ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Miskomunikasi


__ADS_3

Sudah puluhan kali sepertinya Dito melirik jam yang bergantung di ruang tamu rumahnya, lehernya pun rasanya sudah pegal karena setiap ada mobil lewat depan rumahnya dia langsung spontan melirik ke depan berharap kalau itu Adela.


Sudah pukul setengah sebelas malam, dan Adela belum juga pulang ke rumah, ada rasa penyesalan dalam dirinya karena tadi terbawa emosi sehingga dia meluapkan amarahnya pada Adela, bukankah seharusnya dia tak semarah itu pada Adela, toh dirinya juga bukan siapa-siapa Adela.


Satu hal lagi yang mungkin Dito lupa adalah mengenai dirinya yang tidak pernah bertanya mengenai siapa suami Adela karena dia berprinsip tidak ingin ikut campur dalam privasi Adela, sialnya karna saking percaya pada adela, dia pun tidak meminta data diri dan juga suray apapun saat Adela melamar kerja di perusahaannya, awalnya niat dirinya hanya ingin membantu, dia tidak menyangka jika dalam perjalannya dia malah tertarik pada wanita yang belakangan di ketahui mantan istri sahabatnya sendiri, bahkan Riska mengatakan jika Adela belum resmi bercerai dari Irwan.


"Adel, di mana kamu sebenarnya.Kemana kamu pergi?" Gumam Dito, dia terlihat semakin gelisah saat waktu sudah hampir menunjukkan jam 12 tengah malam, dan Adela masih belum juga terlihat batang hidungnya.


Dito sudah tidak bisa menunggu lagi, kali ini dia menyambar kunci mobilnya, dia tidak mau terus hanya berdiam diri menunggu kepulangan Adela yang entah kapan bahkan mungkin saja wanita itu tidak akan pulang, meski dia kini sudah tidak punya tempat untuk pulang.


Namun baru saja dia membuka pintu rumahnya, sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah itu, seorang wanita turun dari kursi penumpang dengan penampakan yang sudah tidak karu-karuan, berjalan sempoyongan dan berbicara melantur.


"Adel!" Teriak Dito berlari menghampiri Adela yang sepertinya tengah mabuk berat itu, entah berapa banyak minuman yang dia tenggak sampai-sampai si pendekar mabuk yang paling kuat minum itu harus berakhir seperti itu.


"Istri anda di usir dari pub karena dia mabuk berat, dan berteriak-teriak ingin pulang, untung saja tidak ada pria iseng yang mencoba memper-ko-sanya, saya menemukan kartu nama ini di tasnya, makanya saya antar ke sini. Apa anda berdua sedang bertengkar? Sebaiknya jika ada masalah di selesaikan secara baik-baik jangan sampai seperti ini." Ujar sopir taksi tua yang sok tau itu memberi nasehat pada Dito seolah-olah Dito adalah suami yang menelantarkan istrinya begitu saja.

__ADS_1


"Te-terima kasih sudah mengantar dia pulang pak," Dito memapah Adela yang terus menceracau entah berbicara apa.


"Pak, ongkosnya belum di bayar!" Kata sopir taksi itu lagi, dan langsung tersenyum sumringah saat Dito memberinya uang yang jumlahnya lebih dari cukup jika hanya untuk ongkos mengantar Adela ke tempat itu.


"Aku ingin pulang! Antarkan aku pulang!" Teriak Adela saat dia baru saja Dito dudukan di sofa ruang tengah.


"Kamu sudah pulang Adel, kamu di rumah sekarang." Jawab Dito dengan sabarnya.


"Tidak, ini bukan rumah ku, aku ingin pulang ke rumah ku, tolong antarkan aku ke rumah ku, aku rindu kehidupan ku yang dulu, bukan yang seperti ini, di sini terlalu banyak masalah, kuno, menyebalkan, aku ingin pulaaaaang!" teriak Adela.


Lagi pula mana bisa mereka berkomunikasi dengan baik secara salah satunya dalam pengaruh minuman keras dan teler berat.


**


Adela terbangun dari tidurnya, dia tidak tahu kapan dirinya pulang dan masuk ke kamarnya, namun tiba-tiba saja pagi ini dia sudah mendapati dirinya tertidur di atas ranjang yang biasa dia tempati di rumah Dito, padahal seingatnya dirinya semalam berada di pub dan sengaja mabuk berat, dia ingat terakhir kali dirinya pindah dimensi waktu setelah dirinya mabuk berat, siapa tahu jika dia minum dengan jumlah banyak lantas mabuk berat dia akan kembali ke masa depan, pikirnya.

__ADS_1


"Ah shiiiiit,, kenapa aku masih di sini, bagaimana caranya agar aku bisa pulang? Tuhan,,, aku ingin pulang!" Rengek Adela seraya mer-emas rambutnya sendiri.


"Tenang saja, aku akan membantu mu untuk pulang!" celetuk Dito yang ternyata sedang duduk di kursi meja rias di samping ranjang Adela, semalaman dia menjaga Adela yang terus menceracau dan mengamuk, sampai-sampai dia tidak tega jika harus meninggalkan Adela sendirian di kamarnya.


"Ah, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Adela kaget.


"Tentu saja menunggu mu terbangun daridur, dan menjaga mu semalaman yang terus mengoceh tidak jelas seperti burung aduan!" Dito melipat kedua tangannya di dada.


"Anda akan membantu saya pulang? Bagaimana caranya?" tanya Adela antusias, otaknya yang masih belum genap 100 persen loading itu bahkan percaya jika Dito akan membantunya kembali ke masa depan.


"Apa kamu se-bahagia itu karena aku akan membantu mu untuk pulang?" tanya Dito dengan perasaan yang terasa sedikit perih.


"Tentu saja, aku sangat ingin pulang, aku rindu semua hal di masa itu!" jawab Adela masih belum sadar dengan obrolan mereka yang sesunguhnya berlawanan arah.


"Baik, hari ini kamu di rumah saja tidak usah berangkat ke kantor, dan nanti aku akan memberi mu kejutan, kamu istirahat saja." Ujar Dito.

__ADS_1


"Hemh, baik, terimakasih pak Dito yang paling baik se jagat raya!" celoteh Adela yang masih sempat-sempatnya bercanda dengan Dito yang kini tengah merasakan kepedihan akibat merasa dirinya sudah tidak mungkin lagi memiliki Adela karena merasa jika Adela masih sangat mencintai Irwan, terbukti dengan Adela yang sejak semalam terus berteriak untuk meminta pulang.


__ADS_2