
Akhirnya Rin pun sampai di kantor polisi untuk bertemu Anjasta.
"What's wrong, madam?" tanya petugas polisi itu padaku.
"I want to visit a prisoner named Anjasta Rindra" kataku pada petugas polisi itu.
"what is the relationship between madam and Anjasta?"
"I am a relative" jawabku.
Akhirnya akupun dibolehkan untuk membesuk Anjasta, kita berduapun terduduk saling berhadapan.
"ada apa Rin ? Tumben ?" tanya nya.
"Arian masuk RS Jas"
"terus urusan sama gua apa ?" sambil mengangkat kedua alisnya.
"gua pengen cerita sama loe, beberapa hari yang lalu ada perempuan datang ke rumah gua dalam kondisi hamil besar, dan perempuan itu mengaku jika bayi yang di kandungnya itu adalah bayinya Arian, gua syok dong, sedangkan selama ini gua sama Arian itu terus bareng-bareng, mau kemana-mana pasti saling kabarin. Yang bikin gua heran itu dimana perempuan itu bisa tau alamat rumah baru gua ? Dan setelah itu gua sama Arian jadi renggang, kemarin malam aja kita pisah kamar eh besok paginya gua liat Ian udah kegeletak di lantai banyak darah" jelasku sambil nangis.
"kalau masalah alamat sih bisa di lacak di komputer Rin. Dan feeling gua sih kayaknya ini semua ulah Reynando lagi, Rin, gua sebenernya nyesel udah ngelakuin hal tolol itu dulu. Maafin gua yah Rin, udah udah jangan nangis" katanya yang sedih.
"emm.. Bisa jadi sih, nah kayaknya sih dia Jas, gua udah curiga banget, gua tuh rencananya mau masukin dia ke penjara atas kebejatan nya itu, dan gua mau nebus loe buat bantuin gua nanti" kataku.
"nebus ? Arian gimana? Kan dia nggak tau ?" tanya nya yang membuatku diam sejenak.
"kalau masalah itu gampang ntar kalau Arian siuman gua jelasin, sambil mikir juga gimana caranya supaya bisa mancing Reynando masuk penjara" kataku.
"yaudah, gua bantu mikir deh yah" kayanya.
"iya, eh udah yah gua mesti ke rumah dulu ngambil baju buat di RS" kataku sambil pamit.
"oke, hati-hati yah loe, thanks udah mampir"
"oke bye" akupun beranjak dan pergi.
Akupun pergi meninggalkan Anjasta, niatku pulang kerumah untuk mengambil baju dan pergi ke RS, sesampainya di rumah...
__ADS_1
"itukan.. Perempuan yang ngaku dihamilin sama suami aku, mesti tanya sedetail mungkin nih, siksa siksa sekalian, udah kesel tingkat akhir nih" geramku sendiri bercampur rasa kesal.
Akupun turun dari mobil setelah satpam membukakan pagar untukku, perempuan ini tanpa aku suruh menghampiripun dia otomatis langsung bertanya tentang Arian.
"dimana Arian !?" tanya nya yang sambil melotot itu.
"bisa sopan nggak sih ? Pantes aja kamu bunting, kelakuan kamu kayak pelacur gitu haha" hinaku padanya yang cukup membuat hatinya patah.
"apa kamu bilang ? Pelacur ?? Mau ngajak ribut !!? Hah!!? Dimana Arian ??, saya mau ketemu sama dia sekarang" katanya yang emosi itu membuatku menggerutu dalam hati.
"saya nggak mau ribut sebenarnya, mending kamu masuk aja dulu, ada yang mau saya omongin juga" kataku yang sambil jalan menuju pintu masuk di iringi dia di belakangku.
Setelah duduk akupun langsung menyuruh pembantu ku mengambilkan orange jus untuknya.
"kamu ngancam saya!!?" teriaknya.
*PLAAKKK!!!!* tamparanku cukup membuat mulut nya itu sedikit lebih sopan terhadapku.
"nama kamu siapa ?" tanyaku yang menahan geram.
"nggak guna nanya nanya nama saya!!" dia sambil memengang pipinya itu akibat tamparanku.
"masih kurang tamparan dari saya ? Mau tambah ?" kataku. "lebih baik kamu minum dulu" lanjutku.
Akhirnya diapun meminum segelas habis orange jus itu.
"haus kayaknya yah hahaha abis panas-panasan di depan rumah orang yang sedari tadi nggak di bukain pagarnya hahaha" kataku yang ketawa kecut terhadapnya.
__ADS_1
Diapun terdiam sambil menatapku tajam penuh amarah.
"saya tadi bertanya, siapa nama kamu ?" kuulangi pertanyaanku yang tadi dia tak jawab.
"Teo" katanya.
"kamu memang asli indonesia atau gimana?" tanyaku.
"saya asli jakarta"
"oh begitu" kataku yang seketika aku berdiri dan mengelilingi kursinya sambil menatap tajam ke arahnya. "saya mengenal betul Stefan Arian, hampir 10 tahun saya mengenalinya, dan rumah tangga saya baru saja beberapa bulan di susun lalu ada pengacau, bila tak ada maksud tertentu, siapa yang menyuruhmu !? Di bayar berapa ratus juta olehnya !?" kataku sambil menjenggut rambut belakangnya hingga dia mendonghak ke belakang.
Diapun terdiam sambil nahan sakit karena rambutnya masih ku jambak.
"kalau kamu tidak mau jawab saya masukan kamu kedalam penjara biarkan kamu membusuk bersama bayi yang di kandungmu itu" ancamku padanya.
"tidak nyonya.. Jangan, ampuni saya.. Saya hanya di suruh pak Reynando untuk menghancurkan rumah tangga kalian" pengakuannya yang membuatku terkejut dan emang dugaanku benar, tapi aku mengendalikan diriku supaya tak terlihat panik di hadapannya.
"kamu tau tidak, Reynando itu adalah sahabat saya dan Arian dari SMA, saya tidak menyangka Rey akan melakukan hal itu, di bayar berapa kamu sama dia ?" tanyaku.
"500juta" katanya.
"bayi yang di kandungmu itu ?"
"saya sudah menikah 1 tahun yang lalu nyonya" nada nya yang tadi songong jadi sopan banget.
"suamimu tau hal ini ?"
"tidak nyonya"
"mau kerja sama dengan saya untuk menjebloskan Reynando ke penjara ? Biar nanti saya kamu bayar 5X lipat dari Rey, setuju ?" akupun sambil menjulurkan tangan padanya untuk berjabat dengannya.
Diapun tanpa ragu menyetujuinya, yah.. Aku tau wanita ini butuh uang untuk biaya persalinannya dan perlengkapan bayinya nanti. Akhirnya aku menyuruhnya pulang dan kembali lagi besok di RS langsung.
***
__ADS_1