
Malam harinya Arian tidur di apartmentku, dan Arian yang aku kenal dulu sekarang berbeda "sayang.. Aku mau telepon sebentar yah ?" kataku yang berdiri di dekat kasur dan dia duduk di kasur sambil bersandar sembari nonton tv dengan serius.
"siapa ?" sambil melirik ke arahku dengan tajam.
"ibuku, tadi siang ada tukang post dan ternyata itu dari ibu , dan yah aku udah lama nggak telepon ibu juga sih" jelasku padanya.
"oh.. Ok disini saja telepon nya nggak usah diluar" katanya sambil telunjuk kirinya menunjuk di dekatnya.
"iya.." aku langsung menghampiri Arian dan aku bersandar di dekat dadanya akupun tidak mau Arian curiga jadi telepon nya aku on speaker.
"hallo Bu.." sapaku pada ibu di dalam telepon.
"hallo nak" katanya lembut duhh aku jadi sedih gini dan alhasil aku terharu.
"Gimana kabar ibu, ayah dan adik-adik di bandung ?" suaraku mulai dareda, Arian mengelus-elus rambut atasku matanya masih sambil menonton tv.
"baik nak, adikmu juga sudah sembuh sekarang, kamu terima surat dari ibu kan ?" katanya yang ternyata menangis juga.
"syukurlah bu, iya bu aku terima suratnya tadi siang, maaf yah bu Rin baru ada kabar, Rin ada trouble disini tapi ya udah selesai sih, dan uang yang ibu transfer udah masuk bu makasih 2 minggu lagi Rin pulang yah bu " jelasku pada ibu yang berusaha menahan tangisku ini aku rindu sangat rindu.
" oh sudah ? Syukurlah, 2 minggu lagi ? Sungguh ? Duh.. Ibu senang sekali nak, ya sudah ini sudah malam, kamu istirahat yah jangan lupa makan, jaga kesehatan juga yah nak, bye" kata ibu yang sangat senang aku akan pulang ke bandung.
"ibu juga yah, bye bu muach" kataku sambil mencium dari telepon, Arian dari tadi terus saja membelai rambutku "udah telepon nya ?" katanya.
"yah udahlah, udah sana tidur" kataku sambil membenahi dudukku menghadap Arian.
__ADS_1
"iya udah tidur" katanya polos.
"disofa sana ih" kataku menyuruh nya keluar.
"tega sekarang ? Pacarmu ini sedang sakit lho" katanya menatap dalam mataku penuh keseriusan di raut wajah nya, aku baru ingat kalau Arian masih sakit.
"kenapa disuruh tidur disofa perbedaannya apa sama yang tadi ? Heum ??" katanya masih datar tapi aku baru sadar kalau kata-kata nya sudah tak baku lagi haha, akupun tiba-tiba ingat kejadian tadi aku jadi tersenyum sendiri.
"iya udah disini aja tapi jangan sampai kamu 'menyerangku' pas aku tidur" kataku sambil nahan tertawa.
"justru aku takut kamu yang giliran ''menyerangku' sekarang" katanya yang datar membuat ku tertawa terbahak-bahak.
"hahahaha.. Iya udah tidur" aku langsung mengesampingkan diriku dan tidur, tapi Arian menggangguku dengan cara mengkelitikan kedua pinggang ku.
"ihh geli.. Haha, pakai baju panjangmu ntar masuk angin" suruhku pada Arian diapun menurut dia memakai sweater nya dan tertidur disampingku
Keesokan harinya pukul : 06:09 AM Arian yang tadi malam tidur membelakangiku kini dia memelukku, aku memegang jidatnya dan syukurlah dia udah nggak panas lagi aku cemas sekali kemarin.
"Arian.. Bangun.. Udah pagi" kataku sambil menepuk pipinya, aku baru pertama kali nya liat Arian tertidur, dia tampan sekali aku berasa mimpi bisa jadian sama Arian padahal dulu itu dia incaran wanita satu sekolah belum yang diluarnya belum yang aku nggak taunya, tapi... Emang jodoh nggak kemana yah, aku tersenyum melihatnya tertidur diapun tiba-tiba membuka matanya, dia langsung melepaskan pelukannya kemudian dia menggerang dan merenggangkan tangan kanannya aku masih dengan posisi yang sama aku terus memperhatikannya pada saat dia menoleh kearahku yang menatapnya sembari tersenyum dia mengerutkan dahinya.
"kenapa lihatnya begitu? Aku ileran yah ?" katanya sambil mengusap-usap pipi yang di dekat mulutnya dengan jari telunjuk nya aku hanya menggelengkan kepala saja sambil tersenyum diapun bangun akupun bangun kemudian kita berdua mandi bareng setelah mandi Arian mengajakku breakfast diluar.
__ADS_1
"kamu mau makan apa ?" katanya yang masih memakai jaket tebalnya itu.
"apa aja asal sama kamu" gombalku.
"kamu belajar gombal dari mana ?" meliriku tanpa ekspresi itu.
"dari kamu" kataku.
"perasaan aku nggak pernah gombal deh" katanya sambil mikir-mikir.
"emang iya, senyumpun jarang banget selama 9 tahun aku liat senyum kamu itu cuman 4 kali pas di restoran Sydney itu aja" kataku yang mulai protes sama kejarangan senyumnya itu.
"oh iya ?, pantes aja banyak orang yang bilang ke aku itu Mr. jutek" katanya.
"makannya banyakin senyum, masa senyum harus di ajarin sih" kataku judes.
"iya udah deh mulai sekarang aku banyak senyum" katanya
."iya gitu dong" aku melihatnya sambil tersenyum.
"iya udah yuk"…
Sesampainya di cafe kita duduk di tengah pelayanpun menghampiri meja kami dan memberikan menunya, setelah memesan kita pun berbincang-bincang, kini Arian banyak tersenyum dan tertawa aku suka tapi dia hanya tersenyum di dekatku aku jadi semakin mencintainya haha benar-benar nggak nyangka haha.
__ADS_1
***