ANOTHER LIFE ADELA

ANOTHER LIFE ADELA
Tak romantis


__ADS_3

Mendengar kegaduhan dari dalam kamar, Linda justru hanya mesam-mesem membayangkan bagaimana kini Adela sedang di permalukan di hadapan Dito dan Irwan.


"Ada apa, kok rame sekali di dalam?" Tanya seseorang pada Linda.


Saat Linda menoleh ke arah si penanya, betapa Linda sangat terkejut karena yang kini tengah bertanya padanya tak lain dan tidak bukan adalah Adela.


"K-kau! Bagaimana bisa kau ada di sini, bukankah seharusnya kau berada di dalam? Lantas siapa yang berada di dalam bersama Bayu?" Sontak saja Linda langsung bergegas masuk ke dalam kamar di susul oleh Adela yang kini gantian tersenyum culas.


"Ya Tuhan,,, kenapa jadi begini?" Teriak Linda saat menyadari jika yang berada di atas kasur bersama Bayu saat ini adalah adik iparnya sendiri.


"Wah,,, adegan dewasa nih, sungguh tak patut!" Celetuk Adela dengan nada mengejek.


Bukannya menghawatirkan dan mengurusi adik perempuannya yang kini tengah beradegan tidak senonoh dengan pria yang bukan pasangan sah nya, mendengar suara Adela, Irwan justru malah berbalik menoleh ke arah Adela seketika, "Sukurlah tidak terjadi apa-apa dengan mu, Del?" Ujar Irwan yang secara kasar bisa bisa di artikan jika dirinya tidak peduli dengan apa yang terjadi pada adik perempuannya, yang penting Adela baik-baik saja.


Kontan saja hal itu memicu percikan amarah Linda yang merasa jika Irwan keterlaluan, dalam kondisi se-genting ini, dia masih saja memikirkan kondisi Adela, bukankah seharusnya yang Irwan khawatirkan adalah adiknya sendiri?


"Mas! Kamu itu keterlaluan, bisa-bisanya kamu malah menghawatirkan jal-lang ini, tuh lihat! Jelas-jelas adik perempuan mu yang sekarang ini harusnya di khawatirkan dan di beri perhatian!" Teriak Linda sambil menunjuk-nunjuk wajah Irwan saking marahnya.


"Bu-bukan begitu maksud ku, tapi,,," Irwan mencoba membela diri, namun sepertinya dia juga kebingungan harus dengan cara apa, apalagi dalam hal ini dirinya jelas-jelas salah.


"Pak Dito, sepertinya masalah ini lebih baik di selesaikan oleh pihak keluarga saja, kita hanya orang luar dan sebaiknya juga keluar, ayo!" Ajak Adela menarik lengan Dito yang masih syok dengan kejadian demi kejadia yang malam ini sungguh membuatnya terkejut berkali-kali, untung saja jantungnya masih sehat dan aman, jika tidak, dia harus di bawa ke IGD akibat serangan jantung mendadak.

__ADS_1


"Hey, tunggu wanita sial, kenapa kau malah pergi, ini pasti ulah mu, kan?" Teriak Linda.


"Ulah ku? Bagaimana bisa kau melimpahkan kesalahan pada orang lain? Sebaiknya kau interospeksi diri, Tuhan tidak suka pada orang jahat, dan apa kau tidak pernah berpikir jika suatu hari kejahatan yang kau buat bisa berbalik pada diri mu sendiri atau bahkan pada keluarga terdekat mu, ya---- seperti kejadian kali ini, aku bukan lawan mu, kau tidak bisa mengalahkan ku!" Kalimat terakhir sengaja Adela bisikkan di telinga Linda, membuat wajah wanita itu memerah dan panas seperti daging matang.


"Sial-an, tunggu saja, aku akan menghancurkan kesombongan mu, wanita udik!" Linda mendorong bahu Adela yang hanya membalas perbuatannya itu dengan sebuah senyuman yang bisa di artikan sebagai senyuman mengejek sambil terus berlalu pergi bersama Dito yang masih sibuk dengan kebingungannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Dito setelah mereka lama saling terdiam, akhirnya Dito membuka pembicaraan karena sepertinya dia sudah tidak kuat menahan rasa kepenasarannya.


"Mana saya tahu pak, bukankah anda datang lebih awal dari pada saya, tadi. Seharusnya saya yang bertanya pada anda tentang apa sebenarnya terjadi?" Adela sengaja berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi dan malah sengaja balik bertanya seolah dirinya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.


