Aroma Hujan

Aroma Hujan
Private room


__ADS_3

"Dari awal aku sudah menduga kau memiliki niatan buruk terhadap calon suamiku!" labrak Mina marah.


"Mina, hentikan.." Galen berusaha membuat suasana menjadi kembali tenang.


"Apa?! Kau akan membelanya seperti apalagi kali ini?!" sentak Mina.


"Aku bisa jelaskan hal ini."


Mina tersenyum sinis, kali ini dia tidak bisa mempercayai ucapan Galen.


"Apa kau akan mengatakan ini salah paham seperti kemarin?! Kau bahkan menemuinya dibelakangku secara diam-diam. Jika itu menyangkut tuxedo pernikahan seharusnya tidak sampai seperti ini."


"Mina, ada baiknya kau memberikan Galen kesempatan untuk menjelaskan." Hani, ibu kandung Mina turut serta mencoba untuk menenangkan keadaan.


"Tapi, Buㅡ"


"Jangan turuti emosimu." sela Hani.


"Karena hal seperti itu hanya akan memperkeruh keadaan. Dan kau.." Hani menatap Aurora disana. "Perkenalkan, aku ibu dari Mina.


Hani mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Aurora.


"Aurora Alexandra." balas Aurora memperkenalkan diri. Dia bisa menemukan ekspresi Mina yang masih tampak marah, namun teredam oleh permintaan sang ibu.


"Kita bisa pindah ke restoran yang memiliki private room untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga pernikahan kalian tinggal dua bulan lagi. Dan Galen, kau sangat kenal bagaimana sifat Mina 'kan?" tanya Hani yang dijawab anggukan singkat oleh Galen.


"Sekalipun ini hanya salah paham, kau perlu meyakinkannya pada putriku agar seluruh perasaan curiganya menghilang."


"Aku mengerti, Bu.." balas Galen. "Mari kita pindah restoran sekarang."


***


Berada ditengah-tengah Galen, Mina dan Hani membuat Aurora merasa sangat tidak nyaman.


Tidak ada yang bisa Aurora lakukan selain menunggu Galen bicara karena kemarin Aurora telah sepakat akan menyerahkan segala keputusan ditangan Galen.


"Maaf.." ucap Galen memulai.


"Untuk?" tanya Mina belum merasa puas.


"Suatu hal yang tanpa sengaja sudah aku lakukan dan berakibat fatal dikemudian hari." balas Galen.


"Hal apa?" ekspresi Mina tampak tidak mengerti, namun anehnya gadis itu sudah lebih dahulu memiliki firasat buruk terhadap ucapan Galen.

__ADS_1


"Mengapa kau hanya diam?! Galen, jawab pertanyaanku!!" sentak Mina marah.


"Mina.." Hani memegang lembut pundak anaknya yang duduk tak jauh darinya disana. "Sekali lagi ibu minta padamu untuk memberikan Galen kesempatan bicara dan menjelaskan terlebih dahulu. Jadi, tolong sedikit bersabar dan redam emosimu."


Mina menghela nafas kasar. "Baiklah.."


"Malam itu, hari dimana kau pergi berdua bersama Mark untuk memberikan kejutan kue ulang tahun untukku, saat itu aku merasa kau sudah mengkhianatiku dengan kejam, aku pergi ke boombar club untuk minum dan mencoba meluapkan amarahku disana. Kemudian tanpa sengaja kami bertemu." Galen mencoba menjelaskan dengan hati-hati.


"Singkat cerita, aku melihat Aurora tengah terlibat masalah dengan mantan pacarnya, lelaki itu hampir memukulnya lagi jadi aku datang untuk melerai. Aurora sangat ketakutan untuk pulang ke rumah karena ancaman dari mantan pacarnya jadi aku menawarkan JWN hotel agar dia bisa menginap disana. Melihat Aurora mengingatkanku pada sosokmu. Aku yang merasa khawatir memutuskan untuk datang dan menemaninya, kami sama-sama dalam keadaan mabuk berat saat itu hingga tidak menyadari telah melakukan hal diluar batas."


Galen bisa menemukan kedua mata Mina membelalak sempurna karena terkejut.


"Kemarin pagi Aurora baru mengetahui fakta jika saat ini dia tengah mengandung anakku." ucap Galen dengan bibir bergetar.


