Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 38


__ADS_3

Arian pun berjalan menuju ruang meeting, sesampainya di ruangan sudah ada pegawai-pegawai dan orang tua nya Arian.


"selamat pagi semua" Kata Arian yang langsung menyimpan kopernya dan duduk , sambil menilik-nilik file kemudian Arian pun bertanya pada salah satu pegawainya.


"ini kok bisa cepet banget turunnya ? Dari bulan ke bulan ?" tanyanya.


"itu karena uang yang di pakai keperluan kantor nggak balance sama yang di data pak" jawab pegawai laki-laki.


"kenapa bisa nggak balance ? Bukannya semua pas awal sama dan sebandingkan ? Kenapa ? Siapa yang urus ini semua ?" tanya Arian.


"pak wildan pak" jawabnya yang membuat Arian makin kesal hari ini karena ulah Rey sekarang bapaknya, pak wildan pun langsung bungkam dan tertunduk, Arian pun menatap tajam kearah pak wildan dan Arian pun langsung berdiri dan berjalan menuju kursi yang di dudukki pak wildan kemudian dia memegang belakang kursi nya dan berbisik ke telinga pak wildan.


"bapak.. Dengan hormat saya minta anda keluar dari perusahaan ini !" Kata Arian yang sangat marah pada pak wildan.


"tapi pak.." belum beres ngomong.


"apa bapak tidak bisa membuka pintunya ? Biar saya yang buka" Kata Arian yang berjalan menuju pintu dan membukakannya dengan lebar.


"silahkan pak, nanti gaji terakhir anda saya transfer" lanjut Arian, pak wildan hanya diam saja karena memang pak wildan menyadari kesalahannya dia pun berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


"terima kasih sudah membantu perusahaan selama ini" Kata Arian , pak wildan pun pergi meninggalkan tempat meeting tanpa bicara apapun.


.


.


Setelah meeting orang tua Arian pun masuk ke ruangan Arian.


"Nak" Kata mamahnya Arian.


"eh mah pah.. Duduk dulu" Kata Arian dan mereka pun duduk di susul Arian.

__ADS_1


"ada apa mah pah ?" Tanya Arian.


"kamu benar-benar tega yah Arian pak wildan kan butuh kerjaan masa masalah gitu kamu pecat tanpa dengerin penjelasan pak wildan lagi" protes mamahnya Arian.


"iya ian.. Kamu itu kalau bertindak sesuatu di fikirkan dulu jangan gini, papah kecewa lho ini" protes juga papahnya Arian.


"aduh mah pah Arian itu nggak bisa jelasin yang sebenernya sama kalian, intinya jika pak wildan terus ikut di perusahaan kita, lama-lama perusahaan kita jadi bankrut , ok fine jika pak wildan Arian maafin dan terus kerja di sini dan kalau awalnya sudah seperti ini kesana nya juga Arian nggak bisa jamin masa depan perusahaan kita gimana , tolong mah pah ngertiin Arian ini demi perusahaan kita yah" jelas Arian pada orang tua nya.


"hmm.. Anak mamah itu jiwa usaha nya sungguh di luar otak manusia biasa kamu sangat disiplin sekali" Kata mamahnya.


"yah papah ngerti kesitu kok ian dan yah memang sudah saatnya papah pensiun dan ahli waris ini di serahkan sama kamu , papah bangga sama kamu , jika suatu saat papah nggak ada," ..


"Pahh ihh jangan ngomong gitu dong" kata mamah yang sambil mukul lengannya papah.


"iya nih papah kalau ngomong kemana aja" Kata Arian.


"haha iya sudah ya sudah papah sama mamah ada urusan dulu" Kata papahnya Arian pada Arian "iya udah hati-hati yah" Kata Arian , mamah dan papah pun langsung keluar dari ruangan ..


.


.


.


.


Malam hari... Di kamar, Arian dan aku sedang tiduran sambil nonton tv.


"sayang.. Tadi di kantor gimana ?" tanyaku, dia pun langsung menghela nafas berat.


"iya begitulah.. Jadi gini tadi tuh pak wildan kan ayahnya Reynando nah pak wildan itu bikin masalah hasil jumlah nggak balance gara-gara di atur sama dia akhirnya aku pecat.." jelasnya padaku, akupun kaget.

__ADS_1


"apa ?! Kok kamu tega banget ? Kan harusnya kasih kesempatan dong kedia jangan main ambil tindakan gitu gimana sih kamu, kamu tau kan Reynando itu temen kita nanti kalau dia gimana-gimana ke kita kan nggak enak gimana sih kamu" omelku yang membuat Arian terdiam ketus.


"heh.. Dengerin dulu kalau suami ngomong , kamu kebiasaan yah selalu nyerocos kayak emak-emak nawar minyak seperempat di pasar, ada maksud lain juga di balik semua itu, aku mau ngomong serius sekarang dengerin yah" katanya dan suaranya makin sini makin kecil.


"kamu mau ngomong apa ?" kataku heran.


"aku mau Anjasta di keluarin dari penjara.. Dan.." belum selesai bicara udah aku potong lagi.


"kamu itu gimana sih ? Kamu hilang ingatan atau apa sih ? Orang jahat kayak dia itu nggak layak buat kelayapan di luar gimana sihh Arian.." mulutku di tutup langsung oleh tangannya akupun langsung terdiam.


"sstttt!! Nanti kedengeran orang gimana, nih yah sayang kuu dengerin .. Aku baru tau dan baru ingat semua itu ulahnya Reynando..." katanya.


"apaaa ??" teriakku.


"sstt.. Seriusan aku , soalnya waktu Anjasta mau bunuh aku pakai pisau lipat, pisau itu mirip banget sama yang punya Rey dan tau nggak kain yang buat nyumpel mulut kamu waktu itu , itu tuh sebenernya sapu tangan dan sapu tangan itu mirip banget sama yang punya Rey, dan ini pembuktian yang terakhir waktu Anjasta di bawa sama polisi kita di duduk di luar mobil medis kan ? Aku liat ada Reynando dari kejauhan tapi jelas banget itu memang dia aku juga nggak habis fikir yang lakuin ini semua temen kita sendiri" jelasnya yang membuatku membisu seketika dan nggak bisa ngomong apapun lagi aku benar-benar syok dan benar-benar nggak nyangka kenapa tega banget Reynando lakuin ini kenapa harus kayak gini.


"besok aku telepon Reynando dan obrolin semuanya, aku benar-benar nggak nyangka sumpahh.." kataku dan akupun menangis aku pun di peluk Arian sambil mengelus-elus rambutku.


"udah sayang jangan nangis udah malam.. Dan menurutku besok kamu jangan telepon dia dulu biarkan seperti ini nanti kita kan ke Aussie lagi biar jelas kita langsung rundingin semua ini yah sayang" Kata Arian dan diapun memelukku lagi erat.


"tapi aku benar-benar ingin membicarakannya ian" kataku sambil nangis.


"kita nggak boleh gegabah dengan masalah ini Rin, kamu harus tenang tapi otak kita bertindak ok , sebagai ganti dari kesedihan ini aku punya 2 tiket pesawat ke bali buat kita honeymoon" katanya yang membuat tangisku berhenti.


"apa ? , kamu itu aku lagi ketakutan syok gini malah ngomong-in ini" kataku yang kemudian akupun langsung menarik kerah bajunya dan kucium bibir nya... Selanjutnya Arian yang menyerangku.


"huufp.. Tunggu dulu.. Jadi kamu Setuju besok kita ke bali ?" katanya.


".. Why not ?" kataku diapun menyerangku lebih liar.


***

__ADS_1


__ADS_2