
"Apa kau ingin mengacau? Berhenti saja, karena itu tidak akan berhasil." balas Galen acuh.
"Bukan seperti itu, ini hanya pendapatku secara pribadi. Lagipula jelas sekali disini kau memiliki kesempatan untuk memilih antara Aurora dan Mina. Mereka sama-sama gadis yang cantik dan menarik."
"Apa kau sudah gila?! Memilih kau bilang? Aku dan Mina akan segera menikah sebentar lagi." ucap Galen tak mengerti dengan jalan pikiran Mark.
"Aku rasa kau yang gila! Kau ini akan menjadi seorang ayah dalam waktu tujuh bulan kedepan. Apa kau pikir kau bisa menjalani pernikahan dengan tenang dan bahagia selagi mengetahui diluar sana ada seorang gadis yang telah kau nodai, menjadi orang tua tunggal untuk bayi kalian."
"Aku sudah berusaha melepaskan Aurora dari masalah yang tengah dia hadapi saat ini, mencari jalan terbaik bagi kita berdua, tapi dia menolak dan tetep ingin mempertahankan bayinya."
"Apa kau meminta Aurora untuk menggugurkan bayinya?" tanya Mark tidak yakin. Tidak mungkin juga Galen berani bertindak sejauh itu.
Galen diam tak menjawab. Tapi Mark yakin, tebakannya seratus persen benar!
"Ya Tuhan.. aku rasa kau sudah benar-benar gila! Apa ayah dan ibumu tau tentang hal ini?"
"Jika mereka sampai tahu itu pasti karena ulahmu." balas Galen, dia meneguk minumannya lagi.
"Aku tanya sekali lagi padamu. Kau serius ingin melenyapkan bayi itu?" Mark ingin memastikan dengan sungguh-sungguh karena dihadapannya saat ini Galen tidak seperti sosok yang dia kenal.
Lagi-lagi Galen bersikap ragu. Mark tau, lelaki itu tak akan pernah tega. Hanya saja tuntutan dari Mina yang membuat Galen terpaksa bersikap kejam seperti ini.
"Galen lihat aku! Ini bukan kau, Galen yang aku kenal adalah seseorang yang terkesan dingin diluar namun memiliki hati yang hangat. Semua orang yang dekat denganmu mengetahui fakta jika kau menyukai anak-anak melebihi apapun. Kau melindungi mereka, menyebarkan tawa, bahkan rela celaka demi menyelamatkan nyawa mereka. Aku masih ingat saat kita duduk dikelas dua SMA dulu, kau terserempet motor demi menyelamatkan seorang anak kecil yang berlari ketengah jalan untuk mengejar bolanya. Tidakkah kau mengingat semua itu?"
"Mark, hentikan! Jangan membuatku goyah." pinta Galen dengan sangat.
"Memang itu tujuan utamaku, membuatmu membuang jauh-jauh tindakan penuh dosa yang hampir saja kau lakukan demi Mina. Kau ini benar-benar ya! Cinta boleh, tapi jangan jadi bodoh!" balas Mark dengan raut sebal.
"Sudahlah, Mark.. lagipula aku dan Aurora sudah sepakat untuk mempertahankan bayinya tanpa sepengetahuan Mina. Gadis itu akan pergi ke luar negeri dan merawat bayinya disana."
__ADS_1
"Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana susahnya hal tersebut untuk Aurora lalui seorang diri? Kau mungkin tidak tau, sama sepertiku, tapi aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana susahnya memiliki seorang bayi. Adik perempuanku banyak mengeluhkan segala hal selama dia menjalani masa kehamilannya, padahal dia memiliki seorang suami yang setia dan sabar untuk memberikan semua bantuan yang dia butuhkan. Tidakkah kau berpikir Aurora juga akan mengalami kesusahan yang sama selama berada disana?"
"Dia harusnya sudah tau akan resiko itu. Menuruti saran dariku untuk menggugurkannya. Lagipula Aurora tidak tertarik pada pernikahan, jadi untuk apa susah-susah memiliki seorang anak?" balas Galen dengan enteng.
