Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 49


__ADS_3

2 hari kemudian setelah pulang dari RS, Arian dan aku pergi ke kantor polisi untuk proses pembebasan Anjasta dengan meyakinkan bahwa Anjasta hanya disuruh orang lain dengan ancaman nyawa taruhannya. Setelah proses itu berlangsung ber jam-jam akhirnya Anjasta di tebus 500juta dan dinyatakan bebas dari penjara.


 


"gimana udara Aussie yang se-sejuk ini loe hirup lagi Jas ?" tanya Arian sambil tersenyum.


*Anjasta menghirup dalam-dalam udara dingin ini* "Nikmat sekali jika gua meminum beberapa Sorachi Red Ale" kata Anjasta sambil tertawa.


"hahahaha baiklah kita minum beberapa.. Ehh tapi Rin nggak boleh minum, bahaya" kata Arian.


"kok gitu ?" kataku sambil raut wajah sedih.


"iyalah jangan, kamu mesti denger kata suami, paham ?" kata Arian.


"yaudah ini juga demi kesehatan bayi aku juga" kataku sambil mengelus-elus perutku.


"Hah!? Apa ? Tadi kamu bilang apa ?" Arian pun kaget.


"ini demi kesehatan bayi aku juga Ian..." ulangku.


"kamu hamil ??" wajah Arian yang menyumringah bahagia.


"iya hehe" akupun tersenyum bahagia.


 


Arianpun memelukku erat sambil meneteskan beberapa air mata, akupun menepuk nepuk punggungnya dengan rasa penuh bahagia terharu pastinya.


 


"wahhh nyonya Stefan Arian akan menjadi ibu... Selamat yah kalian, gua ikut bahagia"


"thanks bro.. Yaudah, berhubung mood gua happy nih, gua teraktir loe sepuasnya, loe mau apapun gua beliin" Kata Arian, sambil kita berjalan menuju mobil.


"seriusan loe ??" kata Anjasta, yang seperti otaknya mulai halu tingkat akhir.


"serius gua. Yaudah yok masuk" Ajak Arian.


 


Aku yang di tuntun Arian saat masuk mobil.


"yaang, udah ah jangan berlebihan, aku itu orang hamil bukan lansia ih" kataku sambil menepuk lengannya.


"justru itu, ibu hamil itu mesti di jaga seperti layaknya lansia gimana sih kamu" katanya.


"yaudah iyaa deh iyaa" akupun akhirnya nurutin apa kata Arian.


 

__ADS_1


Di perjalanan.


 


"Istriku... Aaaciiieeee hahaha, duh aku kelewat seneng ini yaang" katanya sambil cengar cengir di mobil.


"apaan sih hahaha norak deh" kataku sambil ketawa.


"suamimu ini mulai sekarang akan menghidupkan mode protektive untuk menjaga bayi kita, dengerin yah, mulai detik ini kamu nggak boleh banyak stres, fikiran, capek, dan banyak beban. Itu nggak boleh, kita mumpung di luar sekalian beli susu ibu hamil dan buah-buahan" katanya padaku.


"aku nurut aja apa kata suamiku yang bawel ini nih" kataku sambil mencubit pipinya.


"iyalah harus, kudu, wajib. Kamu kan istri aku, dan bayi kamu bayi aku juga, kalian berdua itu jadi satu-satunya alasan aku bahagia menjalani hidup" katanya yang membuatku terharu lalu mencium tangannya Arian.


"iya sayang aku paham" kataku.


"aduh.. Aduhh gua di anggurin nih hahaha,  saking bahagianya gua dibiarin lumutan di dalem mobil" katanya sambil mepet ke tengah-tengah mobil.


"hahaha sorry sorry, iyalah gua seneng banget nih Jas, nggak nyangka aja" kata Arian.


"santai santai.. Gua canda kok, eh btw kok Arian bisa taunya telat sih Rin ?" tanya Anjasta padaku.


"nahkan aku saking senengnya lupa mau nanya hal itu ke kamu, sejak kapan Rin ?" tanya Arian.


"emm.. Baru beberapa hari sih, soalnya ada masalah juga kan jadi belum sempet aku ceritain ke kamu sayangku, maaf yah"


"iya udah kok, pas waktu loe masih di RS"


"iya iya tau, yaudah nggak apa-apa Rin, aku ngertiin kok" kata Arian sambil membelai rambut Rin.


"iya sayangku" kataku yang tiba-tiba mual.


"ehh ehh yaang, mual yah, jas jas itu di belakang ada plastik tolong!" kata Arian yang sangat cemas dan cekatan.


 


Arian pun memberhentikan dulu mobilnya.


 


"sini sayang aku bantu" Arian yang mengambilkan tissue juga untukku.


"thankyou babe" kataku yang mualnya sudah mulai reda.


"kita lanjut lagi yah sayang" kata Arian.


"iya yaang silahkan" kataku.


 

__ADS_1


Sesampainya di supermarket, Aku, Anjasta dan Arian pun turun dari mobil dan memasuki supermarket, aku dan Arian kelorong susu ibu hamil, sedangkan Anjasta pergi ke tempat buah buahan, kita belanja cukup banyak karena selama kita pindah kita belum belanja kebutuhan rumah juga.


 


(mumpung sama suami, masukin macem-macem ah.. Parfum idamanku, bumbu dapur kualitas terbaik, telur ayam, beefsteak, sosis ayam, Queqers, kopi item buat ian, pasta, minuman soda, sayuran, udang, roti kering, sama cemilan ah.. Ciki, coklat drairy milk, kue nya juga ahh.. Uuu gini ternyata rasanya belanja sama suami hihihi sooo happy) -naluriku meronta-ronta.


 


"udah aja kali yah" kataku.


 


Arian yang menunggu di kasir sambil membawa susu ibu hamil untukku bersama Anjasta sambil membawa beberapa plastik buah.


 


"Astaga sayang, itu yang setiap lorong kamu ambilin apa gimana ?" Arianpun kaget melihat troliku banyak sedangkan mereka cuman bawa se-item.


"wow Rin, nggak salah tuh hahaha, nggak berat bawanya ?" katanya yang menghampiriku untuk membantu.


"ih kok pada gitu sih nanggepinnya, ini tuh kebutuhan dapur sama kulkas juga sayangku.. Kita kan semenjak pindahan belum sempet beli kebutuhan rumah yaang ih" jelasku padanya sambil mengelas muka.


"uuu sayang sayang, udah udah jangan gitu mukanya aku nggak tega, sini sayang sini ngantrinya di paling depan biar aku di belakang" kata Arian yang menuntunku kedekatnya.


 


(naluri pria meronta-ronta.. Duh gusti.. Dompetku seketika longsor)


 


"silahkan ibu hamil" kata Anjasta.


"berisikk Jas" kataku.


 


Setelah di scan semua item termasuk buah-buahan dan susu ibu hamil total sumuanya $80.5 dollar.. Aku yang melihat raut wajah Arian memerah, aku si bodoamat hahaha yang penting aku senang hahaha.. Suamikuuu uuuuu hahaha.


 


Setelah itu lanjut ke tempat minum untuk merayakan kebebasan nya Anjasta. Aku hanya memesan orange juice saja, mau red ale juga pasti di larang keras sama Arian.


 


Hanya beberapa menit disitu, kitapun langsung pulang dan karena Anjasta belum punya tempat tinggal karena yang dulu sudah habis masa sewa akhirnya Arian mengizinkan Anjasta untuk tinggal sampai dia mencari kerja kemudian menyewa Apartement baru lagi.


 


***

__ADS_1


__ADS_2