Aroma Hujan

Aroma Hujan
Kunjungan Austin


__ADS_3

Pagi hari ketika Galen bangun dia tidak bisa menemukan Aurora dimanapun.


Galen turun kebawah setelah mandi dan bersiap-siap pergi ke perusahaan. Sarah berkata jika Aurora sudah pergi sejak setengah jam yang lalu setelah Briella menjemputnya.


Aurora juga berkata nanti dia mungkin akan pulang sedikit terlambat karena harus mengambil sisa barang miliknya yang kemarin belum sempat dipindahkan.


Tidak ada raut curiga diwajah Juniar dan Sarah, jadi bisa dipastikan semuanya masih aman terkendali.


"Nanti kau jemput Aurora pulang ya? Bantu dia memindahkan barang-barangnya." pinta Sarah.


Galen mengangguk mengiyakan.


"Ayah tau kalian masih berusaha untuk saling beradaptasi satu sama lain, tapi berusahalah untuk bersikap baik terhadap Aurora." ucap Juniar.


"Iya, Yah.." balas Galen.


"Habiskan sarapan kalian sebelum terlambat pergi ke perusahaan." ucap Sarah yang mulai melahap menu sarapan pagi ini.


Tidak ada yang tau dan tidak ada yang mengerti dengan kesulitan yang Aurora alami.


Aurora pikir, menikahi Galen akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Tidak bisa dipungkiri, Aurora membutuhkan sosok Galen disampingnya.


Selama ini dia selalu merasa kesulitan di pagi hari begitu rasa mual menyerang dan moodnya seketika akan berubah menjadi buruk.


Disaat seperti itu, Aurora ingin Galen ada untuk memberikan sedikit perhatian. Namun ternyata Aurora telah salah menduga, Galen bahkan dengan tegas mengatakan jika Aurora tidak akan bisa mendapatkan apapun itu yang dia inginkan dari Galen.


Memang salah jika kita sudah terlalu berharap pada sesama manusia, karena hanya akan ada rasa sakit yang diterima.


"Hei.."


Aurora tersentak pelan, dia beralih menatap Briella yang saat ini sedang fokus menyetir di kursi sebelah.


"Apa?"


"Makananmu tidak akan habis jika hanya kau pegang saja sedari tadi." ucap Briella.


Ada sebotol jus mangga juga sekotak aneka buah-buahan segar yang sudah dipotong dalam porsi sekali suap. Sarah memberikannya pada Aurora sebelum dia berangkat tadi.


Sarah mengerti jika Aurora tidak bisa mengonsumsi apapun di pagi hari, tapi buah-buahan segar bisa diandalkan untuk mengurangi rasa mual dan keinginan untuk muntah.


"Mertuamu memperlakukanmu dengan begitu baik 'kan?" tanya Briella.


"Tentu saja." balas Aurora.


"Galen bagaimana?"

__ADS_1


"Hm?"


"Apa dia memperlakukanmu dengan baik juga?"


Aurora mengangguk pelan.


"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir hubungan kalian ini tidak akan berjalan baik. Galen tampaknya masih belum ikhlas untuk melepaskan Mina. Tapi meskipun begitu sudah seharusnya Galen menyadari, antara kau dan Mina, yang lebih membutuhkan sosok Galen saat ini adalah kau."


"Apa itu karena adanya bayi ini?" tanya Aurora ingin meyakinkan jika tebakannya tak salah.


"Tentu saja." jawab Briella.


Memang benar!


Jika saja bayi ini tak ada, Aurora bukanlah siapa-siapa.


"Kau sedang mengandung anaknya, dia harus menjagamu dengan baik. Jika dia bersikap buruk katakan saja padaku, jangan sesekali memendam rasa marah dan sedihmu sendirian karena orang yang sedang hamil rawan mengalami yang namanya stress, hal itu akan mempengaruhi tumbuh kembang calon bayimu."


Aurora mengusap lembut permukaan perutnya. "Benarkah dia bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan?"


"Tidak percaya? Nanti coba kau tanyakan pada dokter kandunganmu saat kau pergi untuk melakukan pemeriksaan rutin." balas Briella.


"Baiklah.. akan aku coba."


Aurora segera menghampiri setelah mobil mereka berhenti dihalaman butik.


"Kau bukannya Austin, teman Galen?" tanya Aurora mengenali sosok tersebut.


