Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 41


__ADS_3

Di sebuah restoran kita makan disana dan memesan beberapa makanan dan minuman, ini sudah malam memang, mungkin karena lelah di jalan tadi jadi lapar banget.


"habis ini jalan-jalan dulu yuk kita beli cemilan yang di pinggir jalan gitu" kataku pada Arian yang sedang serius melahap makanannya.


"boleh juga tuh," katanya yang sambil minum , lalu di teguknya.


"aku sambil ngajak kamu ke tempat butikku disini" katanya , akupun berhenti makan.


"oh iya ? Kamu punya butik ? Kenapa baru bilang sekarang ?" kataku.


"iya, aku belum sempat bilang, baru kali ini dan inget juga gitu , nanti aku pilihin baju yang ternama dan pastinya cocok buat kamu ok" kata Arian yang sambil memakan makanannya.


“emang sekarang masih buka ? Kan ini udah malam” kataku sambil minum.


“aku yang punya butiknya kenapa nggak bisa iya nggak? Katanya yang membuatku tersenyum.


“haha.. Baiklah” kitapun setelah makan dan ngobrol-ngobrol beberapa hal.


“Rin..” Kata Arian.


“kenapa ?” sambil melirik ke arahnya.


“kamu setuju nggak, kalau Anjasta kita keluarin dari penjara ? Dia kan nggak salah” katanya yang membuat hatiku tiba-tiba nyilu.


“emm.. Nanti deh aku fikir-fikir dulu, rasanya masih sakit banget pas kejadian itu” kataku yang tiba-tiba murung.


“ayah sama ibu tau nggak masalah ini ?” tanya Arian yang membuatku kaget.


“yah nggak lah aku nggak mau buat mereka cemas, lagian aku bakal simpan kejadian itu berdua sama kamu, Herby juga nggak akan aku kasih tau, itu hanya berdampak bencana untuk kita kedepannya” kataku, kitapun selesai makan langsung beranjak keluar untuk pergi ke tempat butiknya Arian.


.


.


.

__ADS_1


Sampailah kita di tempat butiknya Arian setelah naik taxi, jujur saja ini tempat butik atau kamar raja ? Sangat besar , elegant dan banyak design yang cantik disini Arian sangat hebat bisa se-kaya ini, aku benar-benar takjub padanya.


“nah, sekarang kamu pilih mana yang kamu suka” katanya sambil tersenyum, akupun memandang Arian dengan penuh bahagia di wajahku ini, dia sangatlah berbeda dengan yang dulu, tanpa tersenyum, raut wajah yang cuek, asam pedas, tapi sekarang.. Dia sangat hangat, perhatian, selalu tersenyum di depanku dan sangat romantis, aku nggak tau harus berapa kali berfikir ini aku tak layak bersanding dengannya, tapi tuhan berkata lain buktinya aku saat ini berada dekat dengannya dan yang paling istimewa adalah aku ini orang yang dia cintai, sayangi ini adalah sebuah mu’zijat tuhan untukku.


“aku pilih yang ini boleh ?” kataku yang menunjukan gaun warna biru muda selutut pada Arian.


“ini indah sekali, bungkus 1 untuk nya” kata Arian pada pegawai butiknya.


“baik tuan Stefan” Kata pegawai butiknya ini hebat sekali hingga pegawai nya pun menghormatinya, jadi ingin sekali aku memanggil nama depannya.


“Stefan lihat sini , jas ini cocok kayaknya buat kamu” kataku yang secara sengaja memanggilnya dengan nama depannya, Arian pun menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahinya, kemudian dia mendekatiku sambil menatap wajahku dengan aneh, akupun sambil mencoba mencocokan jas yang kupilih pada Arian.


“tadi kamu panggil aku apa ?.. Stefan ?” katanya yang sambil memajang muka serius.


“iya, emang kenapa ? Aku pengen aja manggil nama depan kamu kayak orang lain yang menghormatimu, bukankah seorang istri harus menghormati suaminya ?, emm.. Jika di fikir, nama Stefan agak ke bule-bule nggak sih, dan itu cocok buat kamu” kataku yang sambil terus mencocokan jas untuknya tanpa menghiraukan tatapan Arian padaku.


