Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 10


__ADS_3

Esok paginya...


Citt... Suara burung yang biasa membangunkan pagi hariku, aku langsung bangun dan beranjak berdiri dan mengambil handukku langsung mandi, aku melirik ke arah jam dinding menunjukan pukul 9:05 pagi.


 


Selesai mandi aku langsung memakai baju tangan panjang dan celana panjang yang seperti jeans katun warna biru tua, ditambah jaket musim dingin warna merah maroon, sepatu hitam mengkilap kupakai, dan ponsel yang ku genggam di tanganku ini aku langsung menelepon Arian.


"Aku segera kesana, tunggu yah, oh iya selain buah kau ingin kubelikan apa ?" kataku yang menawarkan sesuatu yang lebih untuknya.


"emm.. Kau akan bermalam disini Rin ?" tanyanya yang tidak menjawab pertanyaanku.


"hanya sampai malam tapi untuk menginap aku tak bisa , karena aku ada urusan esok paginya" jelasku pada Arian yang cukup lama menjawabnya.


"belikan aku pengaman" katanya yang ketus  itu.


"maksud mu pengaman ?" aku yang kebingungan.


"pengaman supaya kau tak bundar ntar" jelasnya yang kini aku mengerti.


"Astaga Arian haha, kau diam-diam juga ternyata.. Hahaha... Jangan membuatku berubah pikiran untuk tidak bermalam di apartmentmu Arian haha" candaku yang membuat wajahku kembali seperti beberapa hari sebelumnya.


"haha.. Rin?" serentak aku berhenti tawaanku.


"yah ?"…


"maaf aku tak bisa mengantarmu, tapi hati-hati :)" keluhnya dia yang buat aku makin mencintai nya sangat.. mencintai nya.


"tak apa, tentu aku akan hati-hati" seperti biasa dia tak ada pesan terakhir langsung mematikan teleponnya, aku langsung jalan dan menuju keluar dan berjalan menuju lift down, aku telah sampai di lobby aku tak mengendarai mobil ku , aku lelah aku ingin diam jadi aku simpan saja di parkiran dan aku menaiki taxi untuk menuju minimaket di dekat apartment Arian depannya ada minimaket jadi sekalian saja, sampailah di depan apartment nya Arian aku langsung mampir dulu ke minimaket didepannya aku langsung membeli buah kesukaannya Jeruk dan Apel hijau yah dia suka itu aku melewati lorong-lorong display food lain dan melewati tempat.. 'pengaman' haha , Arian sungguh membuat mukaku memerah, awas saja ntar jika kamu utuh menjadi milikku aku akan 'menyerangmu' duluan Arian.. Aku langsung membayar dan keluar, kemudian aku menyebrang dan menuju lift up, sampailah di lantai 15 , aku langsung menuju tempat apartment nya kemudian ku ketuk pintunya.


 

__ADS_1


tok tok tok tok...


 


"Tunggu sebentar" Suara Arian yang agak serak membuatku semakin tak tega mendengarnya, kemudian dia membuka pintunya dan kini giliranku menyambut nya.


"selamat siang tuan tampan" kataku sambil membungkukkan 90° ke arahnya.


"haha.. Masuklah.." katanya menuntunku masuk kedalam, tangannya sangat panas, apa benar nggak apa-apa?.


"Ian.."..


"yah Rin?"...


"tanganmu panas , apa kau tak apa ?" aku agak mengerutkan dahiku , dan dia mempersilahkanku duduk di sofanya.


"iya, tak apa, kau ingin teh ?" katanya yang enteng itu, dan sambil menawariku minuman.


"iya..!" katanya juga yang berteriak, selesai lah dia membawa teh dan pisau dia langsung duduk di samping kiriku dan menyodori pisau itu ke arahku.


"pelan-pelan yah :)" katanya sembari tersenyum, ya tuhan.. Senyuman itu ? Sudah lama aku tak melihatnya lagi tersenyum seperti itu, kemudian akupun mulai mengupas apel hijaunya setelah selesai aku memberikan apel yang sudah ku potong hingga 4 itu , aku langsung ke dapur untuk menyuci tanganku dan kemudian aku kembali duduk di samping nya aku melihat ke arah wajah nya yang seperti nya menahan rasa asam haha sangat lucu sekali.


"kenapa kamu nggak makan juga ?" dia yang mengangkat alisnya itu sambil mengunyah buahnya.


 "nggak, kamu aja, aku kenyang kok" aku yang sembari tersenyum menatapnya.


 


...


 

__ADS_1


Malam harinya di apartment Arian, yap.. Aku masih di apartment Arian , suhu badannya tak turun juga , aku khawatir akan terjadi sesuatu. Aku terus mengompresnya , aku membuka kan bajunya jadi ia telanjang dada saja.


"maaf Arian aku harus membukanya, karena aku juga harus mengompres di bagian perutmu dan punggungmu" jelasku padanya , dia hanya mengangguk sambil mata terpejam di kasurnya , mukanya yang sangat merah itu jadi nggak tega banget.


"Rin.." lirih suaranya memanggilku.


"yah Ian ?" aku yang sambil membenahi handuk kompresannya di jidatnya itu.


"bisakah semalam kau tidur disini ?" pintanya yang semakin membuatku tak tega.


"iya Ian, aku akan menjagamu sampai esok, istirahat lah" kataku untuk memutuskan bermalam disini.


"Rin.." katanya lirih lagi sambil memejamkan matanya.


"apa ?" tanyaku.


"bawa nggak ?" masih memejamkan matanya.


"bawa apa ?" tanyaku heran padanya.


"pengaman itu" dia masih memejamkan matanya tapi kali ini mulutnya sedikit tersenyum, mukaku mulai memerah.


"cepatlah tidur" aku menahan tawa dan aku cuman bisa memejamkan mataku sambil tersenyum hebat.


"memangnya kamu nggak takut kalau nanti.." aku langsung memotong pembicaraan nya.


"sudahlah Arian .. Tidur.. " aku mulai nggak bisa menahan tawaku ini jantungku seakan-akan loncat dari tempatnya, justru.. Aku takut malam ini aku yang 'menyerangmu'.


 


Tak sadar akupun tertidur disampingnya terlutut sambil memegang rambutnya Arian.

__ADS_1


***


__ADS_2