
Pagi hari pun tiba.. Arian yang membangunkanku dengan dera suara yang serak, Arian.. Hati ini tersiksa, aku mencintaimu dalam diam dan aku nggak berani bilang jujur sama perasaan aku ke kamu, aku harus bagaimana Tuhan ?.
Pagi harinya Arian membangunkanku dengan cara membelai rambutku "Rinn.." lirih suaranya memanggilku dan akupun terbangun.
"eh.. Arian udah bangun ?" tanyaku yang agak terkejut dia telah bangun.
"kenapa kamu tidur disini ?" tanya nya yang membuatku langsung menjawab nya.
"oh .. Semalam aku agak sulit tidur, eh malah aku ketiduran disini haha" akupun beranjak berdiri tapi kakiku kesemutan.
"duh duh.." keluhku sambil memegang lutut kiriku.
"eh kenapa ? Kenapa Rin !?" Arian spontan bangun yang masih di balut kompresan yang sudah dingin itu berjatuhan ke kasur dan dia berdiri menopang kedua bahuku menuntunku untuk duduk di pinggir kasurnya.
"kenapa rin !!?" aku menatap wajahnya, hm.. Dia yang masih sakit pun masih cemas padaku, aku duduk di pinggir kasurnya dia duduk di pinggir kananku.. Yah.. Masih telanjang dada.
"lutut dan kakiku kesemutan jadi sulit bergerak" aku yang sambil menunduk kepala dan mengusap lututku, dia pun tertawa kecil kemudian tersenyum menatapku kemudian dia memanggil namaku pelan dan lembut, ternyata wajah dia sudah dekat dengan kepalaku, aku sangat terkejut kemudian perlahan dia memajukan wajahnya dan dia mencium bibirku hanya sebentar diapun duduk seperti semula dia mengambil bajunya yang ada di kasur dan dia pun langsung memakai nya, tapi.. Sebelum dia memakai nya, baru setengah kedua tangannya masuk di lubang tangan bajunya, seketika terhenti.
"tadi malam kamu 'menyerangku' yah ? Sampai dibuka bajuku seperti ini ? Aku tak tau pula haha" candanya dia yang membuatku agak kesal itu dia pun sudah memasukan bajunya itu lalu aku mencubit canda lengannya itu.
"hampir 'menyerangmu' haha" diapun tertawa, aku pun secara tak sadar tersenyum bahagia, karena aku baru pertama kalinya dari sejak aku pertama kenal dia aku melihat ketawanya yang begitu tulus, kemudian dia berdiri, tiba-tiba saja tubuhnya kembali terduduk sambil memegang jidatnya dengan tangan kanannya.
"duhhh.." keluhnya.
"Kamu masih sakit , udah duduk aja, kamu mau kemana sih ?" tanyaku yang memegang kedua bahunya kini.
"tadi.. Aku berniat untuk membuka kordennya tapi kepalaku sakit" jelas nya yang terlihat wajahnya masih sangat pucat itu.
"Kamu tiduran aja, biar aku yang buka kordennya" akupun berdiri dan menuntunya untuk bersandar di sandaran kasur, bantalnya ku sandaran di belakang tubuhnya, dia pun menghela nafas berat kemudian aku berjalan menuju kordennya dan kubuka lebar-lebar, kemudian aku kembali menghampiri nya dan meraba dahinya itu dan syukurlah panasnya tidak terlalu tinggi seperti malam.
Aku melihat ke arah jam tanganku ini sudah pukul : 08:09 AM , "aku ada urusan sebentar, dan suhu badan kamu pun udah agak membaik, aku telepon setelah urusanku selesai, dan jika sempat sore nanti aku bawakan makanan untukmu" jelasku padanya, dia hanya tersenyum dan mengangguk saja tanpa sepatah kata, aku langsung berjalan menuju pintu kamarnya untuk keluar, sebelum aku keluar kamar sepenuhnya, aku menolehkan setengah badan dan kepalaku ke arahnya dia yang ternyata menatapku.
"kalau ada apa-apa , telepon aja yah" dia tersenyum.
"oh iya vitamin nya jangan lupa diminum dan gelas itu, aku udah isi air baru jadi kamu bisa meminumnya" aku tersenyum ke arahnya diapun juga.
__ADS_1
Dia menganggukkan kepala "makasih yah, Rin.." akupun hanya tersenyum dan menutup pintu kamar nya.
…
Aku sudah sampai apartment ku, akupun sangat letih sekali, baru aja aku sembuh dia juga sakit, kasihan sekali dia, akupun langsung melepas semua pakaian ku dan mandi, setelah selesai aku memakai bajuku dan berangkat ke rumah temanku, yah tidak usah memakai mobil, rumah temanku ini hanya harus melewati beberapa rumah saja mungkin 7 rumah harus ku lewati dan ke 8 rumah itu temanku namanya Herby yang sangat manis, cantik pula.