"Jawab aku, Galen!" Mark menggoncang kasar pundak Galen. Sudah tidak bisa lagi menahannya, memaksa sahabatnya itu untuk menatapnya dengan lekat.
"Apa kau sendiri yang menginginkan bayi itu lenyap?"
Galen menunduk kemudian menggeleng lesu. Tentu saja jawaban itu yang Mark inginkan.
"Aku ingin merawatnya setelah bayi itu lahir bersama dengan Mina, namun Mina dan calon ibu mertuaku menolak hal tersebut. Mereka tidak ingin bayi itu terlahir ke dunia." jelas Galen.
"Aku mengerti sekarang. Apa Mina menggunakan cara lama hingga membuatmu terpaksa menuruti semua keinginannya?"
Galen mengangguk.
Galen mengusap wajahnya kasar, merasa sangat bimbang, semua yang Mark katakan mengenai Mina adalah sebuah kebenaran.
Bahkan Aurora yang hanya beberapa kali bertemu dengan Mina saja sudah bisa menebak sifat asli gadis itu. Pemaksa, egois, juga tukang ancam.
Beberapa kali ponsel Galen diatas meja bergetar, Mina mencoba menghubunginya juga mengirim puluhan pesan yang meminta Galen untuk segera menemaninya di rumah sakit. Namun kali ini Galen mengabaikannya.
"Pergilah untuk menenangkan diri. Aku yang akan menghubungi Mina, mengatakan jika kau tidak bisa pergi ke rumah sakit hari ini."
"Ya, Mark.. terima kasih." balas Galen. "Untuk saat ini sepertinya aku hanya butuh teman minum."
"Aku rasa kita bisa melakukannya bersama-sama."
***
__ADS_1
Diam-diam pagi ini Anna pergi untuk menghubungi Briella setelah kemarin malam dia sempat berdiskusi dengan Mark.
Mereka sepakat untuk tidak menyembunyikan hal ini karena bagaimanapun juga Briella adalah satu-satunya keluarga yang Aurora punya.
Briella datang ke rumah sakit dengan tergopoh-gopoh setelah Anna menceritakan keadaan Aurora yang mengalami kecelakaan kemarin malam. Juga masalah kehamilan yang Aurora sembunyikan.
Sebelum Briella tiba, Anna yang menemani Aurora di rumah sakit sejak semalam buru-buru pamit pulang sekalipun hari masih terlalu pagi, dia hanya takut terkena amukan Aurora karena sudah berani mengadu.
"Sudah aku katakan berulang kali, jika kau sedang punya masalah, jangan berani untuk menyentuh mobilmu. Kau ini memiliki tingkat konsentrasi yang rendah, mudah sekali melamun." omel Briella begitu dia tiba di kamar rawat Aurora.
"Maaf.." ucap Aurora sembari menunduk takut. Tau jika dia memang berada diposisi yang salah.
"Kenapa kau tidak menghubungiku? Mengapa aku justru harus mengetahui kabar ini dari Anna?"
"Anna mengadu padamu?"
"Tidak perlu mengalihkan pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya!"
Bibir Aurora sudah mengerucut sebal. "Gadis itu sama sekali tidak bisa dipercaya."
Briella sudah kelihatan kesal setengah mati karena Aurora dengan sengaja terus saja mengacuhkan pertanyaannya.
"Aku tidak berniat menghubungi siapapun pada awalnya. Namun tanpa disangka Galen menerima panggilan dari Anna melalui ponselku. Lelaki itu juga meminta Anna untuk datang danㅡ" Aurora segera menutup mulutnya begitu sadar jika dia sudah keceplosan. "Ah, maksudkuㅡ"
"Sudahlah.." sela Briella. "Yang penting keadaanmu sudah baik-baik saja."
Aurora merasa heran karena tampaknya Briella tidak terkejut sama sekali juga tak merasa heran ketika nama Galen tanpa sengaja sudah dia sebut. Atau mungkin Briella tidak dengar? Ya, semoga saja.
***
__ADS_1