
"Oke, kalian berkumpulah, kalian semua akan menjadi saksi di sini, ingat,,, ini hanya permainan, jangan di bawa serius ya!" Ujar Adela seraya menahan tawa di hatinya, bagaimana dia tidak tertawa, minuman ini adalah minuman yang kadar alkoholnya terbilang sangat tinggi, dia dapat menebak kemapuan minum Riska jauh di bawah dirinya yang toleransi tubuhnya terhadap alkohol sangat tinggi.
"Kalahkan dia, tampar dia untuk ku," Bisik Linda memberi semangat pada adik iparnya agar dia bisa mengalahkan Adela, dengan begitu dia juga akan merasa puas karena melihat Adela di tampar di depan umum.
"Tentu saja mbak, lihat saja,, dia pasti akan meraskan panas dan sakitnya telapak tangan ku yang mengenai pipinya sampai bengkak, biar dia tidak merasa sok cantik lagi." Celoteh Riska yang langsung di amini oleh Linda lantas mereka sama-sama terbahak.
Tring!
Gelas pertama Riska menghabiskan isi sloki ukuran besar yang ada di hadapannya setelah sebelumnya sloki itu beradu dengan sloki di tangan Adela.
Adela tersenyum miring, dia sengaja meminum isi gelas itu perlahan seolah-olah dia tidak akan mampu menghabiskannya.
"Siapkan dari sekarang, pipi sebelah mana yang akan kau berikan untuk aku tampar, ingat--- ini hanya sebuah permainan." Riska tertawa puas.
Irwan yang selama hidup bersama Adela tidak pernah melihat mantan istrinya itu menenggak minuman kerasa terlihat seperti ketar-ketir, bagaimana pun dia masih menghawatirkan mantan istrinya itu, dia sangat tahu jika Riska memang menginginkan Adel kalah dan terluka.
Begitu pun dengan Dito dan Bayu yang menatap Adela penuh was-was, takut jika Adela sampai benar-benar kalah dan terluka, namun sejak awal baik Adela maupun Riska sudah mengatakan jika ini hanyalah sebuah permainan, jika sudah begitu, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menonton dan menahan rasa cemas di dada mereka masing-masing.
"Ups,,, sayangnya di putaran pertama sepertinya pipi kita sama-sama terbebas dari tamparan," Ujar Adela yang membalikkan gelasnya yang kini telah kosong karena telah dia minum sampai tak ada setetes pun tersisa.
__ADS_1
Riska mendecih kesal, "Jangan bangga dulu, masih ada dua gelas lagi, dan kemungkinan dua tamparan akan mendarat di pipi mu, wanita udik!" Kata-kata Riska sudah mulai melantur dan tidak bisa mengontrol mabuknya, sepertinya alkohol yang di minumnya kini sedang bekerja dalam tubuhnya.
Riska mengangkat sloki ke duanya dan menghabiskan cairan yang membuat tenggorokannya terasa terbakar itu, dia bahkan sampai beberapa kali terbatuk akibat rasa panas yang di timbulkan minuman itu saat melewati keronggongannya, namun rasa gengsi dan keinginan untuk mengalahan Adela membuatnya menghabiskan isi gelasnya meski harus bersusah payah.
Kepala Riska terasa berkunang-kunang, bahkan pandangannya pun terasa sedikit kabur, namun dia yakin dia jika Adela tidak akan mampu menghabiskan minumannya, secara Adela menurutnya hanya pemain baru yang cupu namun sok jago.
masih sangat ingat di pikirannya dulu bahkan Riska pernah mencekoki mantan kakak iparnya itu dengan bir, menipunya jika itu adalah minuman bersoda, dan mantan kakak iparnya itu sampai muntah-muntah, padahal hanya meminumnya tidak sampai seperempat gelas saja.
"Ayo cepat, jangan mengulur waktu, tangan ku sudah sanmgat gatal ingin menampar mu, siapkan kantung plastik barangkali kau akan muntah!" Ejek Riska.
