
3 hari kemudian...
Yah walaupun Arian sudah semakin membaik tapi aku tak bisa meninggalkan nya ntah kenapa rasa takutku belum reda juga.
"sayang.." katanya yang mengagetkan lamunanku.
"iya ada apa sayang ?" tanyaku.
"kamu kenapa ? Kok ngelamun sih ? Mikirin apa ?" tanyanya yang beruntut.
"aku nggak apa-apa kok , aku cuman nggak bisa jauh-jauh dari kamu itu aja" jawabku sambil tersenyum.
"kalau kamu mau pulang dulu nggak apa-apa kok sayang mungkin kamu perlu baju bersih :)" katanya, yang memang sedari tadi aku memikirkan hal itu tapi aku takut ada apa-apa.
"nggak kok sayang, ibu dan ayahku sebentar lagi datang bawain baju bersih buat aku " kataku.
"boleh nyuruh ?" katanya.
"apa sayang mau apa ?" tanyaku.
"aku pengen ke toilet bisa bantu ?" pintanya.
"boleh sayang , ayo sini" kataku yang sambil kedua tanganku menjulurkan ke arahnya dan memegang nya untuk bangun dan berjalan, dia sudah bisa sedikit berjalan jadi aku bawa oksigennya dan akupun ikut masuk ke dalam untuk memastikan Arian baik-baik saja, setelah itu akupun menuntunnya kembali ke kasur dan memasangkan kembali ke kaitan besi ini.
"aku ingin bersandar Rin" katanya, akupun membenahi posisi bantal nya untuk ia bersandar.
"yah, bersandar lah" kataku.
"makasih sayang, maaf buat kamu kerepotan" katanya.
"tidak,tidak.. Kamu itu nggak boleh ngomong gitu sama istrimu ini, justru aku seneng banget bisa ngurusin kamu" kataku.
"hmm.. Makasih sayang aku benar-benar sayang banget sama kamu" katanya.
__ADS_1
"iya sayang aku tau kok" kataku.
"tau ? Kapan ?" tanyanya.
"udah dari 9 tahun lalu haha" kataku.
"haha kamu ini, sini bentaran deh" katanya yang sambil mengayunkan lengannya.
"apaan sih ini kan udah deket" kataku.
"iya sini lebih dekat lagi" suruh nya.
"susah ini kursinya udah mentok" kataku yang sambil memajukan sedikit kursinya.
"yah kamu berdiri dong" katanya, akupun langsung berdiri.
"terus ?" tanyaku.
"wajahmu sini dekat-dekat aku" katanya.
"lebih dekat lagi" katanya , akupun memajukan wajahku lebih dekat hingga tangannya mendorong pelan kepalaku hingga hidungku dengan hidungnya saling menempel kemudian dia mencium bibirku.
"I love you sayang" katanya, akupun seketika melamun.
"kenapa ? Nggak suka ?" katanya , akupun langsung duduk kembali.
"haha.. Si..siapa yang nggak suka ? Aku cuman kaget aja udah lama juga.." kataku yang tergugup mengingat reaksi nya tadi.
" udah lama ? Udah lama apa ?" tanyanya yang tersenyum mesum itu seperti memikirkan sesuatu yang lebih dari reaksi tadi.
"eum.. Euum.. I..ii..itu apa yah itu lah pokoknya" kataku yang benar-benar nervous abis padahal sama suami sendiri.
"hahahaha terus ? Kalau udah lama kenapa nggak bales ?" katanya yang memancingku untuk melakukan hal lebih.
"bukannya dulu aku pernah denger yah kamu tuh kalau udah sah bakal.." katanya yang langsung ku potong dengan topik jeruk.
__ADS_1
" eung..emm ini apa ini jeruk yah jeruk , kamu mau jeruk sa..sayang ? Aku kupasin yah ?" kataku yang terbata-bata.
"hahahaha sini sini" katanya , dan kini dia menarik tanganku dan dia menatap mataku dalam-dalam kurang lebih 4 detik , hembusan nafasnya yang hangat menyentuh ke dekat wajahku.
"kalau kamu memang ingin menikmati nya yah aku juga menikmatinya" katanya, dan aku semakin gugup dan ini kata-kata perasaan pernah denger tapi kapan yah , akupun terdiam memikirkan kata-kata itu dan ternyata itu adalah kesan pertama di cafe sama dia.
"apa kamu menikmatinya ? Mau di coba lagi ?" tanyanya.
"apa !? Eh maksud ku emm.. Duhh!! Stefan Arian Putra Nugraha!!?, dari tadi aku nervous banget nggak liat ? Terus nggak ngerasain gitu ? Emang nggak peka yah kamu" nadaku agak tinggi.
"ssstt.. Jangan teriak-teriak gitu hahaha aku jadi ingat aja sama kesan pertama di cafe itu , tingkah laku kamu itu sama percis kayak gitu aku suka sangat suka hahaha" katanya yang tiba-tiba ketawa jahat.
"helloooo pak Stefan Arian Putra Nugraha istrinya Rin bin Reyhan Winarto.. Aku tuh emang selalu nervous kalau deket sama kamu dari dulu juga cuman kamunya nggak pernah peka , nggak pernah nanya-nanya iya udah aku pendem sendirian kamu tuh kadang ngeselin yahh!!" kataku disitu aku marah liat kelakuannya, tapi dia tiba-tiba memandang ku tanpa ekspresi , datar banget , apa tadi kata-kata aku berlebihan yah ? Duhh akupun duduk dan tertunduk diam.
"udah ngomel nya ?.. Boleh aku ngomong ?" tanyanya akupun hanya mengangguk saja, aku pasrah deh pokoknya mau di marahin sama dia.
"iya kamu memang istriku sekarang tapi kamu nggak ada hak untuk bilang kayak gitu sama aku.. Tapi aku juga nggak tau kalau selama ini kamu selalu nervous pas dekat-dekat sama aku , yah memang aku nggak peka dan nggak banyak tanya ini itu sama kamu karena aku nggak kepikiran buat nanya apapun tentang kamu I'm sorry my girl .." diapun diam sejenak akupun masih tertunduk diam.
"hahaha dan aku ingat kejadian di cafe ketika aku mengetahui isi hati kamu ke aku , kamu tertunduk diam seperti ini hahahaha aku suka kejujuran kamu , dan kamu fikir aku marah beneran cuman gara-gara kamu ngomong gitu ? Haha nggak sayang aku bercanda kok maafin yah haha" katanya yang membuatku melihat kearah nya dengan tatapan tajam kemudian aku mendekat ke wajahnya.
"kamu ini bikin anak orang kelakapan aja yah ihhh" dia pun kaget dan akupun menjauh lagi dari mukanya kemudian dia menarik tanganku dan dia mencium bibirku kali ini lama sekali kemudian diapun melepas ciumannya itu.
"lain waktu kita akan mencoba nya lebih dari ini bersiaplah" katanya yang membuatku semakin nervous dan sulit untuk menelan ludahku ini akupun terduduk mematung.
"kenapa rin ?" tanyanya.
"aku.. Sudah tidak bisa berfikir sehat lagi ian" kataku .
"nggak.. Rin jangan aku mohon" katanya , karena mataku sudah nakal saja.
"emm.. Hahahaha.." akupun tertawa karena aku berhasil membuat nya kelakapan mesum itu.
"siapa suruh kamu bikin aku nervous dari tadi bikin aku takut dari tadi kirain bener kamu marah sama aku haha" kataku diapun tertawa..
***
__ADS_1