Arian & Rin

Arian & Rin
Chapter 45


__ADS_3

Aku dan Arian pun kaget dan dia bisa bahasa indonesia.


 


"Arian.. Aku jauh-jauh dari indonesia minta pertanggungjawaban dari kamu" kata perempuan yang memeluk Arian ini.


"pertanggungjawaban apa sih? Saya nggak kenal sama kamu" kata Arian.


"kamu telah menghamili aku, masa kamu lupa" kata si perempuan ini, aku masih kaget dan tidak percaya bahwa Arian yang melakukan ini.


"tolong yah mbak nya jangan sembarangan ngomong, suami saya mana mungkin melakukan hal itu" kataku yang mulai berkaca-kaca mata.


"ini kan ada buktinya mbak!" perempuan ini sambil menunjuk ke arah perutnya yang sudah besar itu.


"tapi.. Gimana mungkin? Ini mustahil!!" akupun menampar Arian dan pergi ke atas meninggalkannya.


"sa.. Sayang.. Heii.. Tunggu dulu ini pasti salah paham, Rin.." Arian berusaha mengejar Rin tapi di tahan oleh si perempuan ini. "Kamu sebenarnya siapa hah!!? Saya nggak kenal sama sekali sama kamu yah, tolong jangan hancurkan rumah tangga orang, kamu pergi dari rumah saya pergi!! Apa perlu saya panggilkan security ?" kata Arian yang marah pada perempuan yang belum di ketahui namanya ini, ia pun langsung pergi keluar sambil menangis.


 


...


 


Arian pun menyusul Rin dengan berlari dan bercampur rasa khawatir, Arian pun berhenti seketika di depan pintu kamar yang sudah terkunci rapat oleh Rin.


 


"Rin.. Aku sudah menjanjikanmu bahagiaku, aku sudah menunggu 9 tahun untuk hal ini, kita saling mencintai dan kamu juga tau itu bagaimana selama ini aku memperjuangkanmu, menjagamu dan melindungimu layaknya laki-laki sejati. Aku tidak melarangmu untuk marah jika aku memang salah. Tapi percayalah kejadian ini aku tidak benar-benar aku lakukan. Uang belanja sore ini aku transfer, orang tukang buat decor dapur udah aku telepon katanya 2 jam-an lagi datang, dan hari ini aku pulang kisaran jam 12-an ada meeting dari Korea soalnya jam 3 sore, Aku berangkat kerja dulu yah sayang, hati-hati di rumah, besok pagi kita bicarain hal ini, bye sayang.. Iloveyou.." kata Arian yang berbicara cukup keras di depan pintu kamar.


 


Aku yang terus menurus menangis tanpa menyahut omongannya Arian hingga akhirnya aku pun tertidur.


 

__ADS_1


Jam 2 lewat 15 menit sore..


 


Akupun terbangun dengan mata sembab, hidung memerah, dan raut wajahku yang cukup kaku akibat air mata yang mengering di pipi, aku terduduk di samping kasur, sambil terus berfikir,


 


*Seorang Stefan Arian yang di hormati semua orang adalah orang yang jahat. Tak habis fikir aku dengan perbuatannya, apa aku salah menikah dengannya, tapi bagaimana mungkin Arian melakukan hal itu ?*


 


"aku harus cari tau kebenaran ini, aku yakin, Arian pasti tidak melakukan hal ini, selama ini Arian hanya berpergian bersamaku, pada saat menjelang pernikahan pun Arian tidak lepas dariku, mulai dari fitting, cincin nikah, sampai hari H pun dia hanya fokus terhadapku, lantas kapan perempuan itu dan Arian melakukannya ?" kataku yang terus ber agumen pada fikiranku sendiri.


 


Aku tidak memikirkannya setelah beberapa menit akupun langsung mandi dan turun kebawah untuk makan.


 


"Did the person who confirmed the kitchen come?" kataku pada ms. Ketlyn pembantuku.


"okey"


 


Akupun langsung ke meja makan untuk memakan sesuatu, aku melihat bingkai foto kami berdua yang sangat besar di depan mataku, menempel di dinding, hatiku sakit melihat wajahnya.


 


"untuk pertama kalinya aku tak sambut kedatangannya nanti, aku tak akan menunggu dia untuk berbincang, hatiku sakit" gumamku sambil menyusutkan air mata di pipiku.


 


.

__ADS_1


.


.


 


Malam hari sekitar pukul 23.50  aku terbangun dan melihat kearah sampingku ada Arian yang sudah tertidur pulas sambil memeluku. Akupun merasa risih hingga dia pun terbangun.


 


"ada apa sayang ?" kata Arian.


 


Dia matanya sembab, hidungnya pun merah, apakah dia juga menangis ? -fikirku.


 


Akupun terduduk dan bersandar, Arian pun terbangun dan menyalakan lampu.


 


"kamu lapar ?" kata Arian. Dia selalu tau kalau aku bangun jam-jam segini pasti lapar.


"aku nggak lapar, Arian.. Maaf, tapi kita harus pisah ranjang dulu, aku nggak mau tidur sekasur sama kamu dulu" kataku.


"tapi kan.." kupotong langsung.


"cukup Arian, aku sedang tidak mau debat apapun sama kamu" kataku.


"iya udah, kalau itu mau kamu, aku turutin " katanya yang nadanya lemas dan mukanya memerah, diapun membawa bantal dan selimut di lemari dan diapun keluar dari kamar.


 


Akupun menangis terengah-engah, sakit sekali rasanya, nggak bisa ku tahan emosiku tapi ini sudah larut malam, akupun tertidur dan tak memikirkannya lagi.

__ADS_1


 


***


__ADS_2