Adela tersenyum lantas dengan entengnya dia menghabiskan tidak hanya satu sloki, namun dia menenggak langsung dari botol minuman sisa tadi di tuang ke sloki mereka.
"HItung sendiri, kira-kira berapa sloki yang aku habiskan barusan?" Adela menunjukkan botol minuman yang isinya sudah banyak berkurang akibat dia tengak, dia lalu menyambar sepotong lemon untuk di sesapnya, dengan santai dia lantas meminum dua sloki yang tersisa di meja sampai habis, tidak terlihat tanda-tanda Adela teler, dia masih terlihat segar bugar.
Riska mencoba untuk mengangkat sloki terakhirnya karena dia tidak mau di anggap pecundang dan kalah dari Adela, terlebih dia juga tidak akan rela jika harus merelakan pipinya menjadi sasaran tamparan telapak tangan Adela, sudah pasti itu akan menjadi aib tak terlupakan bagi dirinya, terlebih itu di lakukan di hadapan Dito dan juga rekan-rekan kantornya, mau dimana dia menyembunyikan wajahnya dari rasa malu.
Sial bagi Riska karena ternyata tangannya bahkan sudah tidak mampu memegang sloki dengan benar, sehingga gelas itu jatuh begitu saja ke lantai.
"Apa kau menyerah? Apa kau mengaku kalah?" Cibir Adela.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pernah mengalah pada mu, aku belum kalah, dan aku tidak akan pernah kalah dari mu!" Racau Riska.
"Baiklah, aku juga tidak akan menampar mu di saat mabuk seperti ini, semua orang yang berada di sini menjadi saksi jika kau berhutang satu tamparan dari ku!" Kata Adela seraya menyambar jus jeruk yang sejak tadi seperti menggoda dirinya dan meminta untuk di minum.
Linda yang melihat Adela meminum jus jeruk seperti sedang kehausan itu diam-diam tersenyum puas.
"Kamu mungkin kalah dari permainan yang dia ciptakan, tapi kita akan menang dalam permainan yang kita ciptakan sendiri," Bisik Linda pada Riska yang kini setengah sadar.
"Ah sial,,," Batin Adela yang dapat merasaka jika ada yang tidak beres dengan jus yang baru saja dia minum itu, karena tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat, namun setelah Linda memberi kode pada Bayu, dia lantas mengajak Dito mengobrol untuk mengalihkanperhatian Dito dari Adela yang kini merasa kepalanya tiba-tiba pusing, dan Bayu menawarkan diri untuk mengantarnya saat dia hendak ke toilet.
"Apa badan mu terasa panas?" Tanya Bayu, karena Adela kini terlihat berkeringat.
"Hem, aku merasa panas dan sedikit pusing," Jawab Adela.
"Aku ada kamar di hotel di lantai bawah, apa kamu mau istirahat sebentar di sana?" Tawar Bayu.
Adela sudah mencium gelagat yang tidak beres, namun kepalanyanya juga semakin terasa berat, tubuhnya terasa semakin panas.
"Baiklah, aku akan beristirahat sebentar, di sana, kamu tolong kabari Pak Dito kalau aku berada di bawah dan akan segera kembali setelah badan ku agak membaik." Pinta Adel, menerima key card sebuah kamar hotel di lantai bawah yang di sodorkan Bayu padanya.
__ADS_1
"Baik, jangan khawatir aku akan menyampaikan padanya, kamu istirahatlah sejenak, aku tidak akan menganggu mu." Kata Bayu yang bisa di pastikan jika ucapannya nya tentang tidak akan mengganggu Adela bisa di pastikan bohong besar.
'Sampai jumpa di kamar sebentar lagi cantik, aku tidak sabar untuk segera bersenang-senang dengan mu!' gumam Bayu sambil tersenyum iblis.