
"Hai nak?" seorang pria paruh baya menghampiri Wini dan memeluknya sekilas.
Adela terbengong, dia sudah bisa menebak jika ini adalah penampakan Bayu pada usia yang tak lagi muda, pria yang dulu tukang main perempuan dan hobby party itu masih terlihat necis dalam gaya dandanannya, Adela terus memperhatikan wajah Bayu, namun pria yang dulu sempat mendekatinya itu seperti tidak mengenalnya.
"Del, ini ayah ku! Ah, ayah, ini Adela teman ku, dia baru saja mengalami kecelakaan dan ingin me-refresh otaknya yang sepertinya agak geser akibat kecelakaan itu." canda Wini.
"Oh, namanya Adela, mirip seperti nama ibu ku!" kali ini justru malah Saga yang menimpali ucapan Wini.
"Apa nama ibu mu Adelia?" tanya Adela penuh antusias saat mengetahui jika Adelia dan Dito ternyata akhirnya menikah dan kini sudah mempunyai anak sebesar Saga, namun hal itu membuat Wini dan Saga sama-sama terperanjat, bagaimana Adela bisa tau nama ibunya Saga.
"Hey, darimana kamu tau nama tante ku?" tanya Wini.
"Hanya menebak saja, apa itu benar?" elak Adela berpura-pura tidak sengaja menebak nama ibunya Saga.
Entahlah, rasa-rasanya Adela seperti terlalu bersemangat saat membicarakan keluarga Wijaya, keluarga yang dulu sempat hampir menjadi keluarganya, karena jika saja dirinya tidak kembali ke masa sekarang ini, mungkin yang menikah dengan Dito adalah dirinya.
"Om dan tante mu juga akan datang ke sini, mungkin sebentar lagi mereka akan sampai di sini," ujar Bayu.
"Benarkah?" yang terlihat antusias justru malah Adela, membuat Wini memutar jengah bola matanya atas ke absurd-an tingkah sahabatnya itu.
Tak selang berapa lama, sebuah mobil masuk ke pelataran parkir rumah itu, rupanya Dito dan Adelia benar-benar datang ke sana, dari kejauhan Adela tidak bisa berhenti menatap pasangan yang terlihat serasi itu, baru kali ini dia melihat rupa asli Adelia yang tubuhnya sempat dia tempati beberapa waktu lalu, karena dulu dia hanya bisa melihat wajah Adwlia dari pantulan cermin saja, ternyata meski kini usianya sudah tidak muda lagi, wajahnya masih terlihat cantik.
Begitupun dengan Dito yang rambutnya sudah di tumbuhi uban di beberapa sisi kepalanya, pria itu masih terlihat tampan, tubuhnya juga masih enak di pandang mata meski tidak bisa di katakan se kekar dulu.
__ADS_1
"Ssstt,,, segitunya liatin ayah ibu ku," goda Saga karena melihat Adela seperti terkesima melihat kedua orangtuanya sampai wanita itu lupa berkedip.
"Eh iya, cantik dan tampan!" ucap Adela asal.
"Sekarang kamu tau kan, dari mana wajah tampan ku ini berasal?" Saga yang memang periang itu terus menggoda Adela.
Adela hanya tersenyum sekilas, apalagi saat Wini memperkenalkan dirinya pada Dito dan Adelia, saat itu Adela tak kuasa menahan salah tingkah dan debaran di dadanya saat tiba-tiba Dito menatapnya dengan sangat dalam meski hanya berlangsung beberapa detik saja.
"Apa kamu pernah ke sini sebelumnya, nak?" tanya Dito pada Adela.
'Nak?' jerit Adela dalam batinnya, Dito memanggilnya dengan sebutan 'nak' itu sangat menggelikan dibtelinga Adela.
"Ah itu,,, be-belum, om!" ujar Adela gugup, apalagi saat dirinya kebingungan harus memanggil Dito dengan sebutan apa, namun akhirnya dia memanggil Dito dengan sebutan Om.
"Kenapa mas? Apa kamu mengenal anak itu?" tanya Adelia pada suaminya.
"Emhh,,, entahlah, namun aku merasa sepertinya wajah anak itu tidak asing." kata Dito
"Keadaannya semakin memburuk, makanya aku memanggil kalian, dari semalam dia terus mengamuk." ujar Bayu pada Dito dan Adelia yang baru saja tiba di rumahnya.
"Ayo kita lihat," ajak Adelia.
"Sst, siapa yang mengamuk?" bisik Adela seraya mencolek lengan Wini.
__ADS_1
"Kekasih ayah ku," jawab Wini santai.
"Kekasih ayah mu? Tapi--" tanya Adela kebingungan.
"Ayo kita ikut melihatnya, katanya dia salah satu kekasih ayah ku dulu, namun jiwanya terganggu akibat kehilangan anak yang sedang di kandungnya karena kecelakaan, tapi kata orang itu karma karena dia jahat dulunya," urai Wini.
Adela mengikuti langkah Wini ke paviliun yang berada di belakang bangunan utama.
Prang! Prang!
Suara benda jatuh seperti sesuatu yang di lempar terdengar dengan jelas, membuat Adel merinding, terlebih suara jeritan perempuan yang tidak putus-putus berteriak membuat Adela seperti ingin menghentikan langkahnya.
"Tidak apa-apa, dia tidak akan melukai siapapun, berdiri saja dia tidak bisa!" Wini menarik lengan sahabatnya agar terus melanjutkan langkahnya.
Tibalah Adela di depan sebuah ruangan sebesar ukuran rumah tipe 36, tidak ada sekat di sana, ruangan itu terlihat gelap, dan tercium sedikit bau tidak enak. Adelia yang pertama masuk ke dalam ruangan itu, lantas dia membuaka tiga jendela yang berada di ruangan itu agar udara dan cahaya masuk ke dalam sana, dia tidak bergeming dan tampak tidak takut sama sekali meski suara waita di ruangan itu mencacinya.
"Oh tidak, Ri-Riska!" pekik Adela tertahan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Setelah jendela terbuka, dan cahaya masuk ke dalam ruangan itu, tampak seorang wanita lusuh terduduk di atas kursi roda, mulutnya terus mengeluarkan kata-kata kotor meski entah untuk siapa dia tujukan, namun Adela dapat melihatnya dengan jelas, jika itu adalah Riska, meski usianya sudah tidak muda lagi, dengan beberapa keriput yang mulai menghiasi wajahnya karena mungkin tidak pernah di rawat, Adela dapat memastikan jika itu benar-benar Riska.
Mendengar pekikan lirih Adela, Dito yang berdiri tepat di sampingnya seketika menoleh, "Kamu mengenal nya?" tanya Dito semakin mengerutkan keningnya.
**
__ADS_1
Kakak-kakak semuanya,,, cerita sudah mendekati ending, Othor minta dukungan untuk menaikan retensi novel Othor yang baru yang judulnya BUKAN IKATAN CINTA untuk di like, fav, dan komen,,, atas kebaikannya othor ucapkan terimakasih, semoga kakak semua sehat dan bahagia selalu 🙏🥰❤️