Tak hanya Mina, Hani juga tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Mereka kehilangan kata-kata untuk sesaat. Hingga hanya air mata yang mampu menggambarkan kepedihan yang tengah Mina rasakan saat ini.


Hani mengusap lembut pundak dan punggung gadis itu, mencoba untuk menenangkan.


"Kau sudah puas sekarang?!! Kita akan segera menikah dan kau malah mengkhianatiku dengan kejam seperti ini! Galen, sadarlah!!!" teriak Mina penuh amarah.


"Minaㅡ"


"Dimana kau taruh otak warasmu saat memutuskan untuk tidur dengan dia?!" sela Mina yang masih menangis. Perasaan gadis itu sudah tak karuan.


Aurora ikut datang menghampiri, merasa khawatir melihat Mina yang jatuh pingsan. Galen dengan segera membopong tubuh tunangannya itu keluar dari restoran bersama Hani. Mereka seakan melupakan keberadaan Aurora, meninggalkannya sendirian disana.


Hujan kembali turun.


Menghasilkan aroma khas yang Aurora sukai.


Pada akhirnya segalanya telah terungkap. Sekalipun tahu hal ini akan menyakiti banyak pihak, namun itulah resikonya.


Berani berbuat sudah seharusnya berani pula untuk bertanggung jawab.


Mina sudah pasti akan merasa sangat kecewa. Gadis mana yang masih bisa bersikap tegar setelah mengetahui berita mengejutkan tentang calon suaminya yang tanpa sengaja sudah menghamili gadis lain.


Jika berada diposisi Mina, Aurora mungkin juga tak akan sanggup.


***


Tiga hari telah berlalu tanpa ada kabar apapun dari Galen ketika tiba-tiba saja lelaki itu mengirim pesan meminta Aurora untuk datang menemuinya di restoran tonkatsu kemarin.


Aurora segera menyetujuinya.

__ADS_1


Lagi-lagi Galen datang terlambat.


Dia bisa menemukan Aurora sudah sampai di restoran namun belum masuk kedalam. Gadis itu tengah asik bercanda dengan seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki berusia sekitar empat tahun disana.


"Kau sudah tiba?" sambut Aurora begitu melihat sosok Galen yang berjalan mendekat kearahnya.


Galen mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Maaf ya, aku membawa serta Jio kesini. Dia salah satu anak dari pegawai butik. Dia bilang ingin makan tonkatsu juga. Ayo, masuk kedalam. Karena Jio sudah tidak sabar ingin makan tonkatsu." ajak Aurora.


Lagi-lagi Galen hanya mengangguk singkat. Mengikuti langkah Aurora yang masuk kedalam terlebih dahulu sembari menggandeng tangan mungil Jio.


"Kau tidak pesan juga?" tanya Galen melihat hanya ada satu porsi tonkatsu dan itu milik Jio.


"Aku sedang tidak ingin." balas Aurora. "Aku ingin makan cheese corn dog saja nanti."


"Kau ingin makan itu?"


Aurora mengangguk penuh semangat. Entah mengapa dia begitu suka saat Galen bertanya makanan apa yang Aurora inginkan saat ini.


"Kalau begitu kau bisa mendapatkannya setelah kita pergi dari restoran." ucap Galen.


"Kau juga akan pergi?" tanya Aurora.


"Tidak."


Aurora merasa sedikit kecewa, namun sadar dia tidak memiliki hak untuk menahan Galen untuk terus memperhatikannya.


"Bagaimana kabar Mina? Apa dia sudah baik-baik saja?"


Galen menggeleng pelan. "Mina harus di rawat di rumah sakit sejak hari itu."


"Dia pasti merasa sangat shock."


Galen mengangguk membenarkan. "Ah ya, kelihatannya kau suka pada anak-anak."


"Iya, kau benar. Tatapan polos mereka benar-benar sangat menggemaskan sekali. Dulu aku selalu berpikir mungkin akan menyenangkan jika aku memiliki seorang anak, tapi begitu mengetahui jika kehidupan pernikahan tidaklah mudah, aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam keinginanku itu." jawab Aurora panjang.


"Bukankah sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ibu?" tanya Galen.


Aurora menggeleng lesu. "Bayi ini milikmu."


***

__ADS_1


__ADS_2