
Setelah beberapa hari mendecor rumah, renovasi beberapa yang kurang juga akhirnya selesai.
Tepatnya di ruang teh sore hari aku dan Arian sedang menikmati minum teh bersama, kepalaku di taruh di pundaknya Arian sambil ia mengelus-elus rambutku.
"sayang.." kata Arian yang tiba-tiba berhenti meminum teh itu.
"apa sayang ?" tanyaku.
"capek nggak habis nge-decor rumah kamu ?"
"lumayan, tapi rasa lelah aku nggak setara sama rasa bahagia aku, makasih yah sayang" akupun membenah posisi dudukku jadi tegap, Arian pun mencium pipiku lalu tersenyum padaku.
"nggak usah bilang makasih sayang, itu udah kewajiban aku buat bahagia-in kamu, aku nggak mau liat kamu sedih, karena tugasku menjaga kamu juga, aku mesti buktiin ke kamu, ke orang tua kita, bahwa aku mampu membuat wanita yang sangat aku cintai merasa nyaman dan terlindungi, dan inilah hasilnya, ini untukmu, untuk anak-anak kita nanti" kata Arian yang membuatku merasa sangat beruntung dimilikinya, Arianpun mencium bibirku, kemudian tersenyum dia menaruh cangkir tehnya dan akupun terdiam, Arian pun berdiri dan jongkok di depanku.
"eh ngapain ?" tanyaku yang sambil menaruh teh nya.
"gendong sini, kita lanjut di kamar" katanya yang membuatku berdebar. Akhirnya akupun di gendongnya ke kamar .
"udah siap punya anak dari aku ?" Arian bertanya yang sontak membuatku kaget, aku hanya tersenyum dan mengangguk malu lalu tertawa, Arian pun tertawa.
"oke, siap-siap yah haha" lanjutnya yang membuatku malu sekali.
"udahlah berisik ian, aku gugup" kataku.
"kok gugup ? Kita kan udah saling tau, kayak baru malam pertama aja" katanya.
Setelah sampai kamar lalu di tutup pintunya.
.
.
Malam hari. Sekitar jam 11.25PM kami masih di balut selimut tanpa busana, ada telepon berbunyi di hp nya Arian.
__ADS_1
"aduh siapa sih jam segini telepon?" keluh Arian sambil mengambil hp nya di pinggir lampu malam.
Akupun terbangun dari tidurku.
"ada apa sayang ?" tanyaku.
"eh kebangun sayang ?, ini nih nggak tau ada yang telepon jam segini, tapi nggak tau dari siapa, pas mau di angkat eh mati" jelasnya padaku.
"coba liat nomer nya" akupun membenahi posisi tidurku yang sekarang sambil memeluk Arian dan memegang hpnya.
"nggak ada waktu besok apa? Telepon jam segini" kataku yang agak kesal.
"kenal nggak kamu ?" tanya nya.
Aku menilik nomernya dengan seksama.
"nggak, aku nggak kenal, kalau kerabat kantor kamu mana mungkin jam segini telepon" jelasku.
.
.
.
Keesokan harinya, telepon pun berdering kembali dan kali ini di angkat oleh Rin, tapi tidak ada jawaban.
"nggak malem nggak pagi, siapa sih! ?" nada kesalku.
"mungkin orang iseng kali sayang" jawab Arian.
"di hallo-hallo nggak ngejawab, maunya apa sih, coba kamu inget-inget terakhir kali ngasih nomer handphone ke siapa aja ?" tanyaku pada Arian kesal.
"nggak ada sayang, paling yang tau cuman sekretaris aku, terus kerabat penting di kantor, udah segitu" Arian masih tenang-tenang aja ngadepin sikapnya aku yang emosi sedari malam.
"nggak guna banget sumpah!" aku masih emosi langsung meninggalkan Arian yang sedang sarapan ke kamar.
__ADS_1
"sayang.. Rin.. Heyy, ayolah jangan gini, aku mau meeting sekarang ntar kalau nggak konsentrasi gimana, Rin.. Astaga!" Arian yang menyusulku ke kamar, untuk membujukku.
Beberapa menit kemudian pembantu kami pun mengetuk pintu kamar kami, di bukalah oleh Arian.
"sorry sir interrupt, outside there is someone who wants to meet you" kata pembantu.
"who ?" tanya Arian.
"I don't know, he said, this is important" jawabnya.
"Alright, I'll catch up soon, tell him to come in first and give him a drink" kata Arian yang sambil merapikan jasnya.
"okay sir" pembantu pun berlalu untuk membuka kan pintu di depan.
Arian duduk di sebelahku lagi, kemudian aku bertanya.
"ada apa ?" tanyaku.
"katanya di luar ada yang mencariku, ntah siapa, aku mau kedepan dulu yah"
"aku ikut" kataku yang sambil membenahi rambut, pipi, dan bajuku.
"yaudah ayo" katanya sambil berdiri.
Setelah kami berdua keluar kamar dan menyusuri beberapa ruangan, ternyata seorang perempuan sepertinya sedang hamil sambil menangis ter-engah-engah.
"excuse me, are you looking for me?" tanya Arian.
Tiba-tiba perempuan itu menangis beranjak dari duduknya dan memeluk Arian, sontak kami berdua pun kaget kebingungan.
***
__ADS_1