"Tapi tadi Linda bilang kalau yang berada di kamar itu adalah kamu, lantas tiba-tiba ternyata Riska dengan Bayu, sungguh ini semua membuat ku bingung. Di tambah lagi dengan sikap Linda yang sepertinya sangat membenci mu, ada masalah apa sebenarnya antara kamu dan Linda?" Tanya Dito lagi.


Adela percaya, langit tak harus menunjukkan bahwa dirinya tinggi, begitu pun dengan dirinya, dia tidak perlu mengadu dan menujukkan pada Dito jika dia benar dan mereka salah, dengan sendirinya kebusukan akan terungkap, biar tangan Tuhan saja yang mengungkap semua yang terjadi, karena dia pun tidak perlu pembelaan siapa-siapa, Adela sangat percaya diri jika dia mampu membela dirinya sendiri.


"Mengapa aku merasa jika ada sesuatu yang tidak aku ketahui yang terjadi antara kamu, Linda, Riska, dan terakhir Irwan, dia terlihat sangat cemas mendengar kamu sedang berada di dalam kamar bersama pria, begitu pun saat dia melihat kamu baik-baik saja, dia terlihat sangat lega, padahal adik perempuannya dalam keadaan tidak baik-baik saja." Dito mengungkapkan semua yang menjadi pertanyaan dalam hatinya dan mengeluarkan semua ganjalan dalam dadanya.


"Lantas mengapa tidak anda tanyakan pada mereka saja? Karena sekali lagi, kalau anda bertanya pada saya, jawabannya mungkin akan sama seperti tadi, tidak akan berubah, saya tidak punya masalah dengan mereka." Tegas Adela keukeuh tidak mau membuka masalah pelik rumah tangganya yang kini sudah menjadi masa lalu yang tak ingin dia buka kembali.


"Baiklah, untuk saat ini aku percaya pada mu, dan mungkin besok lusa aku akan menanyakan hal serupa pada Linda dan juga Irwan, maaf jika aku terkesan terlalu ikut campur masalah pribadi mu, tapi aku merasa harus melindungi mu," kata Dito.


"Kenapa harus?" Adela mengernyit.

__ADS_1


"Karena aku menyukai mu, aku tidak akan berbelit-belit, jujur saja, sejak awan bertemu aku sudah tertarik dengan mu, semakin kesini aku menjadi suka pada mu, aku menyukai mu," kata Dito menghentikan lngkahnya saat mereka baru saja sampai di basement gedung untuk mengambil kendaraan.


"Pak, apa anda sedang mabuk?"


"Tidak, sejak tadi bahkan aku tidak meminum setetes pun alkohol karena malam ini aku berniat untuk menjaga mu. Namun hampir saja aku menyalahkan diri ku sendiri, sat aku mendengar ucapan Linda bahwa kamu sedang bersama seseorang di kamar hotel, kalau sampai itu benar terjadi, sepertinya aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri." Ujarnya sambil mengelus-elus dadanya sendiri yang bidang dan menggoda.


"Anda terlalu terburu-buru menyatakan cinta, anda terlalu mudah jatuh cinta rupanya, bahkan dengan saya yang anda sendiri tidak tahu latar belakang dan seperti apa kehidupannya,"


"Aku tidak peduli apapun latar belakang mu, apapun kisah yang terjadi di masa lalu mu, aku ingin menjadi pelindung dan mencintai mu di masa depan, asal kamu tahu, aku belum pernah menyatakan cinta pada wanita mana pun dan aku juga belum pernah jatuh cinta selain dengan mu, aku berani bersumpah!" Ujar Dito lagi seraya mengacungkan jari telunjuk dan jadi tengahnya sebagai bukti jika dia benar-benar bersumpah.


"Cih,ungkapan cinta macam apa ini, sangat tidak romantis!" Decih Adela, sejujurnya dia merasa bahagia dan hatinya menghangat mendengar pernyataan cinta Dito padanya, tapi dia harus tetap cool, dan tidak menunjukkan hal itu, terlebih urusan perceraian secara negara dengan Irwan belum selesai, berarti secara negara dia masih merupakan istri sah Irwan, jai dia tidak ingin melibatkan Dito terlalu jauh ke dalam masalahnya.


"Aku akan mengulanginya dengan suasana yang lebih romantis sesuai dengan yang kamu inginkan,"


"Tidak perlu!" Jawab Adela.


"Apa ini berarti kamu menolak ku?" Tanya Dito.


"Apa anda akan menyerah?" Ujar Adela seperti menggantung pertanyaan Dito dengan jawaban yang tidak pasti.


Sementara tak jauh dari sana seorang wanita mengepalkan kedua tangannya menahan marah dan kesal karena melihat adegan penembakan Dito terhadap Adela yang di saksikannya secara live dan membuat dirinya merasa sangat cemburu.

__ADS_1


__ADS_2