
"Oh tidak, Ri-Riska!" pekik Adela tertahan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Mendengar pekikan lirih Adela, Dito yang berdiri tepat di sampingnya seketika menoleh, "Kamu mengenal nya?" tanya Dito semakin mengerutkan keningnya.
Belum sempat Adela menjawab pertanyaan Dito, suara lantang Riska memgejutkan semua yang berada di sana.
"Dia di sini, Adel di sini, ampun,,,, ampuni aku,,,, maafkan aku,,, aku bersalah,,,, aku minta maaf!" teriaknya sambil menunjuk tepat ke arah Adela.
Kini semua mata tertuju pada Adela yang merasa kebingungan karena tiba-tiba Riska menununjuk-nujuk dirinya, dalam hati Adela bertanya-tanya apakah Riska benar-benar mengenali dirinya, atau hanya karena pikiramn linglungnya saja.
"Ini aku, ini Adel,,, ada apa? Aku sudah memaafkan mu sejak dulu, tenanglah!" kata Adelia mendekati Riska yang terus berontak.
"Tidak, buka---bukan---bukan kamu tapi dia, dia Adel yang aku maksud, dia!" Riska terus berontak dan menunjuk-nunjuk Adela.
"Apa kamu tidak keberatan jika menemuinya sebentar? Ah,,, aku akan menemani mu, jangan takut!" ujar Dito pada Adela.
Adela hanya mengangguk pelan, meski ada rasa sedikit takut di hatinya, namun rasa penasaran sudah mengalahkan rasa takutnya itu, ditambah lagi jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak karuan saat Dito menuntunnya untuk masuk ke ruangan tempat dimana Riska berada.
Langkah kaki Adela yang setengah di seret karena merasa ragu dan takut untui mendekat ke arah Riska membuat wanita setengah baya yang duduk di atas kursi roda itu merasa tidak sabaran untuk lebih cepat mendekat pada Adela.
"Kau--- untunglah kau baik-baik saja, aku pikir aku telah membunuh mu saat kecelakaan itu, kau menghilang begitu saja sejak saat itu, maafkan aku,,, itu semua karena aku terlalu egois dan terlalu mencintai Dito, tapi Tuhan telah menghukum ku, aku seperti ini sekarang, lihatlah,,, aku menebus semua kesalahan ku pada mu selama puluhan tahun, aku cacat!" Riska yang setiap harinya biasanya hanya berbicara tidak jelas karena depresi itu, kini berbicara dengan serius pada Adela.
Mendengar ucapan Riska, Adela tidak bisa menjawab apa-apa, selain dirinya tidak tau harus berkata apa, dia juga tidak mau orang-orang yang berada di sana malah menganggapnya sama gilanya dengan Riska, apalagi dengan banyaknya sikap aneh yang Adela tunjukkan setelah dia sadar dari komanya.
"Adel, kak Irwan dan Mbak Linda sudah tiada, begitu juga ibu, hanya tersisa aku sendirian di sini, menanggung semuanya, aku mohon pada mu, maafkan juga kesalahan mereka, maafkan kakak ku dan keluarga ku yang pernah menyakiti hati mu, maafkan aku yang juga telah sangat jahat pada mu, hidup ku selalu di hantui rasa bersalah selama ini." sambung Riska menelungkupkan kedua tangannya di dada sembari berurai air mata.
"Irwan dan LInda?" gumam Adela.
"Dia mantan suami ku dan istri barunya." terang Adelia, menjelaskan siapa Irwan dan Linda pada Adela yang tentu saja sangat tahu dan mengenal mereka, hanya saja yang membuat Adela terkejut adalah kabar kematian mereka.
__ADS_1
"Mereka kecelakaan lima tahun yang lalu, di tahun yang sama ibunya ikut berpulang dan Riska tidak ada yang mengurusnya, sehingga kami sepakat untuk mengurus Riska bersama-sama, sejak kecelakaan dua puluh empat tahun lalu, Riska tidak pernah mau berbicara dengan benar pada siapapun, tapi kali ini,,, dia berbicara dengan sangat baik pada mu, nak. Apakah yang aku pikirkan saat ini---- ah tidak!" Dito menggeleng, dia tidak jadi menyampaikan apa yang ada di pikirannya pada Adela.
Adela mengernyitkan kening mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Dito, dia penasaran apa yang sebenarnya Dito pikirkan tentang dirinya.
Namun baru saja dia ingin menanyakan itu pada Dito, suara teriakan Adelia membuyarkan semunya.
"Riska, apa yang terjadi?" teriak Adelia saat melihat Riska tiba-tiba terkulai lemas di atas kursi rodanya.
Saga dan Dito sigap membopong Riska, dan membaringkan wanita itu di atas kasurnya, sementara Bayu langsung menelpon dokter keluarga Wijaya yang selalu siap saat di perlukan setiap saat.
"Adel,,, Adel,,," suara lirih dan lemah terdengar keluar dari bibir kering Riska.
Adelia mendekat, "Aku di sini," bisiknya.
"Bukan, bukan kamu tapi dia, Adel!" Riska memberi isyarat dengan matanya, karena dia sudah tidak mampu lagi untuk menunjuk Adela dengan tangannya.
