
Di saat seperti ini, aku dan Arian semakin lebih menghargai waktu kebersamaan seperti dulu, kami memutuskan untuk melupakan semua kejadian semu itu, menyakitkan rasanya jika kita terus terbelenggu dalam hal itu.
Kita berdua mencoba memulai hidup baru lagi dengan lebih tentram dan damai. Pagi ini kita mengisi waktu luang dengan beberapa kegiatan hingga menjelang siang, sore harinya kita bertiga dengan Anjasta pun nge-teh di tea room.
Mamah, Papah, Ayah dan Ibu beserta adik-adikku, 2 hari lagi akan datang untuk merayakan kehamilan mudaku ini.
Ketika di tea room kami bertiga berdiskusi.
"sayang, gimana kalau semisal kita ngerayain nya di sini aja sambil bakar BBQ kan seru, jadi nggak usah di rooftop. Disini juga luas iya kan ?" kataku pada Arian.
"boleh sayang, nanti aku sama Anjasta beli bahan buat BBQ, lagian bukannya Ayah kamu udah agak kerepotan yah kalau naik turun tangga sekarang ?, kalau di tea room kan nggak perlu naik kasian" Arian pun menyetujuinya.
"oh iya Rin, Ian.. Kalau semisal gua bawa seseorang nanti pas acara kalian boleh ?" tanya Anjasta pada kami.
"siapa ?" tanya kami berdua.
"nanti juga tau lah, rahasia dulu, tapi boleh kan ?" tanya nya lagi.
"boleh aja sih biar ngeramein juga kan, iya kan sayang ?" kataku pada Arian.
"iya sayang boleh, boleh kok bro, cewek atau cowok nih btw ?" tanya Arian.
"cewek lah, ntar detail nya kalian liat sendiri" jawab Anjasta dengan muka merahnya.
"yeee.. Lu kayaknya punya yang baru nih haha" kata Arian sambil nyenggol lengannya Anjasta sambil ketawa.
"wah udah move on nih ceritanya, tapi yang ini jangan lu mainin lagi loh awas!" kataku sambil sedikit mengancamnya.
"ya nggak lah Rin, justru gua berencana mau nikahin dia tahun ini, bentar lagi gua keterima kerjaan di perusahaan besar dan lagi bagian mananger juga, gua beberapa bulan kedepan mau ngiket dia dulu, dan gua bawa ke filipina buat nikah disana, dan yang mengejutkan nya lagi dia juga orang filipina dan sekota sama gua ternyata, nggak nyangka kan hahahaha" jelasnya, aku dan Arian pun terkejut karena kebetulannya itu.
"wow Jas, haha gua jadi penasaran banget, oh iya semoga lancar yah Jas kerja nya nanti" kata Arian sambil nepuk pundaknya kemudian tersenyum.
Mendengar hal itu kami ikut senang, dan sepertinya Anjasta akan segera menyewa apartement baru, dan rumah pun jadi sepi lagi nanti.
Esok harinya.. Kami bertiga mulai merias room tea ala cafe.
"kamu jangan capek-capek sayang, kandungan kamu masih muda itu rentan keguguran. Mending kamu istirahat aja yah biar aku sama Anjasta yang nyiapin sisanya, geh ke kamar" kata Arian.
"yaudah iya iyaa suamikuuu tercintaa, lagipula pinggangku sakit nih, aku istirahat yah sayang" sambil mengelus pipinya.
"tumben nurut, pinterr, hati-hati jalannya" teriak Arian.
__ADS_1
"iya iya sayangku!" teriakku kembali.
Akupun kembali beristirahat karena memang pinggangku dan kepalaku sedikit tidak nyaman, mungkin pengaruh hamil mudaku ini.
Siang harinya setelah Arian dan Anjasta selesai mendekor room tea, Arian datang ke kamarku membawa teh dan makanan ringan.
"sayang, kamu mesti banyak-banyak makan yah biar anak kita nggak kekurangan gizi, nih aku bawain teh sama cemilan" Arian memberikan tehnya kemudian menyuapiku kue.
