Arian & Rin

Arian & Rin
Bagian 52


__ADS_3

Arian pulang dengan keadaan muka banyak lebam dan memar di bagian tangan terdapat beberapa luka kecil.


Arianpun mengetuk pintu rumah, dan di buka-kan oleh Rin.


"astaga, Arian, kamu berantem sama Rey, ayo sini!" cemasku sampai terkejut.


"aku nggak apa-apa sayang" sambil mengelus kepala Rin.


"nggak apa-apa gimana ? Kamu lebam-lebam gini, ayo naik, aku obatin dulu" aku menuntun Arian ke atas.


"jangan buru-buru sayang, inget kandungan kamu" katanya, akupun langsung nurut.


"dibilangin jangan berantem ih" kataku.


"ya mau gimana lagi, dia yang manas-manasin aku Rin" katanya sambil megang pipi sambil tertunduk.


Sampainya di kamar, Arian ku suruh duduk dan mengambil es batu dan plaster untuk mengobatinya.


"kamu nggak ngapa-ngapain kan pas nggak ada aku ?" tanya Arian sambil menggenggam tangan Rin.


"nggak sayang, aku daritadi juga nonton tv, ngobrol sama Anjasta, makan buah-buahan yang di beli waktu itu" jelasku.


"ngobrol apa aja sama Anjasta ?" mukanya memerah terlihat seperti sedang dilanda cemburu, siasatku untuk membuat mukanya semakin memerah lagi.


"emm.. Apa yah" akupun tertawa kecil.


"ih, kok gitu jawabnya, suami kamu ini butuh kejelasan bukan malah nanya balik, tau ah" Arian pun ngambek.


"hahaha.. Kita sedikit flashback aja terus..." aku menahan tawaku dan masih mengobatinya.


"tuh kan feelingku bener, ngapain sih flashback-flashback gitu, mau bikin novel gitu tentang kalian hah!?" katanya yang mulai emosi.


"hahaha... Nggak lah, kita nggak flashback sayang, Anjasta cerita kalau dia udah punya pacar sekarang" kataku yang sudah tak tahan ingin memeluknya.


"sejak kapan dia bisa move on dari kamu ?" tanya nya Arian yang masih cemburu.


"mungkin barusan hahaha" candaku.


"ya tuhan.. Kuatkanlah hatiku untuk menghadapi istriku yang cantik ini tuhann" matanya sambil liat keatas dan mukanya semakin memerah.


"hahahaha... Udah udah udah jangan cemburu lagi yah aku bercanda kok" kataku.


"siapa yang nggak cemburu coba liat istrinya di godain laki-laki lain, apalagi itu mantannya" masih ngambek akupun tersenyum sambil mencubit pipinya.


"duh duh duh.. Nak, liat ayahmu ini, masa iya diluar terlihat seperti superhero, di dalemnya ternyata pink, haha.. Jangan malu yah nak" akupun sambil memegang perutku sambil berbicara dengan bayiku.


"heiii.. Aku gini kan karena aku nggak mau kamu di milikin orang lain selain aku Rin, aku nggak mau kehilangan kamu, kamu tuh kalau di bandingin sama matahari sama-sama sumber daya tau, tapi bedanya kamu tuh sumber daya hidup bahagiaku" katanya sambil kepalanya tiba-tiba minta di elus seperti anak kucing kurang perhatian hoho.


"yaampun, nak.. Ibumu ini jadi laper di gombalin ayahmu yang tampan ini haha" candaku. Akupun mengelus-elus rambut jambulnya Arian. Arianpun mengelus perutku.


"nak, kalau kamu perempuan kamu mesti mirip kayak ibumu mah, cantik parasnya, cantik hatinya juga dan kalau laki-laki mesti mirip ayahmu ini, yang ganteng, bertanggung jawab, baik, keren disukai banyak cewek, dan yang paling penting harus pinter kayak ayahmu ini yah nak uuuu tayangkuu" kata Arian yang membuat hatiku senang sekali. Adem rasanya melihat Arian bermanja seperti ini.

__ADS_1


"pinter kayak ibunya dong, kan aku yang lahirin" candaku.


"iya kayak kamu juga istriku" senyumnya sambil mengecup bibirku.


"sudah ngobatin ayahnya sekarang ibumu ini mau tidur ngantuk, eh yaang, kamu ganti dulu baju ih, masa iya mau langsung tidur gitu" ocehku padanya.


"uh.. Ibu hamil ini bawel banget yah, iya iya lah pasti, kotor gini, mau mandi" katanya sambil melangkah ke kamar mandi.


"eh ini udah jam berapa iann!!? Masa iya malem-malem mandi, ntar rematik loh!!" teriakku, karena ian sudah menutup pintu kamar mandinya.


"nggak mauuu!!" teriaknya.


"ehh!!"


Pas selesai mandi, Arianpun mengenakan baju tidur yang sudah ku siapkan.


Arian membelai rambutku. Aku menatapnya.


"kenapa belum tidur sayangku?" tanya Arian.


"nggak bisa tidur" kataku.


