
"Adel,,, Adel!" Panggil Anton.
Wajah Irwan, Linda dan Riska langsung berubah pias seketika saat ternyata orang yang di maksud Anton adalah Adel, orang yang sungguh tidak di sangka-sangka oleh mereka.
"Adel?" Beo Linda yang terlihat lebih kaget dari pada Irwan dan Riska yang sebelumnya sudah tahu jika Adel memang berada di tempat itu, namun mereka juga tidak menyangka jika keberadaannya ternyata sepenting itu di bandingkan dengan mereka yang mendompleng undangan Prabu yang juga bukan termasuk kalangan tamu vip, apalagi sebelumnya Riska tadi menuduh Adela datang tanpa undangan hanya untuk mencari Irwan dan menjerat om-om kaya raya di pesta jamuan makan malam itu.
"Ya pak, bagaimana?" Ujar Adela saat sudah berada di hadapan Anton.
Wajah Adela terlihat datar saja meski dia mengetahui Irwan, Linda dan Riska berada di sana, seolah dia tidak mengenal mereka sama sekali, berbanding terbalik engan raut wajah ketoga orang yang kini terlihat gelisah dan serba salah saat berhadapan dengan Adela.
"Mereka ingin berbicara dengan tuan Namoko, tapi penerjemah beliau sedang keluar, apa kamu bisa membantu mereka?" Ujar Anton.
"Emh,,," Adela sengaja hanya menatap satu persatu wajah dari ke tiga orang yang seperti sedang menahan perasaan yang entah seperti apa, yang jelas jutaan pertanyaan pasti berjejal di pikiran mereka, bagaimana bisa Adela tiba-tiba bergaul dalam kalangan yang tidak biasa ini? Dan sejak kapan Adela bisa berbahasa Jepang?
"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Anton karena Adela seperti tidak buru-buru mengatakan kesediaannya.
"Tidak, tidak ada masalah!" Jawab Adela.
Lantas Adela mulai berbicara dengan Tuan Namoko, entah apa yang dia katakan pada pria berkebangsaan Jepang itu, yang jelas pria bermata sipit itu tersentum ke arah Irwan dan Linda dan menganggukan kepalanya dengan ramah, lantas berbincang lagi dengan Adela beberapa saat.
"Tuan Namoko bilang anda bisa menghubungi sekretarisnya untuk membuat janji bertemu dan kalian bisa membicarakan masalah bisnis dengan beliau nanti," Ujar Adela menyampaikan apa yang di katakan tuan Namoko padanya.
"Bagaimana kami bisa tahu jika kau tidak mengatakan hal buruk tentang kami pada tuan Namoko? Mengapa dia tidak bersedia berbicara dengan kami?"Tanya Linda penuh curiga.
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak berbicara secara langsung saja padanya,jika kalian tidak mempercayaiku?" Kata Adela dengan santainya.
Melihat ketegangan di antara Adela dan Linda, Anton mendekat karena merasa penasaran.
"Ada apa,apaada yang salah?" Tanya Anton.
"Ah,ti-tidak tuan," gugup Irwan tidak ingin pertikaian Linda dan Adela merusak suasana dan membuat urusan pekerjaannya di kemudian hari menjadi bermasalah, secara di tempat ini penuh dengan para pelaku bisnis yang tdak menutup kemungkinan Irwan akan bekerja sama dengan salah satunya di antara mereka.
"Hai semuanya,maaf telat, ah,,, kalian ada di sini juga rupanya," Sapa Dito yang baru saja datang di acara itu, dia juga melemparkan senyumnya pada Irwan dan Linda yang juga beradadi sana.
"Kak Dito, aku juga ada di sini," Sapa Riska yang tiba-tiba menjadi sangat centil dan caper di hadapan Dito, bahkan tanpa tahu malu dia langsung mendekat lantas menggelendot manja di lengan Dito yang terlihat risih atas kelakuan Riska itu.
"Oh iya, ada kamu juga, hai!" Sapa Dito setengah terpaksa menyapa adik dari temannya itu.
"Kau! Apa kau menyindir ku?" Tunjuk Riska.
"Apa kau merasa tersindir?" Tangkis Adela.
"Ada apa? Apa kalian saling mengenal?" Dito mengernyit dan merasa penasaran seperti hal yang rasa penasaran yang di rasakan Anton tadi, karena interaksi antara Adela dan ketiga tamu itu seperti tidak terlihat biasa.