“tapi.. Aku nggak suka kamu panggil nama depanku!” katanya yang tegap dan mukanya memerah, haha aku tau rasa nya aneh aja kan dari zaman sekolah sampai sekarang aku panggil dia Arian dan baru detik tadi aku bilang nama depannya.


“ya emang kenapa ? Kan itu juga nama kamu sendiri” kataku sambil tersenyum.


“nama itu hanya khusus untuk panggilan para bawahanku saja, dan kamu itu istri aku jadi jangan panggil nama itu lagi, dengarnya saja tak enak, rasanya pun beda” katanya sambil mengalihkan pandangan ke samping dan ke atas.


“kamu itu yah bisa aja mengalihkan topik” katanya, akupun langsung mengambil bajunya mengabaikan Arian dan pergi meninggalkan Arian.


“Rin.. Hei.. Kenapa di tinggal, malam ini kita lanjut yah” berteriak-teriak tapi aku tak mendengarnya si mbak pun tertawa kecil mendengar perkataan Arian, dan Arian pun malu, dia menyusulku sambil berlari dan menggandeng tanganku dan diapun jongkok di depanku “ngapain ?” tanyaku heran.


“kamu capek ? Sini gendong” katanya.


“apaan sih nggak usah lagian nanti kamu berat” kataku sambil tertawa.


“kenapa harus berat ? Yang berat itu bukan kamu tapi melindungi kamu, paham ?” katanya yang se-dari tadi dia jongkok di depan aku, akupun tersenyum dan nurut yang dikatakan Arian akhirnya akupun naik ke punggungnya.


“yakin nggak berat yah, awas aja kalau pulang minta di pijit gara-gara aku” kataku sambil tersenyum.


“harus dong, eh ya lain kali jangan panggil nama Stefan lagi nggak enak di denger tau” katanya sambil berjalan menggendongku.

__ADS_1


“iya iya.. Lagian tadi itu aku penasaran aja soalnya emang se-populer itu kamu gitu sampai nama Stefan kenal dimana-mana hehe” kataku yang sambil memeluk ke leher Arian.


“iya udah, oh iya ini kan masih jam setengah 11 gimana kalau kita keliling dulu sambil cari cemilan, mau nggak ?” katanya yang membuatku terfikir sambil tersenyum.


“boleh, aku pengen nyari cemilan yang aneh ada nggak yah” kataku sambil mikir.


“yang aneh apaan ? Terigu campur semen 3 Roda gitu ? Haha ada-ada aja kamu” katanya yang membuat ku tertawa.


“hahaha… kamu ini ada-ada aja yah nggak lah aku pengen banget yah pedes gitu” kataku.


“eh Rin liat deh itu ada jualan cimol, kamu kan suka cimol” katanya sambil menunjuk kearah depan.


“mau.. Turun dulu turun” suruhku pada Arian, dan Arian pun menurunkanku, akupun berjalan menuju jualan cimol itu.


“pak cimolnya.. Eh kamu mau nggak ?” kataku pada Arian.


“mau lah tapi jangan terlalu pedas” katanya sambil menoleh ke arah tukang cimol.


“cimolnya 2 yah pak, yang 1 pedesnya sedeng kalau yang 1 nya lagi sedikit aja” kataku, akupun langsung mundur.


“lho ? Kok mundur ?” tanya Arian.


“iya kan aku udah pesen nah kamu yang bayar nya haha” kataku sambil tertawa.


“heh.. Kamu ini bisa aja, berapa pak ?” langsung menoleh kearah tukang cimol.


“10 ribu bli” katanya, Arian pun mengambil cimol itu.


“makasih pak” kata Arian , dia pun langsung menuntunku.


.


.


Setelah jalan-jalan hingga pukul 1 pagi kitapun langsung kembali ke hotel dan tidur.

__ADS_1


 


***


__ADS_2