
Keesokan harinya, aku terbangun sudah dalam keadaan tanpa busana hanya di tutupi selimut, aku melihat Arian disebelahku masih tidur nyenyak banget dan juga tanpa busana.
"astaga, aku kok semalem nggak kerasa yah?, kebo banget aku, Arian.. Arian.. Untung aja kamu tuh suami aku, kalau bukan udah aku tampiling kamu pake kunci inggris" gumamku yang sedikit kesal karena tak mengetahui adegan semalam.
Akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan turun kebawah untuk sarapan, sedangkan Arian aku biarkan dia tidur.
"morning bumil" sapa Anjasta yang sembari meminum kopi di sofa.
"morning jas!" kataku.
"pelan-pelan turunnya Rin" katanya yang ikut cemas.
"iya ini juga pelan kok, aku laper banget ini, aku sarapan dulu yah" kataku sambil berjalan menuju meja makan.
"iya udah sana" katanya. "eh Rin, Ian udah bangun ?" tanyanya.
"belum tuh, dia masih kebo, mungkin karena efek begadang sama kamu semalam kan, emang sampai jam berapa sih ?" tanyaku sambil mengangkat satu alisku.
"nggak malem-malem kok, cuman jam 4.38 kalau nggak salah" katanya dengan santai sambil duduk dan main gadget.
"CUMAN!!? itu kepagian banget gilaaa!" kataku yang emosi dan ingin segera memukul Anjasta.
"wih wih jangan marah dulu oke, dia emang maksa buat udahin filmnya, tapi karena gua yang terus-terusan mancing dia buat bisa temenin gua dengan ngebujuk dia kalau ada adegan ranjang yang super hot maulah dia nonton lagi, setelah adegan itu lewat akhirnya dia ketiduran di sofa, terus gua bangunin dia suruh pindah buat nemenin loe, yaudah selesai" jelasnya padaku yang langsung terpikir ternyata ini alasannya tadi pagi aku udah nggak tanpa busana, duhhh kebonya aku.
"yaudah lah aku mau sarapan dulu aja" kataku yang tak jadi memukul Anjasta dan langsung pergi ke tempat makan.
__ADS_1
"iya iya sana sana huss huss hahaha" ejeknya, dan aku tak menghiraukannya.
Sekitar 1 jam mungkin hampir Arian pun baru saja bangun. Aku yang lagi nonton tv di bawah bersama Anjasta, Arian pun ikut nimbrung.
"eh Jas, bos mah beda banget yah jam segini baru bangun" kataku pada Anjasta, menyindir Arian.
"aku kan habis begadang bareng Anjasta, sayang" Arianpun bersikap manja padaku, sambil memeluk tanganku dan kepalanya sandaran ke aku.
"Jas, bisa tinggalin kita berdua dulu nggak, aku mau ngomong sesuatu sama bos ini" kataku pada Anjasta yang tetap menyindir Arian.
"oke siap bumil!" kata Anjasta sambil pergi meninggalkan kita berdua.
"ayo buka mata nya tuan Stefan" kataku yang memanggil nama depannya Arian, yang aku tau dia nggak suka kalau aku manggil nama depannya.
"aku udah bilang yah Rin, kalau aku nggak suka di panggil itu!" katanya yang langsung melepas pelukannya itu tapi masih dalam ekspresi manja.
"tinggal nanya aja, nggak usah panggil nama depan aku juga" katanya sambil manyun.
"semalem kamu apain aku? Kok tiba-tiba aku telanjang gitu" aku yang masih pura-pura ketus padanya sambil nahan senyum.
"aaa.. Mmm... Itu... Mmm.. Yah mungkin kamu ngelindur aja" katanya yang tiba-tiba mukanya memerah dan memalingkan wajah ke arah yang berlawanan.
"ngelindur palamu ngelindur, kalau ditanya istri tuh yang bener jangan aaa mmm aaa mmm terus kayak lagi di perkosa aja kamu" kataku yang masih tetap menahan ketawa.
"mmm.. Itu... Aku.. Nggak kuat sayang" dia udah nafas dalem-dalem sambil gumamnya kecil dan sambil mengosokan tangannya kemukanya dan menggigit jarinya tanpa memandangku, aku tau dia mukanya udah mateng banget.
__ADS_1
"apa !? Ngomong yang bener Arian, kecil banget suara kamu, aku mana denger" kataku yang terus memancing Arian, padahal aku denger apa yang dia omongin barusan.
Diapun memandangku dan mulai mendekati mukaku dan berbisik ke telingaku.
"aku nggak kuat semalem sayang" bisiknya dan dera nafasnya membuat sekujur tubuhku merinding.
Diapun pun mincium kening dan bibirku lalu pergi meninggalkanku.
"eh Arian, kamu mau kemana ?, aku belum beres ngomong" teriakku memanggil Arian.
"mau mandi terus sarapan!" teriaknya kembali.
.
.
.
Sekeluarga pun akhirnya berkumpul di acara perayaan kehamilan pertamaku. Sebelum itu aku, ibu, dan mamah memakai gaun yang mamah beli waktu itu dan para laki-lakinya di haruskan untuk perkemeja hitam dan jeans cream. Ntah ini cuman perasaanku aja atau emang bener-bener elegant, mereka semua terlihat amat elegant sekali, apalagi papah dan Arian mereka seperti bukan bapak dan anak, gantengnya mereka berdua seperti tak ada yang menyaingi. Mamah dan ibu, mereka seperti bidadari surga yang jatuh untuk membahagiakanku disini, sangat cantik sekali. Kalau ayah karena tak masuk jika pakai jeans cream, ayahku memilih katun yang berwarna cream, ayahku sangat gendut.. Huhu, kalau Anjasta.. Tinggi dan kontras kulit sama dengan Arian tapi Anjasta lebih 4kg besarnya di banding Arian, no suspack pokoknya, tapi mereka semua sangat spektakuler. Oh ya.. Dan yang satu lagi adalah Nania calon istrinya Anjasta, dia seperti bak modeling internasional tinggi, ideal, kulit yang eksotis, rambut panjang dan hidung yang mancung. Sungguh cantik, dan aku merasa tersaingi huhu.
Acarapun di mulai dengan lancar.
"Arian, ini siapa ?" papah dan mamah menanyakan Anjasta pada Arian, ibu dan ayah ikut mendengarkan.
"oh ini temen Arian juga Rin mah pah, temen deket, namanya Anjasta, dan ini calon istrinya Anjasta namanya Nania" kata Arian yang memperkenalkan mereka berdua sambil berjabat tangan kemudian tersenyum.
__ADS_1
Para bapak-bapak dan ibu-ibu saling berbincang sedangkan kita berbincang tentang pernikahannya Anjasta dan Niana. Dan kita semua sambil nge-teh kemudian makan-makan bersama.