ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Patah hati berjamaah


__ADS_3

"Baiklah asisten, sekarang ceritakan pada ku, bagaimana bisa kamu tiba-tiba datang ke sini dengan masih memakai pakaian semalam?" Tanya Dito setelah ayahnya pamit pergi untuk bertemu Tuan Namoto siang itu.


Sejak tadi Dito hanya menjadi penonton diskusi antara Adela dengan ayahnya yang terlihat sangat serius, dirinya yang merupakannpemilik ruangan sekaligus pemilik perusahaan bahkan keberadaannya seperti tidak di anggap di sana, sampai akhirnya Anton pergi dan Dito mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Adela secara bebas, tanpa tatapan galak ayahnya yang seakan ingin menguasai Adela sejak tadi.


"Aku di usir dari rumah oleh mantan suami, mertua, dan istri mantan suami ku yang baru." Ujar Adela bercerita dengan santainya seolah hal itu bukan menjadi masalah besar baginya, padahal sekarang ini statusnya adalah janda yang tidak punya tempat tinggal dan juga tidak punya penghasilan.


Jika itu Adelia si pemilik tubuh, mungkin saat ini dia sedang menangis kebingungan dan lebih parah lagi mungkin akan kembali melakukan hal konyol yaitu mengakhiri hidupnya, namun itu tidak berlaku bagi Adela, alih-alih menangis dan meratapi keadaan menyedihkan yang tengah terjadi pada hidupnya, dia lebih memilih untuk memikirkan bagaimana cara membalas kekejaman mantan suami dan keluarganya.


Adela percaya diri dengan kemampuan dan ilmu yang di milikinya, belum lagi dengan keterampilannya dalam bersosialisasi, dia yakin meskipun saat ini dia tidak punya uang dan tempat tinggal, dia bisa dengan mudah mendapatkan uang dari pekerjaan apapun yang bisa dia lakukan dengan keterampilan yang dia punya selagi halal.


"Bagaimana, apa tawaran bekerja untuk ku masih berlaku?" Tanya Adela lagi membuyarkan pikiran Dito yang saat itu mengambang antara sadar dan tidak juga antara percaya dan tidak percaya jika kini dia berhadapan dengan waita se-aneh Adela.


"Tapi kamu belum memberi tahu ku berapa aku harus membayar gaji mu?" Ujar Dito sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak terasa gatal.

__ADS_1


"Cukup carikan aku rumah kontrakan dan bayarkan satu bulan uang sewanya, selebihnya biar aku pikirkan cara membayarnya, jika kamu keberatan, aku bisa mengajukan lamaran pekerjaan pada ayah mu, aku yakin dia akan menerima ku dengan senang hati, bahkan aku bisa mengajukan diri sebagai penerjemahnya dalam proyek besarnya bersama kolega Jepangnya dan aku akan minta di belikan rumah padanya sebagai imbalan," Kata Adela seraya terkekeh geli.


"Kenapa tidak sekalian kamu mengatakan mengajukan diri untuk menjadi ibu tiri ku sekalian!" Sinis Dito tiba-tiba saja merasa tidak senang saat mendengar jika Adela ingin mengajukan diri sebagai penerjemah ayahnya.


"Ide yang bagus!" Celetuk Adela membuat Dito sontak membulatkan matanya tidak percaya.


"Jangan mimpi, semua karyawan kini sedang menggosipkan kita karena kamu yang mengaku-ngaku sebagai kekasih ku dan sedang mengandung anak ku, bagaimana bisa kau berpacaran dan mengandung anak ku tapi menikah dengan ayah ku?" Kesal Dito langsung merinding membayangkan jika sampai hal itu benar-benar terjadi.


"Hahaha,,, biarlah mereka bergosip semaunya, aku kesal karena mereka tidak mengzinkan ku bertemu dan menunggu di ruangan mu, jadi aku sengaja membuat para karyawati di sini patah hati berjamaah karena ternyata kamu sudah ada pemiliknya." Oceh Adela lagi-lagi terkikik geli karena melihat raut wajah Dito yang begitu kesal akibat ucapannya.


Lelah seharian belanja, Adela kebingungan saat Dito membawanya ke sebuah rumah yang berada di komplek perumahan elit namun bangunannya terlihat kuno bagi Adela yang gambaran standar rumah mewahnya di dua puluh empat tahun yang akan datang itu.


"Sudah terlalu sore jika kita harus mencari rumah kontrakan, untuk malam ini kamu bisa tinggal di rumah ku terlebih dahulu jika kamu tidak keberatan, atau jika kamu merasa risih aku bisa membukakan kamar di hotel untuk kamu menginap." Ujar Dito merasa ragu dan terkesan hati-hati saat mengatakan semua itu pada Adela karena takut menyinggungperasaan Adela dan menganggap dirinya memanfaatkan keadaan.

__ADS_1


"Tidak usah, di sini juga aku merasa nyaman, dan jika di ijinkan sepertinya aku juga berminat untuk tinggal di sini, aku bayar uang sewa tiap bulannya pada mu, bagaimana?" Ide konyol Adela mulai datang lagi, Adela yang terbiasa berbicara blak-blakan dan lama hidup di luar negeri dengan kebebasan, membuat hal seperti itu sudah sangat biasa padanya, satu rumah dengan lawan jenis bukan suatu hal yang tabu.


"Hah, maksud mu kamu mau tinggal di sini bersama ku?" Dito melongo, baru kali ini ada wanita yang terang-terangan meminta hidup satu atap dengannya sementara dirinya tadi harus berbicara sangat hati-hati untuk sekedar menawarkan Adela menginap di rumahnya.


"Iya, itu pun kalau kamu mengizinkan dan tidak keberatan, lagi pula aku kan sewa!"


"Bukan masalah sewanya, apa kamu tidak takut di bicarakan orang-orang karena serumah dengan ku?" Tepis Dito mengemukakan kehawatirannya.


"Nurutin omongan orang itu tidak ada habisnya, kita tidak bisa menutup mulut-mulut jahil mereka, yang perlu kita lakukan hanya menutup telinga kita saja, pura-pura budeg! Lagian orang kita gak ngapa-ngapain juga, takut amat!" Seloroh Adela yang mungkin dia lupa kalau kini dia hidup di jaman yang tidak se-modern dan se-terbuka di zamannya.


Kebersamaan dan gotong-royong antar tetangga dan antar sesama di masa ini sungguh masih di junjung tinggi dan terlaksana dengan baik, beda dengan zaman di mana Adela berasal, orang-orang semakin individualistis, tidak peduli dengan sesama, bahkan dengan tetangga sebelah saja kadang tidak kenal dan tidak tau siapa namanya.


"Oke, kalau memang itu mau mu, aku sama sekali tidak keberatan, bahkan tidak perllu ada bayar sewa segala rupa, kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau." Putus Dito pada akhirnya, entahlah menurutnya kepribbadian Adela semakin menarik perhatiannya dan membuat dia semakin penasaran dengan sosoknya, dengan cerita hidupnya, dan dengan kepribadiannya.

__ADS_1


"Pria bodoh mana yang menyia-nyia kan wanita secantik dan seunik ini, terlebih dia juga terlihat pintar dan terpelajar." Gumam Dito pada dirinya sendiri merasa heran jika Adela yang di matanya begitu sepurna dan menjadi dambaan setiap pria itu harus di campakan dan di perlakukan dengan begitu kejamnya, di selingkuhi, di ceraikan di depan umum dampai di usir dari rumah di dini hari tanpa membawa sehelai baju pun.


Andai saja Dito tau jika pria bodoh itu ternyata temannya sendiri.


__ADS_2