
Jam 03.15 pagi di RS.
Aku menggenggam tangannya Arian sambil nangis.
"sayang.. Bangunlah.. Aku rindu, aku minta maaf sama kamu, karena sudah menuduhmu yang belum ada kejelasannya, aku menyesal udah bikin kamu kayak gini, bangun sayang" aku yang sambil nangis dan mencium tangannya.
Tiba-tiba tangannya Arian gerak-gerak dan aku kaget. Aku mengelus keningnya dan menggenggam tangannya erat.
"Arian.. Sayang, kamu sadar" akupun mengecup keningnya.
"Ri..n" katanya yang lemas sambil melirikku sayu.
"iya sayangku, aku disini.. Terima kasih ya tuhan, suamiku akhirnya sadar juga" aku bahagia sekali, dan aku panggil dokter untuk menge-cek nya.
Setelah di cek dan keadaannya sudah membaik, Arianpun bisa di bawa pulang sore ini. Akupun menghela nafas lega dan bersyukur.
Jam 08.42 pagi. Aku yang sedang duduk di sampingnya dan dia sedang bersandar.
"sayang" kataku sambil menggenggam tangannya.
"kenapa sayangku?" jawab Arian.
__ADS_1
"maafin aku yah, aku udah nuduh kamu, sampai sakit kayak gini aku nggak tega dan merasa bersalah banget" kataku.
"nggak apa-apa sayangku, aku ngerti banget rasanya di posisi kamu saat itu, dan itu hal yang wajar, kamu ingat ini yah sayang, banyak orang yang ingin meruntuhkan rumah tangga kita itu adalah godaan, tapi cinta dan kasih sayangku ini nggak akan pernah runtuh perihal masalah-masalah seperti itu, aku ingin kamu selalu beriringan bersamaku dalam segala situasi dan kondisi, paham sayang ?" jelasnya yang membuatku terharu dan benar-benar lega.
"iya paham sayangkuu.. Aku juga mau kasih tau ini tentang kamu" kataku.
"apa sayang ?"
"kemarin aku sibuk membesuk Anjasta dan rencanaku, aku ingin Anjasta di bebaskan, dia kan nggak salah dia nggak harus ada di sana" kataku.
"iya sayang, aku setuju, yang mesti di penjara itu Reynando!!" katanya yang kesal.
"betul, dan lagi masalah wanita itu aku udah tau" kataku sambil tertunduk.
"oh iya ? Siapa ?" katanya.
"namanya Teo, dia asli jakarta, dan ternyata Teo itu suruhan nya Reynando yang di bayar 500juta, Teo ini udah menikah dan bayi yang di kandungnya itu yah dari hasil Teo dan suaminya, kita mesti bikin jebakan untuk Rey supaya dia di tangkap" jelasku pada Arian yang benar-benar tidak menyangka.
"aku nggak nyangka Rey itu kan sahabat kita dari SMA tapi dia malah ngelakuin hal ini, kita fikirkan lagi nanti untuk strateginya" katanya.
"iya sayang" kataku.
Tok..tok..tok.. Pintu kamarpun di ketuk. Dan akupun membuka pintunya, ternyata itu Teo, akupun menyuruhnya masuk.
"Ian.. Ini Teo datang" kataku
"mau apa dia kesini !?" jawabnya yang emosi.
"dia mau minta maaf sama kita, karena dia kan juga bakal ikut serta untuk bantuin kita jebak Reynando" kataku.
__ADS_1
Arianpun diam sambil natap ke arah Teo tajam.
"tuan Stefan, maafin saya, saya salah, saya tidak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga kalian, saya hanya sedang krisis keuangan karena bayi saya akan segera melahirkan, maafkan saya" sambil tertunduk nangis dan gemetaran.
"kemari kamu!" perintah Arian.
Teo pun menghamipi Arian.
"kamu sudah saya maafkan Teo, sudah masalah biaya persalinan nanti biar saya bantu yah, berapun biayanya" kata Arian.
"terima kasih tuan, saya berhutang budi pada tuan dan nyonya" katanya yang sambil menangis.
"iya sama-sama Teo" kataku.
Arian hanya mengangkuk senyum.
"kalian sepasang suami istri yang sangat baik, kalau begitu, saya permisi dulu" katanya sambil tersenyum bahagia dan mengelap air mata di pipinya.
"mari saya antar" kataku.
"nggak usah nyonya, saya terlalu banyak merepotkan" katanya.
"nggak merepotkan, biar istri saya saja yah yang anter kamu" timpas Arian.
"iya yuk, saya anter" kataku.
__ADS_1
Akhirnya akupun mengantarkan Teo sampai lobby, setelah itu akupun kembali untuk mengemas barang nya Arian untuk pulang.
***