
Setibanya di rumah sakit. Aku tak bisa berlari karena jahitanku masih basah. Aku coba untuk berjalan santai karena rasa sakit nya masih sangat terasa.
Di depan informasi aku melihat Arian yang sedang berdiri. Kemudian Arian melihatku dan menghampiriku.
"kenapa nggak telepon aku sih ? Udah tau jahitannya masih basah, sakit kan ?" marahnya karena tak tega melihatku berjalan kesakitan.
"sakit banget" keluhku.
"tunggu disini, aku ambil kursi roda aja"
.
.
.
Akupun di dorong oleh Arian dengan kursi roda.
"ruang papah dimana sayang ?" tanyaku sambil menoleh ke arah Arian.
"Ruang ICU sayang, bentar lagi sampai" katanya sambil terus mendorong kursi rodaku.
.
.
Sampai di depan ruang rawat papah, di luar ada mamah yang menunggu kabar dokter.
"Rin.." mamah menghampiriku dan memeluku sambil menangis.
"gimana kondisi kamu ? Pasti jahitannya masih basah dan terasa sakit yah ?" lanjut dengan pertanyaannya yang penuh kecemasan.
"iya mah, sakit banget, sampe tadi Arian ambil kursi roda ini buat aku, Papah gimana mah sekarang ?" tanyaku cemas.
"Papah masih belum ada kabar, mamah takut Rin, Ian" keluh mamah sambil nangis "oh ya, Zayn.. Cucu mamah gimana dia ? Selamat kan !?" tanyanya penuh cemas.
"Selamat mah, Zayn sekarang ada di rumah dan di jaga sama temanku Herby, dan Rey pun sekarang di hukum mati" jelasku pada mamah.
"pria iblis itu memang pantas mendapatkannya!!, syukurlah cucu-ku selamat, mamah lega mendengarnya" kata mamah yang sambil duduk di kursi tersenyum penuh syukur.
.
.
.
25 menit kemudian.. Dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah yang lesu. Kemudian dokter pun menjelaskan bahwa nyawa Tn. Nugraha tak bisa di selamatkan, selain kakinya yang terkena tembakan, Papah mempunyai riwayat penyakit gagal jantung, dan itu yang membuat Papah tak bisa di selamatkan, dan lagi, penyakit jantung nya sudah sangat fatal. Kami bertiga menangis tak percaya, Arian yang menerobos masuk untuk melihat keadaan Papah. Dan Mamah yang lemas terduduk di lantai sambil menangis terengah-engah karena saking syok dan tak menyangka Mamah tak kuat untuk berjalan. Aku merangkulnya sambil menangis tak tega melihat Arian dan Mamah ditinggalkan Papah. Dan dokter pun menyuruh kami untuk tegar dan sabar lalu pergi.
Aku yang di bantu dorong oleh Mamah masuk ke ruang ICU penuh rasa sesak menerima kenyataan ini. Aku yang melihat Arian yang berusaha keras membangunkan jasad Papah sambil berteriak-teriak dan menangis pun spontan berdiri dan mendorong Arian untuk tidak melakukannya.
"PAH!!! BANGUNN PAHHH!!! JANGAN TINGGALIN IAN.. PAPAH NGGAK KASIAN LIAT MAMAH SENDIRIAN!! PAHHH!!!" Arian terus meronta-ronta supaya Papah bangun.
"sayang.. Sayang udahh.. Jangan gitu!! Kalau kamu kayak gini, Papah nangis liat kamu, stop Ian!" kataku menyadarkan Arian.
"Sudah nak, biarkan Papah tenang disana, Kamu jangan bersikap seperti ini, kasihan Papah-mu melihat disana, mungkin.. Ini sudah takdirnya, Mamah juga nggak nyangka bakal di tinggal duluan sama Papah kamu Arian" katanya sambil menangis melihat Papah. Arian pun terduduk lemas sambil tertunduk tanpa bicara sepatah kata lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Sore harinya di pemakaman.
Semua berduka. Orang tuaku tak bisa datang langsung untuk melayat Papah, tapi mereka akan segera datang jika urusan di Indo selesai.
Hari ini.. Keluargaku berduka. Sungguh tak terduga rasanya. Arian yang menahan tangis pun terus menguatkan Mamah agar tetap tegar. Setelah semua kerabat Papah telah pulang, yang tersisa hanya kita di pemakaman. Arian menaruh bunga dan mengajak Mamah pulang. Mungkin, Mamah akan lebih sering tinggal di tempat kami mulai sekarang.
Aussie
7 tahun kemudian..
.
.
.
Zayn sekerang telah tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar seperti Arian.
"Nek!.. Nenek... Lihat!! Zayn dapat A+ matematika loh"
"wahh cucu Nenek pintar sekali!! Selamat sayang" kata Mamah sambil memeluk dan mencium pipinya.
"Zayn mau liatin ke Mamah Papah dulu yah Nek" Zayn langsung pergi sambil memanggilku.
"iya cucuku, jangan lari-lari Zayn nanti jatuh!!" teriak Mamah.
.
.
"Mamah di dapur Zayn!!!" sahutku sambil berteriak.
Zayn pun berlari penuh semangat menghampiriku.
"Mah.. Lihat, Zayn dapat A+ matematika"
"wahhh! Anak Mamah pintar sekali, selamat yah sayang, sini peluk Mamah" sambil ku cium.
"Papah mana Mah ?" tanya Zayn.
Kemudian Arian pun turun. Sudah rapi, dengan kemeja dan sepatu hitamnya bersiap pergi ke kantor.