"Aku akan menemani mu untuk mendekat ke sana." ajak Dito menggiring Adela untuk lebih mendekat ke tempat dimana Riska terbaring.
Sangat tidak mungkin juka dia tertarik pada gadis yang lebih cocok menjadi putrinya itu, terlebih dia juga sangat mencintai dan menyayangi istrinya Adelia yang telah memberinya seorang anak yang kini usianya mungkin tidak jauh dri Adela.
"Adel, maafkan aku, aku senang bisa bertemu lagi dengan mu, aku ingin tenang dan tidak di hantui rasa bersalah lagi, selama ini aku hanya menunggu keajaiban bisa bertemu lagi dengan mu, aku tidak bisa pergi sebelum aku menerima maaf mu." lirih Riska dengan suara yang terputus-putus.
Air mata Adela tanpa terasa menetes di pipinya. Tangan Adela terulur menggenggam tangan keriput dan kurus milik Riska. "Aku memaafkan mu, aku memaafkan semua kesalahan mu di masa lalu, aku sudah memaafkan semuanya." bisik Adela di telinga Riska seakan tidak mau orang lain mendengar apa yang di ucapkannya.
Sebuah senyuman tergambar di bibir Riska sebelum akhirnya dia menutup mata.
"Maaf, nyonya Riska sudah meninggal." ujar dokter yang tak selang berapa lama datang dan memriksa keadaan Riska.
Tangisan pecah di ruangan itu, terlepas dari semua kejahatan yang di lakukan Riska di masa lalu, mereka yang berada di sana, Dito, Adela dan Bayu sangat menyayangi Riska dengan versi mereka masing-masing, mereka merasa sedih kehilangan Riska yang di sepanjang hidupnya seakan hanya menanggung karma dari semua kejahatannya di masa lalu, namun di akhir hidupnya dia justru memejamkan mata dengan sebuah senyuman, mungkin itu satu-satunya yang membuat mereka merasa ikhlas melepas kepergian Riska.
__ADS_1
"Del, apa yang kamu bisikan di telinga tante Riska sebelum dia meninggal?" bisik Wini di tengah prosesi pemakaman Riska sedang berlangsung, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada sahabatnya itu, namun keadaanterlalu sibuk akibat mengurus pemakaman sehingga dia tidak punya kesempatan untuk menanyakan padanya.
"Aku hanya membisikkan hal manis padanya, makanya tante mu tersenyum." jawab Adela membuat Wini hanya mendelik kesal karena jawaban Adela tidak membuatnya puas.
Selesai pemakaman, justru Adela malah pamit untuk pulang duluan, Adela merasa sudah cukup membuktikan jika apa yang di alami dirinya saat tidak sadarkan diri adalah nyata, dia hanya ingin meninggalkan mereka dengan kehidupan mereka sendiri, karena dirinya hanya seseorang yang kebetulan tersesat dan hadir di masa itu sesaat.
Adela juga ingin melanjutkan hidupnya tanpa ingin mengungkit masa-masa itu, melupakan jika dirinya pernah di beri kesempatan berwisata waktu ke masa itu dan memberinya banyak pelajaran hidup untuknya.
"Nak Adel, Tunggu!" Dito berjalan mendekat ke arah Adela yang berdiri di sebelah mobilnya, dengan mang Wawan yang standby disana.
"Iya Om?" ujar Adel ramah.
"Terimakasih, aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan, tapi berkat mu kini aku mempunyai keluarga yang sangat bahagia dan mencintai satu sama lain, terimakasih sudah membuat aku dan Adelia saling mencintai sampai sekarang." Ujar Dito.
Entah apa yang mendorong dirinya untuk mengatakan itu pada Adela, namun kata hatinya mengatakan jika dirinya harus berterimakasih atas itu pada Adela.
"Saya ikut bahagiia om!" jawab Adela sembari melemparkan senyumnya, hanya itu yang bisa dia sampaikan pada Dito.
"Del, sebenarnya ada cerita apa yang kamu sembunyikan dari ku? Kenapa kamu terlihat sangat akrab dengan keluarga ku?" tanya Wini masih penasaran, terlebih saat mendengar percakapan antara Adela dan Dito sang paman, dia yakin ada cerita yang terlewatkan olehnya.
"Tidak ada cerita apapun. Kalaupun ada, aku tidak akan menceritakannya pada mu, karena kamu tidak akan mengerti dan percaya!" cengir Adela meninggalkan Wini yang cemberut sambil melambaikan tangan mengiringi kepergiian Adela pulang ke kotanya.
Adela menghela nafas panjang, perasaannya kini terasa sangat ringan, seperti telah melepaskan beban berat di dalam dadanya.
"Selamat tinggal, terimakasih telah menjadi bagian cerita di hidup ku, mari kita jalani hidup kita masing-masing dengan bahagia." ucapnya seraya melirik spion mobil yang masih menangkap gambar Dito, Adelia dan Bayu yang melambaikan tangan padanya dari kejauhan.
---TAMAT---
Terimakasih sudah mengikuti kisah ANOTHER LIFE ADELA sampai selesai, semoga ceritanya bisa menghibur.
__ADS_1
Jangan lupa mampir cerita baru Other yang judulnya BUKAN IKATAN CINTA, mohon dukungannya ya teman-teman 🙏❤️🙏