"Tidak! Aku tidak mengenal mereka!" Tegas Adela, hanya saja wanita ini tadi mengata-ngatai ku kalau aku datang tanpa undangan dan hanya untuk mengejar pria kaya di sini, mulutnya lancang sekali padahal kami tidak saling kenal!" Adu Adela pada Dito yang membuat mata Riska membesar merasa tidak percaya jika Adela berani menjelek-jelekan dirinya di hadapan Dito, pria yang selama ini di incarnya dan harus selalu melihat sisi baiknya saja.
"I-itu bohong kak, wanita ini mengada-ada!" Elak Riska tidak mau jika Dito percaya dengan apa yang di ucapkan Adela da mungkin akan berakibat citranya buruk di hadapan Dito.
__ADS_1
"Ah sudahlah, mungkin kalian salah paham, Adel,, dia hanya anak kecil, jangan terlalu di ambil hati." Ujar Dito menengahi.
"Hmmm, ya,, anak kecil, tapi aku rasa anda harus berhati-hati dengan anak kecil yang satu ini, karena dia bukan sembarang anak kecil, melainkan anak ular berbisa!" Ketus Adela yang lantas meninggalkan mereka karena Anton memanggilnya dari kejauhan, sepertinya dia hendak berbicara dengan Tuan Namoko dan membutuhkan Adela untuk mendampinginya.
"Dit, siapa dia? Sepertinya dia sedang berusaha untuk menjadi ibu tiri mu, lihatlah cara dia mendekati dan menggoda ayah mu!" Ujar Linda berusaha mempengaruhi Dito sekaligus memanas-manasi Irwan dengan mengatakan semua itu pada Dito.
"Hahaha,,, tidak lah, aku mengenalnya, dia bekerja di kantor ku, hanya saja karena dia pintar berbahasa Jepang, ayah ku memintanya untuk mendampingi dia di acara sekarang ini untuk membantunya berkomunikasi dengan Tuan Namoko." Terang Dito.
"Dia bekerja di kantor mu?" Tanya Irwan terlihat kaget mendengar keterangan Irwan tentang siapa Adela, bagaimana mungkin istrinya yang hanya lulusan smp itu bisa bekerja di perusahaan sebesar perusahaan Dito, mana tiba-tiba jadi pinter bahas Jepang segala, lagi.
"Ya, dia asisten ku, dia cukup pintar dan cekatan, hampir semua pekerjaan ku di handle nya dengan baik, sehingga aku kini lebih tenang jika harus meninggalkan perusahaan ke luar kota untuk dinas, entahlah kalau tidak ada dia, aku sungguh beruntung bertemu dengannya," Ujar Dito, matanya berbinar saat bercerita mengenai Adela pada Irwan, bahkan matanya terus memperhatikan Adela yang sedang duduk bersama ayahnya dan juga tuan Namoko dari kejauhan.
"Asisten mu? Sejak kapan?" Tanya Irwan lagi, sungguh dia tidak percaya dengan apa yang Dito ceritakan saat ini.
"Belum lama, pertemuan kami tidak sengaja, malam itu saat ulang tahun Riska, aku pamit duluan karena harus menemui klien di klub di hotel itu, dan aku bertemu dia yang meminta pertolongan ku karena di goda pria hidung belang di sana." Cerita Irwan.
"Kalian bertemu di klub?" Tanya Irwan dan Riska secara bersamaan, adik kakak itu terlihat sangat kompak membelalakan mata, sampai dunia terbalik pun rasa-rasanya Irwan tidak akan pernah percaya jika mantan istrinya itu pergi ke klub, apalagi sendirian.
"Ya, malam itu dia sedang sangat kacau karena di ceraikan suaminya yang tergoda oleh wanita lain, lantas keesokan paginya dia datang ke kantor dan membuat kehebohan seisi kantor karena mencari ku, ternyata dia di usir oleh suami dan juga mertuanya dari rumah, sejak saat itu dia bekerja di kantor ku, nasib rumah tangganya memang kurang beruntung, entah pria bodoh mana yang membuang berlian seperti Adelia, yang tidak hanya cantik, tapi sungguh pintar dan bertalenta." Ujar Dito yang kata-katanya seakan menjadi tamparan bagi Irwan karena dialah pria bodoh yang di maksud Dito sebenarnya itu.
"K-kau tau siapa suaminya?" Tanya Irwan lagi.
Dito menggeleng, "Tidak, dia tidak pernah bercerita, dan akupun tidak pernah bertanya padanya, hanya saja jika aku bertemu dengan mantan suami yang telah mencampakkan Adel, aku hanya akan berterima kasih, karena dengan begitu dia memberikan kesempatan pada pria lain untuk berkesempatan mendapatkan wanita se-istimewa Adel." Kata Dito, yang spontan membuat wajah Irwan menjadi merah padam.
__ADS_1