"aduhh.. Ini anak Papah pulang sekolah teriak-teriak, ada apa sih nak ?"
"Papah... Zayn tadi di sekolah nilai matematika dapat A+" sambil menunjukan kertas nilainya.
"oh iya!? Wahh anak Papah pinter banget sih, selamat yah sayang, sekarang Zayn ganti baju sendiri ke atas lalu temani adikkmu, tapi ingat. Jangan berisik dia sendang tidur. Papah akan berangkat bekerja. Okey ?" menurunkan Zayn dan menghampiriku.
"okey Pah!" Zayn pun pergi ke kamar.
"kamu lagi apa sih sayang ?" tanyanya padaku, sambil memeluk kemudian mencium bibirku.
"aku lagi siapin bekal untuk kamu makan siang di kantor sayang" jawabku.
"yasudah, aku pergi kedepan dulu yah sambil nemenin Mamah, oh iya, uang belanja dan uang bulanan seperti biasa sampai kantor aku transfer" katanya.
"oh ya.. Sayang tunggu, aku dapat rekomendasi skincare dari Herby, dan kebetulan kan skincare aku udah sedikit lagi, boleh yah kalau aku minta dibelikan yang baru ?" mukaku yang memelas mau tapi malu padahal sama suami sendiri, tapi tetap saja rasanya canggung.
"hmm.. Aku udah tau, tadi aku lihat di lemari rias kamu, aku udah simpen uangnya di laci meja rias kamu di amplop coklat. Kalau kurang tinggal ambil aja di ATM-ku" jawabnya yang membuatku senang sekali.
__ADS_1
"Aaaaaa....!!! Hahaha... Sayangggku, makasih yah, jadi tambah sayang deh hahaha!" aku menciumnya dan memeluknya erat.
"aduh.. iya sayang sama-sama, sesak nih dadaku, itu bekal-ku beresin dulu sayang, aku mau kedepan" Arian pun berjalan kedepan dan akupun kembali merapikan bekalnya.
Selesai aku rapikan, aku bawa bekalnya ke depan.
"sayang, ini bekalnya" akupun menyimpannya di meja.
"makasih sayang, Mamah bilang pengen ke pemakaman Papah setelah itu pulang dulu beberapa hari ke Bandung, rumah yang disana kata nya mau di jual" jelas Arian padaku.
"loh. Mah? Kok di jual, kan sayang" kataku.
"emang sih nak, tapi rasanya terlalu berat lagi kalau Mamah tinggal disana, banyak kenangan yang sulit dilupain, Mamah nggak mau sampai terbelenggu di satu titik itu, Mamah harus bisa bangkit walau tanpa Papah, kalian tau kan 7 tahun ini Mamah harus tegar melewati semuanya. Dan cucu-cucuku masih kecil-kecil, Mamah ingin melihatnya tumbuh dewasa. Maka dari itu Mamah ingin sehat, dan memulai hidup baru disini bersama kalian" penjelasan Mamah membuat kami sedikit terharu dan termotivasi.
"kalau mau Mamah seperti itu, kita berdua ngedukung Mamah, apapun itu, yang penting terbaik untuk Mamah, iya kan sayang ?" kataku.
"yah, betul.. Ian selalu mendukung Mamah" jawabnya.
"makasih yah anak-anakku, kalian semua adalah kebahagiaan dan harapan besar Mamah sekarang. Udah gih, Arian kamu berangkat dulu, keburu siang" suruh Mamah untuk bergegas pergi ke kantor.
"ini bekel nya jangan sampe ketinggalan di mobil" kataku.
"iya sayang" katanya.
Aku dan Mamah mengantarkan Arian sampai depan pintu.
"Kalau gitu aku berangkat dulu yah sayang, Mah"
"hati-hati sayang" kataku sambil mengasihkan tas dan bekalnya.
"jangan ngebut, bahaya Ian" lanjut Mamah.
"iya dua bidadari-ku. Hari ini aku pulang sore, sekitar jam 4 udah di rumah, jadi kalau Mamah mau ke pemakaman, biar Arian anterin" katanya sambil membenarkan kancing jasnya.
"iya Arian" Mamah pun melambaikan tangannya.
"Oh iya ada yang lupa" kata Arian, kemudian kembali dan mencium keningku, dan sungkem ke Mamah.
"yaudah aku berangkat yah, dah Mah, istriku, titip salam untuk Zayn dan Ren yah"
"iya iya sayang.. Dahh" kataku melambaikan tangan, dia pun membalasnya.
Mamahpun masuk duluan, aku yang menunggu Arian pergi.
"Papah!!! Hati-hati dijalan nya yahh, muuaacchh, Zayn sayang Papah!!!" Zayn yang berteriak dari balkon lantai 2 pun menengok ke atas. Dan akupun ikut melihat Zayn dari bawah.
"iya sayang, Papah juga sayang Zayn muaacchh!!! Dah anakku!" teriaknya.
"awas Zayn jatuh nak!" teriakku.
"iyaa Mah!" Zayn pun pergi masuk lagi kedalam.
Arian pun berangkat dan akupun masuk rumah.
Setelah 7 tahun ini aku telah di karuniai lagi seorang anak perempuan yang kita beri nama Ren Putri Nugraha. Usianya sekarang menginjak 4 tahun. Lika liku ini semua benar-benar terasa. Tapi sekarang kami bahagia. Terima kasih Tuhan! Aku mencintai keluargaku❤.
.
.
.
__ADS_1
TAMAT