"aku kok nggak liat ngidamnya kamu yah ?" sambil ketawa kecil.


"ya mana aku tau ian, tapi belakangan ini aku kalau bikin teh biasanya kan 2½ sendok ini jadi ½ sendok tau, jadi segitu tuh udah kayak manis banget" jelasku pada Arian.


"yah mungkin itu bawaan hamil sayangku, terus apalagi yang kamu rasain aneh ?" tanyanya.


"berarti selama kamu hamil, aku nggak akan di jambulin dulu yah, biar kamunya suka terus haha" candanya sambil memegang rambutnya yang kini di kebelakangkan.


"berarti mesti potong rambut dulu hehe" saranku sambil ketawa.


"di bikin Slicked back undercut aja sayang ?" tanyanya.


"Slicked back undercut tuh kayak gimana ?" tanyaku balik.


"bagian tengah di biarin kayak gini panjang cuman di kebelakangin, ntar bagian kanan kiri di potong tapi nggak habis, nah ntar kan kalau potongan nya udah gitu si yang bagian tengahnya kalau ada acara-acara resmi tuh pake gel jadi biar nampak sleek gitu, ngerti kan ?" jelasnya panjang lebar, aku cuman diem aja.


"emm.. Nggak hahaha, tapi kalau bagian tengah yang kamu maksud itu aku paham sih haha" kataku yang membuat dia mencubit pipiku.


"ye dasar yah kamu, udah ah geh tidur, aku mau kebawah dulu bentar" katanya yang sambil beranjak dari kasur.


"ngapain ih, ini udah jam setengah 1 lebih yaang" kataku, yang menunjukan ke arah jam yang ada di sebelah kananku.


"aku mesti ngobrol sama Anjasta buat masalah besok ke kantor polisi" jelasnya.


"oh gitu, iya udah geh, oh iya hari ini aku belum sempet bilang ke orang tua kita masalah kehamilan aku ian" kataku.


"udah nggak apa-apa besok aja di video call bareng sama aku yah?" katanya.


"iya udah, aku tidur yah, kamu jangan lama-lama ngobrolnya" kataku.

__ADS_1


"iya sayangku nggak kok" katanya yang menghampiriku dulu untuk mengecup keningku, pipiku dan bibirku. "goodnight sayangku" lanjutnya.


"goodnight suamiku" jawabku.


Diapun berjalan menuju pintu keluar dan menutup pintunya.


Arian pun turun dan kebetulan papasan sama Anjasta yang sambil bawa segelas air putih.


"eh ian, loe belum tidur ?" tanya Anjasta.


"belum, habis kelonin istri gua haha" canda Arian.


"huuuu... Bikin gua merinding bro haha" katanya.


"duduk di depan yok, gua mau ngomong sesuatu nih" kata Arian sambil merangkul Anjasta.


"yaudah ok, gua juga mau ngomong masalah Reynando ke loe" katanya.


"iya gua juga mau bahas itu sama loe" kata Arian yang sedikit tertawa.


Setelah duduk di sofa depan, Anjasta menaruh segelas air putih di meja..


"gimana gimana ?"  tanya Anjasta.


"tadi gua kan abis ke Apartement nya Rey sambil bawa bir banyak, maksud gua tuh buat mancing Rey supaya ngaku kejahatannya karena dia dari dulu nggak kuat sama minum, nah setelah gua pancing sedikit sedikit akhirnya dia ngakuin kesalahan dia, kelakuan busuk dia dan gua udah rekam semuanya di handphone gua, jadi besok gua tinggal kasih bukti kedua yang real nya ke polisi" jelasnya Arian pada Anjasta.


"begitu yah, bagus idenya sih emang, jadi besok tuh loe, gua sama Teo ke kantor polisi buat nyerahin bukti yang tadi siang sama yang punya loe itu ?" tanya Anjasta.


"tha't right, good IQ" kata Arian sambil menepuk pundaknya Anjasta sambil ketawa.


"yaudah gua masuk kamar lagi yah" kata Anjasta.


"ntar dulu gua juga mau ngomong sama loe" cegah Arian.


"apalagi ?" tanya Anjasta.


"loe tadi ngobrol apa aja sama istri gua hah!?" tanya Arian cemburu.


Anjasta ketawa kecil sambil mengerutkan dahinya.


"nggak ada, gua cuman ngajak ngobrol tentang pasangan baru gua ke Rin, udah itu doang" jelasnya.


"bener yah ? Awas loe kalau macem macem, eh btw ceritain dong cewek loe itu" senyum penasarannya Arian yang membuat Anjasta ketawa.


"udahlah besok aja yah, gua pengen tidur, ngantuk" kata Anjasta.


"mm.. Yaudah besok sambil di perjalanan yah ?" sarannya.


"iya iya ah, udah ah, bye" kata Anjasta sambil beranjak dari sofa.


Setelah Anjasta pergi, barulah Arian.

__ADS_1


Arian pun masuk kamar dan melihatku sudah tertidur, Arianpun kini tidur di sampingku sambil memelukku.


__ADS_2