
"Hallo.. Bagaimana keadaanmu sekarang Rin?" dia menepati janji nya untuk menelepon ku sore hari.
"agak membaik, terima kasih" kataku.
"boleh aku datang ke apartment mu Rin?" tanya nya.
"tentu.. Kau ini bagaimana? Seperti baru kenal saja" suaraku yang agak sedikit canda, tapi.. Rasanya beda sekali tak seperti awal-awal, dia begitu ceria,fresh, dan gembira. Tapi sekarang kusam,layu, suram.
"Baiklah" dia langsung mematikan teleponnya seperti biasa tanpa pamit.
…
Pukul : 19:25PM
Dia menarikku ke arah tembok hingga aku menyentuh dinding temboknya, Arian mencium bibirku, aku tak bisa menghentikannya, aku mendorong badannya, "Ian.. Cukup.." kataku sambil aku berusaha mendorong nya sekuat tenaga. Hingga akhirnya aku bisa membuat nya berhenti menciumku, dia langsung duduk di pinggir kasurku sambil tertunduk seperti penuh masalah.
"kamu kenapa Arian?" tanyaku penuh penasaran dan bercampur syok.
"aku.. Aku sedang memikirkan banyak hal maafkan aku Rin" jelasnya, dia pun langsung berajak berdiri dan menuju balkonku di dekat kamar dia membukannya dia melepas jaket nya dan melempar nya kearah kursi di dekat meja kasurku.
"ini sudah malam Ian, nanti kamu masuk angin" kataku yang masih duduk di kasurku, aku mulai beranjak berdiri dan menghampiri ian, aku berdiri di pinggir nya sambil menatap bintang-bintang di langit yang gelap ini.
"masuklah Rin, kamu sedang sakit, aku malas pulang, bolehkah aku menginap semalam disini ?" katanya yang membuat jantungku berdebar, dia memajang wajah yang seperti biasa datar,dingin dan kaku, tapi ada sesuatu yang berubah didirinya tapi aku pun tak tau apa yang membuatnya berubah.
"biarkan aku disini menemanimu ian, aku juga ingin melihat bintang-bintang hanya bersamamu, dan kamu boleh menginap di apartment ku" aku memegang tangannya, dia gemetaran, dia kenapa akhir-akhir ini berbeda ? Akupun bingung , dia memegang tanganku erat sekali..
__ADS_1
...
Dibenak Arian ~apa yang dimaksud Rey sore itu? Aku bingung sangat bingung .. tuhan.. Aku sungguh sangat mencintai Rin~
Aku nggak tau apa yang dipikirkan Arian saat ini. Tapi jujur, aku sangat cemas dia seperti ini.
" jika kamu tak keberatan, Kamu ***.." dia tiba-tiba memelukku erat, aku belum selesai bicara aku ingin berbicara 'kamu boleh ceritakan masalahmu' tadinya aku ingin berbicara seperti itu tapi dia langsung memelukku dia langsung melepaskan pelukannya itu dan masuk kedalam.
"ayolah, kita tidur, biar aku tidur di sofa" ajaknya sambil menuntunku kedalam aku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"udaranya sudah tidak bagus untukmu Rin" aku dan dia masuk dan dia mengunci pintu balkon kacanya menutup tirai kordennya.
"aku pinjam 1 bantalmu boleh?" tanyanya sambil mendekat ke arah bantal sebelah kiri kasurku
"em.. Tidak, aku bisa pakai jaketku ini sudah cukup, pakai saja untukmu, aku tak mau kamu kedinginan" jelasnya sambil mengambil bantalnya dan menaruh di sofa luar kamarku.
"em.. Baiklah, semoga tidurmu nyenyak :)" kataku pada Arian sembari tersenyum.
"tak usah senyum seperti itu Rin, aku tak kuat, takutnya malam ini aku menyerangmu haha" dia sudah memegang tangan pintu kamarku berniat untuk menutup pintunya dan aku baru kali ini melihat nya tertawa lagi.
"tidurlah" dia langsung mematikan lampu kamarku dan menutup pintu nya perlahan, aku beranjak ke kasurku dan tidur.
…
__ADS_1
Pagi harinya ..
Cit..cit... Suara burung yang sudah terbangun di pagi hari ini , Pukul : 07:00AM alarm berbunyi "srak.." suara tirai korden dibuka lebar..
Aku langsung membalikan badanku dan melihat ke arah suara tirai korden itu ternyata itu Arian...
"Kau sudah bangun Rin?" dia tersenyum padaku
"hai Arian.." sapaku
"aku sudah siapkan sandwich dan 1 gelas susu untukmu di meja makan" dia menghampiriku dan membuka selimut yang ku kenakan
"ayo bangunlah" dia memegang tanganku menarik ke atas niat dia membangunkanku.
"kemarilah" dia menuntunku ke arah tempat meja makan dia telah menyiapkan sarapan nya, akupun duduk, diapun duduk di depanku, kitapun memulai sarapan bersama.
"terima kasih ian" kataku, dan dia hanya tersenyum saja sambil menatap ku, tiba-tiba ada suara telepon dari kamarku.
"sebentar yah ian" dia seperti tidak suka aku memilih untuk mengangkat teleponnya, dia hanya diam tapi aku tetap menghampiri ponselku ternyata itu dari Anjasta, aku bingung, kuangkat tidak, jika ku angkat Arian akan.. Ahh sudahlah aku silent saja.. Akupun menghampiri Arian lagi dan duduk kembali.
"kenapa kamu nggak angkat?" Tanya Arian padaku.
"ah itu.. Emm.." aku bingung harus berkata apa.
"dari Anjasta ?, kamu merasa canggung mengangkat nya karena ada aku ?, baiklah aku.." dia sudah beranjak berdiri ingin keluar tapi aku menahan tangan kanannya.
__ADS_1
"tidak.. Kau tetap disini, aku ingin kamu disini bukan dia" kataku, diapun kembali duduk terdiam dan melanjutkan sarapannya.
***