Kemudian aku mengetuk pintu rumahnya. Tok tok tok!!
Dia menjawab tunggu.. Aku menunggu nya sebentar di depan pintu rumahnya, kemudian dia membuka pintunya aku menyapanya dengan say hi padanya dia juga menjawab sapaku persis sepertiku, aku disuruh masuk dan di persilahkan duduk.
"bagaimana kabarmu Rin?" tanyanya yang memang sudah lama aku tak mampir kerumah nya karena ada kesibukan lain.
"aku baik , sebentar yah aku ambilkan minum, kamu masih suka teh hangat dengan gula 2 sendok kan ?" jelasnya dia yang sudah tau teh favorite ku , karena kita kenal memang sudah lama sejak pertama masuk kuliah dulu hingga sekarang aku berteman baik dengannya.
"iyah .. Kau tak pernah lupa yah?" kataku yang bahagia.
"tentu saja tidak haha" diapun sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan tehnya untukku, setelah itu dia pun menghampiri ku lagi duduk di samping ku dan dia menaruh tehnya di meja.
"thanks Herby" kataku.
"tak masalah, jadi ada apa kamu kesini?" tanyanya.
"aku ingin curhat" kataku.
"curhat tentang apa?" tanyanya.
"Arian" jawabku.
"oh yang suka kamu ceritain dulu yah yang tampan itu?, berjambul itu?" tanyanya.
__ADS_1
"iya benar itu. kau tau kan dari dulu aku mencintainya?" kataku yang sambil menundukkan kepala.
"yah aku tau, kenapa?" tanyanya.
"aku bingung By " kataku.
"bingung kenapa? Bukankah kalian saling mencintai?" tanyanya yang heran.
"aku tak yakin Herby" aku menutupkan mukaku dengan kedua tanganku .. Hari ini sungguh hari terletih dalam hidupku ... Aku sangatlah bingung hari ini.
"Menurut kamu Arian punya perasaan yang sama nggak ke aku?" tanyaku.
"apa dia perhatian sama kamu? Dan cuek sama yang lain?" tanya nya yang membuatku langsung menjawab.
"iya, justru dia perhatian banget ke aku, cuek ke yang lain" jawabku yang meyakinkan Herby.
"iya udah jelas kalau dia juga suka kamu" sambil memegang tangan ku "tapi kalau dia suka kenapa nggak bilang?" lanjut kataku yang terheran-heran.
"mungkin dia nyari waktu yang tepat aja buat ungkapin semua itu" jelasnya.
"tapi.. Waktu itu tuh Arian pernah bilang kalau ada tamu yang akan menjawab semua pertanyaan yang ada di otak nya dan lagi kejadian itu pas banget sama hadiranya Anjasta lagi" kataku yang baru ingat kejadian itu.
"tunggu-tunggu.. Anjasta.. Mantan kamu itu? Yang di Philippines? Kembali!? Serius?" Herby seakan-akan sangat kaget dengan perkataanku yang bilang kalau Anjasta kembali. Herby ini udah banyak menampung semua curhatanku dari dulu jadi tau banyak tentangku, aku sambil meminum teh nya dan menaruh kembali di meja.
"iya mantanku itu, seriusan pokoknya, menurut kamu Arian tuh gimana sih?" diapun langsung mikir setelah beberapa detik hening dia pun langsung berkata.
"jangan-jangan Arian ngelakuin gini untuk memastikan sesuatu deh" dugaan Herby yang memecahkan pemikiran ku.
"wait, wait.. Aku tuh pas waktu itu pernah bohong sama Arian soalnya aku tuh pengen tau apa dia juga suka aku atau nggak jadi aku bohong ke dia aku balikan lagi sama Anjasta" jelasku yang baru nyadar selama ini.
"wah.. Udah jelas banget ini, prediksi aku, Arian itu sekarang lagi cari tau kebenaran hubungan kamu sama Anjasta dan, yang kata kamu tamu yang di temuin sama Arian bisa jadi temennya yang kenal deket sama hubungan kamu dan Anjasta, itu sih prediksi aku yah" menjelaskan keprediksiannya tentang Arian, aku langsung mikir.
"ah.. Iya udah kalau gitu aku pulang yah nanti aku kabarin lagi.. Bye" aku langsung beranjak berdiri dan keluar dia hanya berkata bye saja dan aku berjalan terbirit-birit sambil mikir apa iya perkataan Herby Bener? Tapi sih kayaknya ada benernya juga, kalau aku langsung tanya Arian nggak mungkin dia kan lagi sakit, dan tamu itu apa jangan-jangan laki-laki yang se-kampus sama aku yah tapi siapa lupa lagi namanya duhh.. Padahal dulu deket sama orang itu.
***
__ADS_1