Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 50


__ADS_3

Keesokan harinya di ruang tamu, aku turun tangga dan melihat ada Arian dan Anjasta sedang bicara serius, akhirnya aku samperin mereka dan ikut nimbrung.


 


"pagiii guys.." sapaku sambil duduk di samping Arian.


"pagi sayang" sahut Arian.


"pagi" lanjut Anjasta.


"lagi pada ngomongin apa ? Serius banget kayaknya" tanyaku pada mereka.


"kita lagi mikirin gimana cara nangkep Reynando" kata Anjasta.


"oh gitu, gimana kalau menurut aku si Teo jadi pancingan aja ?" saranku.


"Teo itu siapa Rin?" tanya Anjasta.


"Teo itu yang ngaku-ngaku di hamilin Arian waktu itu, tapi akhirnya dia ngaku kalau ternyata dia di bayar 500juta sama Reynando, Reynando bersikap seperti ini tuh karena ingin ngerebut gua dari Arian. Gitu Jas" jelasku pada Anjasta.


"oh gitu, terus caranya gimana ?" tanyanya


"ntar aku undang Teo kerumah, kita kasih alat sadap suara ke Teo setelah itu Teo pura-pura nanya yang menjurus ke masalah kita, nah setelah itu ntar Anjasta rekam pakai camera dari kejauhan gimana menurut kalian ?, ntar kan yang nentuin tempat pasti Rey" saranku yang membuat mereka berdua terdiam cukup lama, akupun juga ikut terdiam sambil menatap mata mereka.


 


Akhirnya akupun di kagetkan oleh kata "Nah!!" nya Arian.


 


"Nah!!" kagetnya Arian padaku dan Anjasta.


"yaang ihh aku kaget" sambil mukul tangannya.


"astaga ian loe buat gua kaget, parah loe!" nyolotnya Anjasta pada Arian.


"bener tuh jas sama idenya istri gua, nggak sia-sia aku nikahin kamu Rin hahaha, smart hahaha" sambil memeluk dan mengelus rambutku


"yee dasar yah kamu, yaudah sekarang aku telepon aja yah Teo nya suruh kesini ?" tanyaku pada Arian.


"yaudah telepon lah sekarang, biar masalahnya kelar" kata Arian.


 


Akhirnya akupun mencoba menelepon Teo untuk datang ke rumahku.


 


"hallo Teo?" kataku di telepon.


"iya nyonya ?"  jawabnya di telepon, aku di speaker aktifkan.


"Teo.. Hari ini bisa datang ke rumah saya ? Saya mau bahas tentang Reynando" kataku.


"bisa nyonya, saya akan datang jam 10 siang "  katanya.


"oke di tunggu yah Teo, thank you" kataku.


"iya nyonya"  katanya, langsung ku tutup teleponnya.


 


..


"nanti siang yah ?" tanya Arian.


"iya, kenapa emang ?" jawabku heran.


"aku deg-degan aja sih yaang, ngerasa males aja buat ketemu dia" katanya yang membuatku ngerasa lemes juga.

__ADS_1


"kan dia udah minta maaf pas waktu di RS, dia udah aku gretak kok, tenang aja" optimisku.


"gretak gimana ?" tanyanya.


"iya ada deh pokoknya" kataku sambil tertawa kecil.


"gua jadi penasaran sama yang namanya Teo itu gimana?" timpas Anjasta.


"cantik kok, dia orang jakarta loh" kataku.


"ntar ah liat hahaha" katanya, sambil berdiri.


"mau kemana ?" kata Arian.


"gua mau boker, ikut loe ?" katanya sambil nyeringai canda.


"kagak lah, yaudah sana huss" kata Arian.


"jorok loe, nggak pernah berubah dari dulu" kataku sambil ketawa.


"aha flashback ciee" kata Arian yang mukanya mulai memerah.


"ehh lupa ada suami, kabur ke atas ah hahaha" akupun meninggalkan Arian sendiri.


"kok kamu gitu sih ?.. Hey.. Awas kepeleset hati-hati bahaya jaga tuh kandungannya!" teriaknya sambil beranjak untuk menyusulku.


"iyaaa iyaaa bawel!" kataku sambil mengejeknya.


"yeh malah ngejek suami sendiri!" diapun langsung menuntunku sambil naik tangga.


"aku bukan lansia sayang" kataku.


"emang bukan, kamu tuh istriku, ibu dari anak-anakku, orang yang aku sayang istimewa pokoknya, yah pasti aku jagalah sayangkuu" katanya sambil nyubit pipiku.


"aww sakit ian.." kataku sambil sok-sok-an sedih.


"malah ketawa" kataku.


.


.


