi kebesaran Dito dimana dia duduk saat ini, bahkan tangannya dengan lancang menyentuh bahu Dito yang mengeratkan rahangnya karena menahan geram dengan tingkah lancang Riska saat ini.
"Hanya itu? Apa tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan lagi pada ku?" Ucapan Dito terdengar dingin dan setengah ketus, sangat kentara jika dia kini sedang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Riska, terlebih mata Dito juga menatap tajam ke arah tangan Riska yang masih tersampir di atas bahu kiri nya.
__ADS_1
"Ah, itu-- tadi ada sedikit debu di bahu kakak," gugup Riska segera menurunkan dan menjauhkan tangannya dari sana.
"Duduk di sana,!" Dito menunjuk kursi kosong yang berada di seberang meja kerjanya, lantas Riska berjalan dengan patuh perintah Dito tanpa bantahan, meski ada sedikit kesal di hatinya karena Dito terkesan sangat dingin padanya.
Sebenarnya bukan rahasia lagi, Irwan, Linda, bahkan Bayu pernah bercerita jika Dito adalah sosok yang sangat serius dan tegas jika sedang bekerja dan berada di kantor, hanya saja Riska seperti ingin uji nyalinya sendiri dan dengan penuh percaya diri ingin mencoba dan membuktikan barangkali sikap Dito pada nya berbeda karena merasa dirinya punya kedekatan khusus, dan hal itulah yang membuatnya menjadi sangat percaya diri.
"Dengarkan aku, yang pertama aku minta kamu menjaga sikap mu pada ku saat berada di kantor, aku atasan mu, dan panggil aku pak seperti yang lainnya, dan yang kedua, jangan menemui ku jika tidak ada hal penting yang di bicarakan dengan ku, karena pekerjaan ku cukup banyak, waktu ku sangat berharga hanya untuk menedengarkan hal-hal sepele dan tidak penting seperti yang kamu sampaikan pada ku tadi, apa kamu mengerti?" Tegas Dito.
Riska mengangguk pelan, matanya seperti berkaca-kaca karena baru pertama kali dia melihat Dito berbicara setegas itu padanya, selama ini biasanya Dito hanya bisa diam jika Riska mulai menggelayut di tangannya atau bergelendot manja, karena itu di luar kantor.
Namun Dito tidak bisa mentolerir sikap Riska yang melakukan hal itu di kantornya, dimana harga dirinya sebagai atasan seperti di sepelekan oleh Riska.
"Ma-maafkan aku kak, eh pak." Gugup Riska yang kini dapat membuktikan sendiri bagaimana tegasnya Dito jika sedang di kantor.
"Sekarang kembalilah bekerja, tunjukkan pada ku jika kamu benar-benar ingin bekerja seperti yang kamu katakan sebelumnya, namun jika kira-kira kamu belum siap bekerja dengan aturan kantor ini, silahkan mengundurkan diri sejak awal." Usir Dito.
"Ba-baik kak, eh pak." Angguk Riska.
"Tolong panggilkan Adel untuk datang ke ruangan ku!" Titah Dito saat Riska hampir sampai di ambang pintu untuk keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Entah apa maksud Dito memberi perintah itu pada Riska, padahal dia bisa saja memanggil Adel lewat saluran telepon di meja kerjanya, sepertinya Dito sangat tahu hal-hal yang dapat membuat Riska sangat kesal.
Riska mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun, karena sumpah serapah dan berbagai kata-kata umpatan kasar kini terucap di batinnya, bagaimana bisa Dito malah meminta dirinya memanggil Adela untuk datang ke ruangan Dito sementara dirinya di usir dari ruangan itu.
Bruak!
Pintu ruang kerja Adela di buka dengan kasar dari luar, tidak ada ketukan pintu atau ucapan salam yang terucap dari bibir Riska yang tiba-tiba muncul di hadapan Adel, tapi hal itu tidak membuat Adela terpancing untuk emosi, dia hanya mengangkat kepalanya dan megalihkan pandangannya yang sebelumnya serius melihat ke arah tumpukan kertas yang sedang di bacanya di atas meja kerjanya, kini beralih menatap ke arah Riska yang berdiri sambil berkacak pinggang di hadapannya.
"Ada yang perlu aku bantu adik ipar ku sayang?" Ledek Adela, dia sungguh sangat tahu jika saat ini Riska sedang emosi, meski dia tidak tahu apa yang menyebabkan mantan adik iparnya se-emosi itu, tapi baginya ini sebuah keuntungan dimana dia bisa semakin membuat Riska di bakar emosi, dengan ledekannya.
"Cuih, siapa yang kau sebut adik ipar mu itu? Dasar tebal muka, kau sudah di buang oleh kakak ku dan masih mengaku-ngaku kalau aku adalah adik ipar mu? Tak sudi aku mempunyai kakak ipar seperti mu, ingat,,, jangan pernah mengungkit kalau kita pernah saling mengenal!" Sembur Riska langsung menumpahkan kekesalannya pada Adela.
"Oke,, tenang saja, aku juga malas mengakui pernah punya adik ipar yang tidak membanggakan dalam bidang apapun seperti mu," ujar Adela lagi semakin membuat Riska kesal saat mendengarnya.
"Upss,, apa aku salah bicara ya? Atau malah terlalu jujur?" Sambung Adela menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Sialan, dasar wanita sampah! Lancang sekali mulut mu, kenapa saat itu kau tidak mati saja waktu itu, dari pada bangun tapi malah jadi wanita siluman seperti ini!"
"Hahaha,,, Tuhan belum mengizinkan ku untuk mati lebih cepat, aku di kirim kembali ke bumi ini dengan misi untuk memberi pelajaran pada mu, dan seluruh keluarga mu, karena keluarga iblis seperti kalian memang harus berhadpan dengan wanita siluman seperti ku, bukan?" Adela terkekeh.
__ADS_1
"Kau, ber-engsek!" Umpat Riska, mengambil vas bunga yang berada di atas meja Adela dan mengangkatnya ke udara bermaksud ingin melemparkannya ke arah Adela, namun aksinya itu harus terhenti saat sebuah suara teriakan terdengar dari ambang pintu.
"Apa yang terjadi di sini?" Teriak Dito yang tiba-tiba berada di ruangan itu tanpa Riska sadari.