ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Bukan mertua ideal


__ADS_3

"Berani menggaji ku berapa?" Tantang Adela.


Sontak saja mendengar hal itu membuat Dito terbahak,kali ini dia menemukan sosok wanita yang penuh tantangan dan sangat ingin dia taklukan.


"Berapa yang kamu minta?" Ujar Dito menantang balik, kata hati Dito mengatakan jika dia tidak boleh melepaskan Adela begitu saja, Adela terlalu menarik dan menantang untuk di lepaskan.


"Biar aku pikirkan terlebih dahulu, berikan alamat perusahaan mu, jika aku tertarik dan sudah menemukan jawaban berapa yang aku inginkan, aku akan datang ke kantor mu secara langsung." Ujar Adela seraya nyengir kuda, lantas keluar dari mobil karena kini mereka sudah tepat berada di gerbang komplek perumahan tempat tinggal Adela, dia sengaja tidak turun di depan rumahnya karena tidak ingin membuat tetangga menggunjingkannya karena pulang malam dengan di antar pria yang bukan suamiya.


"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan mu." Ujar Dito sambil terus memandangi punggung Adela yang semakin menjauh darinya, seakan dia tidak rela untuk berpisah dengan wanita yang baru saja di kenalnya itu.


"Dari mana saja kau, dini hari begini baru pulang?" Tanya Sari yang ternyata sudah menyambutnya di depan pintu masuk rumah dengan tatapan yang tidak bersahabat pada Adela yang masih terlihat tenang meski menghadapi mertuanya yang tengah murka padanya itu.


"Ah, ibu mertua tersayang, ada angin apa datang kesini? Ups, lupa,,, mantan ibu mertua." Ujar Adela seraya menutup bibirnya dengan sebelah tangannya menunjukkan gestur mengejek.

__ADS_1


"Tak sudi aku punya menantu wanita seperti mu, jika pun kemarin-kemarin aku bertahan itu karena aku menghormati pilihan anak ku, sekarang setelah kau di ceraikan oleh Irwan, jangan pernah mengungkit lagi kalau kita pernah menjadi mertua dan menantu!" Sinis Sari.


"Tenang saja, karena aku pun merasa sangat lega setelah aku terlepas dari keluarga ini, aku merasa bahagia serasa bangun dari mimpi buruk, dan asal kau tahu ibu,,, kau juga bukan mertua ideal ku!" Balas Adela dengan tengilnya membuat mata Sari membulat seketika karena saking marahnya.


"Dasar wanita miskin tak tau diri, tak tau di untung, sudah mending di nikahi anak ku yang seorang pengusaha, dan di angkat dari kemiskinan, masih saja bertingkah, pergi kau dari sini, ini rumah anak ku, aku tidak sudi jika rumah ini di tempati oleh mu, kembalilah menjadi gembel seperti sebelumnya!" Teriak Sari penuh emosi sampai beberapa tetangga yang merasa terganggu dengan keributan yang di timbulkan olehnya di dini hari itu terbangun dan melongok ke arah rumah dimana Sari memaki Adela.


Bruak, bruak!


Dua buah koper besar di lempar begitu saja oleh Sari ke hadapan Adela yang bahkan masih berdiri di ambang pintu masuk rumahnya karena di halangi oleh Sari agar tidak masuk ke dalam rumah yang sebelumnya sudah sepakat akan di berikan oleh Irwan kepada Adela sebagai tunjangan atas perceraiannya.


"Bu, aku tidak akan pergi dari sini karena Mas Irwan sudah memberikan rumah ini pada ku, kami sudah sepakat sebelumnya, aku tidak akan pergi dari sini jika bukan putra mu sendiri yang mengusir ku!" Adela bergeming dan malah berusaha untuk menerobos masuk ke dalam rumahnya tanpa memperdulikan larangan mantan mertuanya itu.


Namun tak selang berapa lama, Linda tampak keluar dari ruang tengah rumah dengan Irwan yang tampak mengekor di belakangnya dengan wajah yang terlihat sangat penuh dengan tekanan dan raut penuh rasa bersalah ke arah Adela.

__ADS_1


"Sayang, dia ingin di usir langsung oleh mu, katakan langsung dari mulut mu jika rumah ini akan menjadi rumah tinggal kita, jadi sebagai mantan istri dia tidak berhak lagi untuk tinggal di sini." Ujar Linda yang mengatakan hal itu dengan nada angkuhnya.


Kenapanya yang terangkat ke atas dan senyuman mengejek juga menghinakan terus dia berikan pada Adela, seolah ingin menjunjukan kalau pada akhirnya dirinyalah pemenangnya, dan Adela tidak lebih baik dan lebih unggul di banding dirinya.


"Coba katakan mas, aku ingin mendengarnya!" Tantang Adela seraya melayangkan tatapan intimidasi pada pria yang sudah melayangkan kata talaknya beberapa jam yang lalu itu.


Irwan membuang nafas kasarnmya seolah berat ingin mengatakan hal yang di minta kesua istrinya itu, sungguh tidak mudah baginya mengatakan itu semua pada Adel dimana sebelumnya dia sudah pernah mengatakan dengan jelas jika rumah itu akan dia berikan pada mantan istri pertamanya itu, saat ini dia di paksa menjadi pria yang tak punya harga diri yang meminta kembali barang yang sudah dia berikan sebelumnya.


"Emh,,, a--- itu,, aku minta maaf Del, Linda menginginkan untuk tinggal di rumah ini, jadi dengan terpaksa kamu tidak bisa tinggal di sini lagi." Ucap Irwan terbata dan terdengar berat.


"Oke,,, meskipun sebelumnya kamu pernah mengatakan untuk memberikan rumah ini pada ku, tapi karena aku merasa kasihan dengan istri mu yang sepertinya selalu menginginkan milik ku, setelah aku memberikan mu untuk dia, aku juga dengan rela akan memberikan rumah ini untuk di tempati nya, si miskin ini menghadiahkan rumah dan juga suaminya untuk mu, hahaha,,,nyonya Linda yang katanya kaya raya ternyata masih mengharapkan belas kasih ku bahkan untuk sekedar pasangan hidup dan tempat tinggal, aku merasa kasihan pada mu,,, miris!" Ejek Adela yang lantas memungut kedua kopernya yang entah berisi apa karena bukan dirinya yang memasukan barang ke koper itu, tapi jika itu di berikan padanya berarti itu berisi barang-barang miliknya.


Namun sejurus kemudian, Adela justru berbalik dan menghentikan langkahnya, dia lantas melemparkan dua koper itu ke hadapan Linda seraya berkata,

__ADS_1


"Ups,,, hampir aku lupa, sebelum kamu memintanya kelak, lebih baik aku memberikan barang-barang ku untuk mu, jangan lupa di tiru sebagai referensi model-model pakaian yang anggun dan elegan, agar suami mu itu selalu nempel pada mu seperti halnya dia yang tidak pernah mau lepas dari ku, mas Irwan bilang, penampilan ku selalu membuatnya bergairah!" Kata Adela dengan di akhiri tawa mengejek di akhir kalimatnya dan sontak saja membuat wajah Linda memerah sambil menoleh ke arah Irwan yang hanya bisa diam sambil memalingkan wajah ke arah lain, tentu saja dalam hatinya dia mengakui jika pernah mengatakan hal itu pada Adela, namun dia tidak menyangka jika Adela ternyata berani mengatakan kata-kata rayuannya itu di hadapan Linda yang kepalanya langsung berasap dan keluar tanduknya akibat saking marahnya.


__ADS_2