Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 08


__ADS_3

Aku bingung harus jawab dan bicara apa sama Arian karena Arian taunya aku dan Anjasta pacaran aku harus gimana tuhan.


Ada suara telepon lagi dan itu dari Anjasta.


"angkat saja, siapa tau penting" Kata Arian yang duduk sambil memakan sandwich nya ia memandang ke arah jendela yang di pinggir kanannya.


"tapi ian.." dia langsung memandang ke arahku dengan tatapan tajam.


"Rin.. Kamu nggak mau kan buat aku murka dengan tingkahmu seperti ini ?" dia masih duduk dan memakan sandwich nya.


"baiklah.. Tunggu sebentar" dia langsung mendekap tangan ku erat, niatku ingin mengangkatnya di kamar.


"disini saja, speaker aktif-in aku mau dengar" aduhh gimana ini ? Aku kan bilang ke Arian balikan sama Anjasta tapi nyatanya aku nggak pernah balikan dan nggak berniat untuk memaafkannya, aku langsung mengangkat nya.


"hallo.." nadaku agak sedikit gugup dan takut.


"Rin.. Lagi dimana ?" suara Anjasta mulai serak , mungkin kah dia sakit?, aku menatap Arian dia menyimak secara details sambil memejamkan matanya, aku yang masih bersikap gugup dan takut ini membuatku berkeringat dingin.


"Kamu dimana Rin ?" katanya.

__ADS_1


"aku di apartment, kenapa?" tanyaku sangat gugup.


"tidak, aku pengen ngomong sesuatu" aku tiba-tiba mendapatkan ide.


"ah.. Bagaimana jika ngomong nya nanti saja ? Aku sedang ada tamu" kataku agak terbata-bata karena ada Arian yang kini mulai menatapku tajam.


"ok.. Bye" katanya yang seperti memelas tidak ingin mematikan teleponnya.


"bye" langsung ku tutup telepon nya, Kini Arian telah duduk dengan bersandar di kursi sambil melihat ke arah jendela di sebelah kanan nya, raut wajahnya yang seperti Marah, kecewa, dan seperti penuh kesal sekali, aku langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah kursi Arian.


"Kamu kenapa ?" tanyaku penuh bimbang.



 


"Jadi, bagaimana ? Apa loe mau dengerin logika gue Arian?" Tanya Rey yang baru saja sampai apartment nya Arian, baru di persilahkan duduk di sofa ruang tv sambil ditemani teh hangat di meja untuk Rey.


"gue bener-bener penasaran banget, cepet ceritain" Kata Arian yang serius menatap Rey, dan Rey pun mulai berbicara.

__ADS_1


"yang pertama, Anjasta itu temen satu kampus gue dulu, dan dia playboy, gue cukup dekat sama dia, sampai curhatan dia gue tampung. Yang kedua, dia pernah cerita ke gue tentang Rin katanya 'gue pacaran loh sama Rin, setelah sekian lama akhirnya gue jadian sama dia, tapi.. Gue nggak akan lama sama dia soalnya cewek ke 23 gue lagi nunggu-in gue haha, yah gue sih cuman main-main sama Rin' katanya gitu, coba deh gue tanya sama loe, loe tau nggak Rin sama Anjasta udah berapa bulan jadian ?" tanyanya yang membuat keseriusan Arian pecah.


"eum.. Waktu itu pernah Rin ngomong ke gue pas semalam abis dinner terus paginya dia nangis terus dia cerita ke gue katanya 7 bulan dia pacaran sama Anjasta" jawabnya sambil sesekali menatap langit-langit apartment nya sesekali menatap Rey karena Arian butuh mengingat-ingat nya lagi.


"ok.. Selama 7 bulan itu pasti keduanya sudah saling mengetahui sifat dan karakter, Rin pasti sudah mengetahui sifat dan karakter Anjasta yang sebenernya bahwa Anjasta itu playboy, dan kemungkinan besar Rin tidak kembali pada pada Anjasta" jelas nya Rey yang begitu yakin bahwa Rin dan Anjasta tidak lagi pacaran.


"mmm.. Mungkin juga sih, gue pun sesekali berpikir kalau hal itu nggak terjadi" jawab Arian yang kini bersandar di sofa.


"dan ada satu lagi yang pasti buat loe senang" katanya yang sambil menyeringai menatap Arian.


"apa ?" Tanya Arian yang kini duduk nya kembali membungkuk sambil kedua tangannya menyatu.


"apa loe pernah kepikiran kalau Rin juga mencintai loe ?" tanya Arian yang masih menyeringai itu.


"mmm.. Pernah" jawab Arian yang agak kebingungan.


"nah itulah dia jawabannya" jawab Rey yang membiarkan Arian berpikir, kini Arian sangatlah bingung dan terus berpikir maksud dari perkataan Rey itu, kini Arian beranjak berdiri dari sofa dan berjalan menuju tempat dapur untuk mengambil segelas orange juice di kulkas kemudian dia berdiri menghadap jendela besar sembari memasukan setengah tangan kanan kedalam sakunya dan tangan kirinya memegang segelas orange juice itu sesekali dia meminumnya, tiba-tiba Rey pun mendekati Arian dan menepuk pundaknya Arian.


"loe pasti bakal tau nanti, gue yakin itu, jangan terburu-buru untuk ingin mengetahuinya, temui gue kapanpun loe mau gue selalu ready" Kata Rey yang setelah menepuk pundaknya Arian, Rey langsung berjalan menuju pintu keluar 'blam' kini Arian sendirian lagi, masih tetap sama menghadap jendela besar tanpa menoleh 1° pun ke arah pintu keluar Rey.

__ADS_1


***


__ADS_2