"iya suamiku.. Tapi aku pengen yang asem, gimana dong ?" keluhku dengan wajah memelas.
"yaudah kamu mau yang asem apa ? Aku beliin" katanya sambil membelai rambutku.
"nggak, jangan di beli, aku pengen mangga asem jadi cuman di cium wanginya aja, boleh yaahh sayang" pintaku yang aneh.
"mana bisa kamu tau buah mangga yang asem sama yang nggak, aneh deh kamu" Arian agak menolak.
"ayolah sayang, nanti anak kita ileran kamu mau ?, sekalian potong rambut kamu biar rapian dikit, jangan dulu jambulan selama aku hamil aku nggak suka" kataku sambil ngambek-ngambek manja.
"astaga istriku ini, padahal bentar lagi aku masuk kategori gondrong loh ini sayang, tapi demi anak kita, yaudah aku pasrah, kamu siap-siap dulu gih, aku kebawah ambil mobil" katanya.
"nah gitu dong dari tadi, siap komandan" akupun beranjak dari kasur dan Arian pun keluar kamar.
"Sayang, aku lupa pakai sweater nanti kalau kamu udah beres tolong bawain sweater aku yah!" teriaknya dari bawah.
"iyaa sayang!" kataku.
Akupun tak lama menyusul Arian kebawah dan di hampiri oleh Anjasta.
"mau kemana nih pasutri ?" tanya Anjasta.
"gua mau cukuran rambut gua sekalian nurutin ngidamnya nyonya satu ini nih" jawab Arian yang seakan-akan kesel.
"hahaha, ngidam apaan lu Rin ?" tanyanya.
"aku pengen mangga asem tapi pengen nyium baunya doang abis itu pulang hehe" jelasku.
"aneh kan ngidam nya ?" tanya Arian pada Anjasta.
"astaga Rin.. Rin.. Hahaha, Sabar yah bro, resiko punya istri lagi ngidam emang bikin geleng kepala" Anjasta menepuk bahunya Arian.
"ini gua udah sabar haha, yaudah bro gua mau jalan dulu yah sekalian kontrol kandungan deh kayaknya, bye" kata Arian sambil menepuk kembali pundak Anjasta.
__ADS_1
"oke bye hati-hati kalian" Anjasta melambaikan tangan.
Kitapun berangkat, sambil berbincang-bincang.
Sekitar 25 menit kemudian kita sampai di super market kita berpapasan dengan kariawan nya Arian.
"Pak Arian, Ibu Rin" sapa Siska penuh ragu.
"Eh ada Siska ?, kebetulan banget yah ketemu disini" kata Arian.
"iya pak" sahutnya penuh rasa malu.
"saya kebetulan bawa istri saya yang lagi ngidam" nadanya Arian seperti sengaja membuat Siska panas.
Akupun berjabat tangan dengan Siska dengan penuh senyuman.
"Siska disini lagi cari apa ?"tanyaku yang ramah.
"perlengkapan dapur Bu" jawabnya yang tertunduk.
"mau bareng sama kita ?"tanyaku.
"ah~ nggak usah bu, saya sebentar lagi selesai kok, permisi saya duluan" katanya yang tergesa-gesa lalu pergi.
Kitapun melanjutkan mencari buah mangga Asem. Sambil bergosip tentang Siska.
"Siska masih ganggu kamu di kantor sayang ?" tanyaku.
"udah nggak sayang, aku kadang di buat risih sama dia, cuman karena dia salah satu bagian penting di perusahaan papah jadi aku pertahanin dia walaupun aku sering banget ngancam dia dipecat!" ceritanya.
"jangan terlalu dekat yah, bahaya" kataku.
"iya nggak akan sayang"
Akhirnya kita menemukan buah mangga asam dan akupun menciumi semua mangga yang baunya asam.
"bisa tajam juga yah ? Padahal bau buah mangga mau yang asem atau nggak tetep sama, kalau kita nggak nyobain makan mana tau kan, indra penciuman yang hamil memang luar biasa" puji Arian padaku.
"inilah kelebihannya hahaha"
"bisa ketawa juga yah haha"
__ADS_1