Austin tersenyum, merasa senang karena Aurora langsung mengingat dirinya.


"Hai, apa kabar? Kita bertemu lagi ya dalam waktu dekat." sapa Austin.


"Ada apa datang kemari? Apa kau ingin membuat sepasang pakaian pengantin?" tanya Aurora penasaran.


Austin tertawa mendengar pertanyaan Aurora. "Bukan. Aku datang kemari untuk bertemu denganmu."


"Bertemu denganku?" tanya Aurora heran.


"Iya." jawab Austin.


"Ada perlu apa?"


"Aku mau kita bicara didalam saja."


"Kalau begitu silahkan masuk kedalam." undang Aurora.

__ADS_1


Briella menangkap ada hal lain yang coba Austin perlihatkan. Namun dia memilih untuk tetap diam, tidak akan baik jadinya jika Briella menghakimi seseorang yang belum dia kenal sebelumnya.


Menurut Aurora, Austin ini agak sedikit aneh orangnya! Dia bahkan sudah bersikap sok kenal pada Aurora padahal mereka baru satu kali bertemu saat hari pernikahan kemarin.


Tapi memang Aurora harus akui Austin adalah sosok pria yang memiliki kepribadian yang menyenangkan.


"Apakah terasa aneh karena aku tiba-tiba datang mengunjungimu?" tanya Austin yang kemudian meneguk lemon tea yang baru saja Aurora suguhkan.


"Sejujurnya memang sedikit agak aneh." jawab Aurora jujur.


Austin tertawa. "Aku hargai kejujuranmu. Kau tau? Sejak kemarin setelah pergi ke pesta pernikahan kalian, aku terus saja kepikiran tentang dirimu. Apakah Galen memperlakukanmu dengan baik?"


"Apa maksud dari pertanyaanmu itu?" Aurora balas bertanya dengan raut wajah datar.


Apakah terlalu ketara? Mengapa Aurora merasa hal itu terlalu transparan hingga orang lain bisa melihatnya dengan jelas mengenai hubungan antara Galen dan Aurora yang bisa dibilang sama sekali tidak baik.


"Aku takut Galen akan bertindak semaunya padamu. Sebagai sahabat dekat Galen, aku tau persis jika dia masih sangat mencintai Mina. Pernikahan ini juga diadakan karena sebuah keharusan yang dinamakan tanggung jawab. Apa ucapanku ini benar?" tanya Austin tanpa basa-basi.


Aurora rasa laki-laki dihadapannya saat ini sudah melewati batas. Sekalipun dia sahabat Galen, Austin tidak memiliki hak untuk mengomentari rumah tangga mereka.


"Sebaiknya kau segera pergi dari sini! Sekalipun ucapanmu itu benar atau bahkan mungkin salah hal itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Ini pernikahan kami, hidup yang akan kami jalani berdua, antara aku dan Galen. Kau tidak memiliki hak untuk mencampuri." ucap Aurora menegaskan.


Austin tidak merasa tersinggung, dia justru mengangguk-angguk paham.


"Kau benar. Aku rasa aku sudah bersikap terlalu jauh. Maaf, jika hal ini justru membuatmu merasa tersinggung."


Aurora diam tidak menjawab.


"Jika kau membutuhkan bantuan atau ingin menanyakan apapun itu tentang Galen, kau bisa datang padaku atau menghubungiku disini." Austin mengeluarkan sebuah kartu nama.


Aurora baru tau jika Austin ternyata pemilik dari salah satu perusahaan jasa penerbitan yang cukup terkenal di kota ini, terlihat dari kartu nama yang baru saja dia sodorkan pada Aurora.


"Percayalah.. aku mengenal Galen dengan sangat baik. Luar dan dalam."


"Aku rasa tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi. Silahkan keluar dari sini karena aku juga harus segera memulai pekerjaanku." usir Aurora terang-terangan.


"Hei, seharusnya kau bisa menikmati waktu santaimu pasca menikah."


"Aku bukan tipe orang yang gemar berdiam diri di rumah." balas Aurora.


"Kenapa harus berdiam diri? Biasanya orang yang baru menikah akan memiliki rencana pergi berbulan madu. Kalaupun tidak ada acara bulan madu, menghabiskan waktu bersama dengan suami di rumah saja sudah cukup menyenangkan."


Sudah kelihatan dengan jelas jika Austin tengah menyindir Aurora disana.


***

__ADS_1


__ADS_2