 


Tak terasa sudah jam 10, Teo pun datang, dan kamipun mulai membahas rencana kita, ketika sudah mengerti aku menyuruhnya untuk menghubungi Reynando.


 


"kamu hubungi dulu Rey, bilang mau ngebahas perkembangan rencana kita terkait Arian dan Rin, gitu aja" suruhku pada Teo.


"siap nyonya" katanya.


 


Tut..tut..tut...


 


"hallo" jawab Rey di telepon speaker pun di aktifkan.


"tuan, bisa kita bertemu, saya mau membahas terkait Arian & Rin" katanya.


"oke, kita ketemu di  taman kota sekarang, saya sudah tak sabar ingin mendengarnya" kata Rey pada Teo.


"siap tuan" katanya.


 


Kitapun langsung bareng-bareng ke taman kota pake mobil Alpard nya Arian.

__ADS_1


 


"eh loe bawa masker nggak Jas ? Camera ?" kata Arian.


"bawa kok tenang" jawabnya.


"oke sip, let's go" kata Arian.


 


Di perjalanan aku merasa sangat bahagia, senang, dan sakit hati campur aduk jadi satu, bahagia dan senang karena masalahnya akan segera selesai dan Reynando pun di masukan ke penjara, sakit hatinya karena tak menyangka sahabat sendiri bisa melakukan kejahatan yang merugikan keluargaku.


.


.


Sesampainya di taman kota. Masih di dalem mobil, kitapun diskusi kan dulu bagaimana caranya.


 


"Teo dulu keluar ntar Anjasta jarakin semeter sama Teo buat supaya nggak ketauan, Jas pake maskernya, ntar loe pura-pura turis yang lagi foto-fotoin pemandangan gitu, paham kan ?" jelasku pada Anjasta dan Teo.


 


Mereka pun mengangguk dan keluar dari mobil, aku dan Arian pun diam di dalam mobil sambil menggunakan alat sadap yang sudah ian siapkan.


 


Hampir setengah jam kami di taman kota mendengarkan Reynando dan Teo berbicara.


 


Lewat sadap suara itu Rey dan Teo berbicara seputar Arian dan aku.


 


"Teo.. Saya pengen banget hancurin keluarga Stefan Arian itu karena saya cinta mati sama Rin, saya ngelakuin semua ini demi Rin supaya dia cerai sama Arian dan saya mulai masuk ke kehidupannya Rin dan hidup bahagia bersamanya hahaha" kata Rey sambil tertawa jahat, aku dan Arian tidak menyangka dia sejahat ini.


"tuan, apakah tuan pernah menyelakai Arian dan Rin ?" tanya Teo pada Rey.


"mm.." sambil mikir dan menghela nafas berat. "yah pernah, dulu.. Tapi saya menyuruh orang untuk melakukannya, sama seperti kamu gini, dengan menyekap Rin, dan membunuh Arian, tapi.. Itu gagal, akhirnya saya berfikir lagi untuk tetap menghancurkan rumah tangganya Arian dan Rin tanpa mereka tau bahwa saya dalang dari kejahatan ini semua demi cinta" pengakuan Rey yang membuat Arian marah setengah mati pada Reynando.


 


.


.


"aku mesti hajar dia Rin, dia udah keterlaluan, tanganku gatal ingin menghantam jenis manusia seperti dia!!!" kata Arian yang benar-benar marah itu kucoba tahan.


"sabar sayang sabar, kita jangan gegabah, bukti ini kan akan di kejalur hukumkan, biarkan pihak berwenang yang menghukumnya" jelasku padanya supaya ian tak salah melangkah.


"... Ok, kalau gitu malam ini izinkan aku bertemu dengan Rey di apartementnya, aku nggak akan bahas ini, justru aku akan membuat dia mabuk kepayang dan dia menjelaskannya langsung sendiri, supaya itu jadi bukti kedua yang kuat untuk di berikan pada polisi" katanya yang membuatku cemas setengah mati.


"tapi ian.. Aakuu.."


"kamu jangan ikut Rin, bahaya, biar ini jadi urusan laki-laki dan seorang ayah, kamu percaya kan sama aku ?" katanya, sambil menatap mataku tajam penuh air mata menahan rasa kesalnya pada Reynando.


"iya aku percaya sama kamu, hanya saja aku terlalu cemas ian" kataku.


"aku janji, aku nggak akan kenapa-napa kok" yakinnya padaku.


"baiklah ian" kataku, padahal dalam hatiku amat takut.


 


Tuhan.. Aku tak mau semua ini berdampak buruk pada suamiku Arian. Lindungi dia tuhan.. Aamiin.


***

__ADS_1


__ADS_2