
"Bu,,, apa yang sudah ibu lakukan di rumah Bayu? Apa yang ibu bicarakan dengan ayahnya? Kenapa ibu melakukan semua itu tanpa meminta pendapat ku terlebih dahulu? Kacau semuanya!" teriak Riska memaki-maki ibunya yang hanya bisa terdiam karena tidak menyangka jika aksinya mendatangi rumah Bayu akan bocor juga ke telingan sang putri yang kini terlihat sangat murka.
"I-Ibu hanya mencari keadilan untuk mu, ibu meminta pertanggung jawaban dari keluarga Bayu, mereka harus tahu dan mereka juga harus bertanggung jawab atas kelakuan putranya yang telah menodai mu." Kelit Sari membela diri.
"Aku tidak perlu bantuan mu, aku bisa menyelesaikan permasalahan ku sendiri, jangan memperumit keadaan bu, tolong! Hidup ku sudah cukup rumit sekarang ini, tolong berhenti bersikap konyol!" Ujar Riska lagi.
"Apa, konyol? Ibu berbuat seperti ini demi masa depan mu dan kau berani mengatakan ibu konyol? Bukankah yang pantas di sebut konyol itu kamu, huh? Masih saja mengejar-ngejar Dito, padahal jelas-jelas dia tidak mau pada mu, itu baru konyol! Hidup itu yang pasti-pasti saja, tadi nya ibu mendukung mu untuk mengejar Dito, tapi jika Bayu bisa membawa mu ke dalam keluarga Wijaya dengan jalur cepat dan menjamin masa depan mu menjadi nyonya kaya raya, lantas untuk apa masih mengharapkan Dito yang jelas-jelas tidak bisa kau dapatkan!" Sari kini balik memaki dan meneriaki putrinya yang berani mengata-ngatainya dengan sangat lancang.
"Terserah, pokoknya aku minta ibu berhenti ikut campur dalam masalah ku!" Kata Riska sambl berlalu pergi dari rumah seraya membanting pintu.
"Riska! Jangan kurang ajar kamu, ibu tidak akan berhenti sampai kau menikah dengan Bayu dan menjadi nyonya di keluarga Wijaya!" Teriak Sari dengan wajah yang memerah semerah tomat matang akibat saking marahnya.
"Aku akan menjadi nyonya Wijaya dengan cara ku, dan hanya kak Dito yang akan menjadi suami ku, bukan yang lain!" gumam Riska menanggapi teriakan ibunya dari dalam rumah yang masih bisa dia dengar meski dia kini berada di halaman rumah.
*
Riska berjalan di loby kantor dengan langkah penuh percaya diri, meski hampir setiap orang yang dia lewati menatapnya dengan tatapan aneh dan beberapa di antaranya juga dengan terang-terangan berbisik-bisik membicarakan dirinya, namun Riska seolah menulikan telinganya dan tetap berjalan menuju ruangannya.
__ADS_1
"Dasar kulit badak, bermuka tebal, masih berani kau menampakan diri di kantor? Apa kau masih punya wajah untuk menghadapi kami?" Sinis Desi yang kini sudah tahu jika Riska adalah musuh dalam selimutnya, berpura-pura mendukungnya padahal berniat menikamnya.
"Aku tidak tertarik untuk berdebat dengan pecundang seperti mu, yang hanya bisa menindas orang-orang yang kau anggap menyukai kak Dito dengan meggunakan jabatan mu, karena itu tak akan mempan bagi ku." Sinis Riska seolah ingin menunjukkan taringnya dan seolah ingin mengatakan pada Desi jika dirinya bukan lawan yang sepadan untuk Desi.
"Cih, bocah tak tau diri, tidur dengan siapa, minta tanggung jawab pada siapa, dasar murahan! tahu seperti ini sih, mending aku mendukung pak Dito dengan Adel, kau tidak tahu kan bocah, jika malam itu pak Dito menyatakan cintanya pada Adel, sementara kau malam itu sedang berhalusinasi di tiduri pak Dito, bangun woy!" ejek Desi memanas-manasi Riska yang langsung berdiri dari kursi yang baru saja di dudukinya itu.
"Apa, kak Dito menyatakan cinta pada Adel? Ini tidak bisa di biarkan!" Riska bergegas menuju ruangan Adel, dia ingin mengeluarkan amarahnya yang beberapa hari ini tersimpan di dadanya.
"Adel, kau pel- lacur tidak tahu diri, kau menggoda kak Dito, bukankah sudah aku katakan kalau kau tidak boleh mengganggu kak Dito!"
Begitu sampai di ruangan Adel, makian kasar itu langsung meluncur dari mulutnya, bahkan dengan kasar dia mnerobos pintu ruang kerja Adel yang memang tidak tertutup sempurna itu.
"Jauhi kak Dito, aku katakan pada mu sekali lagi jauhi dia, jangan pernah coba-coba bermimpi untuk merebutnya dari ku, atau---"
"Atau apa? Katakan? Kenapa kau senang sekali membuat kekacauan di sini? Bukankah kau datang ke sini untuk bekerja? Mengapa selalu saja membuat onar, jangan sampai aku berubah pikiran dan jangan mengatakan aku kejam jika aku memberhentikan mu karena kelakuan mu yang buruk ini!" Dito tiba-tiba sudah berada di ambang pintu dan melangkah mendekati Riska yang terlihat kaget karena tidak menyangka jika Dito akan mendengar pertengkarannya dengan Adela.
"Kak Dito,," cicitnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kau mengancam Adel seperti itu, memangnya kenapa kalau aku dan Adel memutuskan untuk bersama, bukankah ini tidak ada hubungannya dengan mu?"
"Tentu saja ada, aku bisa membuat kak Dito tidak bisa menjalin hubungan dengan dia, tidak akan bisa!" Cengir Riska.
Dito mengernyit, dia tidak paham dengan apa yang Riska bicarakan padanya. "Maksud mu? Kenapa tidak bisa?"
"Karena status dia masih menjadi istri orang, bahkan aku bisa membuat mereka tidak akan pernah bercerai, atau mungkin mereka juga bisa saja rujuk kembali!" ujar Riska dengan santainya seolah kini dia mendapatkan kartu AS keberuntungannya.
"Apa itu yang membuat mu belum bsa menerima ku? Kamu masih belum bercerai?" Dito kini beralih menoleh ke arah Adela.
Jujur saja, sebelumnya Adela tidak terlalu memikirkan mengenai akta cerai, berpisah dari Irwan secara agama saja buatnya itu cukup, namun ternyata dia tidak menyangka jika hal ini juga akan dia perlukan di kemudian hari.
"Tentu saja, mereka belum bercerai, dan kak Dito akan berurusan dengan hukum jika menjalin hubungan dengan istri orang, belum lagi nama baik kakak juga akan di pertaruhkan jika sampai semua ini bocor ke publik!" Riska menakut-nakuti.
"Bagaimana bisa kamu seolah paling tahu tentang kehidupan Adel, bukan kah kalian tidak saling mengenal?"
"Karena---karena dia---" Kini Riska seakan terjebak dengan ucapannya sendiri, seolah maju kena mundur juga kena.
__ADS_1
"Katakan!" desak Dito..
"Karena aku mantan kakak iparnya!" Celetuk Adela akhirnya membuka tabir yang selama ini di tutupinya dengan rapat.