
Waffle..
Dengan isian whipping cream dan juga beraneka ragam varian buah sebagai campuran didalamnya adalah gambar makanan yang tadi Galen lihat dilayar ponsel Aurora.
"Maaf, tapi aku tidak terlalu suka makanan manis." ucap Galen saat Aurora membagi setengah waffle miliknya untuk Galen.
"Aku yakin bisa menghabiskan semuanya sendirian." balas Aurora.
"Kalau begitu makan saja semua, tidak perlu membaginya denganku."
"Tapi ini bukan keinginanku."
"Apa maksudmu?" tanya Galen tak mengerti.
"Entahlah.. bagaimana aku harus mengatakannya? Aku sendiri juga kebingungan dengan sifatku ini." jawab Aurora kelihatan frustasi. "Hanya terima saja dan makan, karena sepertinya anak ini ingin berbagi dengan ayahnya!"
Galen dengan segera kehilangan kata-kata.
"Sekalipun kau tidak akan pernah mengakuinya, bayi ini ada juga karena dirimu. Kau ayah biologisnya." ucap Aurora tidak ingin perbuatannya barusan Galen anggap sebagai sikap yang mengada-ada.
"Pertanyaanmu seolah menuntut aku untuk bertanggung jawab."
"Bagaimana jika aku benar-benar menuntutnya? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aurora tidak serius.
"Jangan konyol! Kau mungkin akan hidup menderita jika nekat melakukannya. Karena aku tidak akan bisa memperlakukanmu sebaik aku memperlakukan Mina."
"Seorang budak cinta yang menyedihkan." sindir Aurora sembari asik makan waffle-nya.
"Terserah kau mau mengatakan apa saja. Satu hal yang harus kau tau, aku mencintai Mina melebihi apapun."
"Sudah jelas terlihat. Bahkan saat ibumu diacuhkan seperti itu di tempat umum, kau pasti akan tetap memberikan maaf pada Mina dengan begitu mudah." tebakan Aurora seratus persen benar.
"Mina sudah menyesali perbuatannya."
Aurora bergumam acuh. "Semoga saja."
Galen tampak mencicipi waffle yang tadi sempat Aurora bagi, biasanya dia tidak tertarik untuk mengkonsumsi sesuatu yang manis, tapi rasa waffle ini ternyata lumayan juga.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan kaki ibumu?" celetuk Aurora tiba-tiba, dia sudah menghabiskan waffle-nya.
"Kalau kau penasaran pergilah untuk melihatnya sendiri."
"Kalau begitu antar aku ke rumahmu."
***
__ADS_1
21:02
"Ini kelihatan semakin parah. Apakah terasa sangat sakit?" tanya Aurora ngeri melihat kaki Sarah yang tampak memar membiru.
"Tidak. Kelihatannya saja yang parah, tapi ini benar-benar tidak terlalu sakit, aku bahkan sudah bisa jalan. Ini semua berkat kau yang sigap mengantarku pergi ke rumah sakit tadi siang." balas Sarah yang kelihatan senang sekali bisa bertemu kembali dengan Aurora.
"Tidak, Nyonya.. itu hanya kebetulan aku sedang berada disana."
"Tetap saja kau sudah seperti seorang pahlawan bagiku."
Aurora hanya tertawa mendengar ucapan Sarah.
"Ah ya, apa Galen sudah membayar hutangku padamu?"
"Sudah."
Bagi Aurora ini mengenai timbal balik. Karena kemarin saat Aurora terlibat kecelakaan yang mengharuskan dia mengeluarkan biaya ganti rugi, Galen tidak cukup bersikap transparan dengan mengaku berapa biaya yang diminta korban saat itu.
"Baguslah kalau begitu. Lalu kapan kau memiliki waktu untuk makan malam bersama keluarga kami?" tanya Sarah dengan semangat.
"Maaf, Nyonyaㅡ"
"Kau bisa memanggilku ibu jika kau mau." sela Sarah.
"Tentu saja boleh. Sifatmu ini manis dan hangat sekali, membuat orang-orang yang berada di sekitarmu merasa nyaman."
Aurora hanya bisa tersenyum mendengar pujian dari Sarah. Sarah benar-benar sosok ibu yang baik dan ramah, jauh sekali jika di bandingkan dengan Galen.
"Aku tidak bisa memenuhi undangan dari ibu karena aku akan pergi ke luar negeri minggu depan dan menetap disana." ucap Aurora.
"Ah, sayang sekali.. padahal aku ingin mengenalkanmu pada suamiku. Suamiku merasa sangat berterima kasih sekali atas bantuan darimu." ucap Sarah tidak bisa menutupi rasa sedihnya.
"Sebenarnya sangat menyenangkan bisa merasakan masakan rumahan dengan suasana keluarga yang utuh dan harmonis. Sudah lama aku mendambakan hal seperti itu. Di rumah aku hanya tinggal bersama saudara kembarku, setelah ayah memutuskan untuk pergi bersama dengan wanita lain, ibu mulai sakit-sakitan dan meninggal dunia tak lama setelah itu. Jadi rumah kami benar-benar sangat sepi sekali."
"Sebelum kau pergi, bagaimana kalau kita melakukan hal yang kau inginkan sekarang saja? Ayo kita duduk di ruang makan sembari mengobrol dengan hangat, ibu akan meminta bibi untuk menyiapkan makanan untukmu."
"Ibu benar-benar mau melakukan hal itu untukku?" tanya Aurora.
"Tentu saja, mengapa tidak." balas Sarah dengan senyum teduh.
Aurora dan Sarah pergi ke ruang makan bersama, menimbulkan rasa penasaran pada Galen yang ingin mengetahui apa yang sedang mereka lakukan.
"Mau kemana?" tanya Galen mengikuti langkah mereka dibelakang.
"Menemani Aurora makan." balas Sarah.
__ADS_1
"Tapi ini sudah lewat jam makan malam."
"Aku lapar!" balas Aurora acuh.
"Kau baru saja menghabiskan sepotong waffle tadi." Galen mengingatkan.
"Aku belum kenyang." balas Aurora singkat.
"Ini sudah hampir tengah malam, kau akan gendut jika makan jam segini."
"Aku tidak peduli."
"Kau ini apa-apaan? Kau bersikap seolah ingin mengusir Aurora dari sini." ucap Sarah kesal melihat sikap Galen yang terkesan tidak sopan terhadap tamu.
Nyatanya Galen memang sedang melakukannya. Merasa Sarah akan mengomel panjang jika Galen tetap nekad mengusir Aurora dari sini, Galen memilih untuk berhenti saja sembari tetap mengamati.
Sarah dan Aurora masih asik mengobrol di meja makan sementara bibi menyiapkan nasi goreng yang Aurora mau, juga ada tambahan ayam goreng dan tumis brokoli disana.
"Maaf ya, hanya makanan sederhana ini yang bisa kami sajikan untukmu." ucap Sarah merasa tak enak sendiri, karena seharusnya dia bisa menjamu Aurora dengan lebih layak lagi daripada ini.
"Ini sudah lebih dari cukup. Justru yang istimewa adalah keberadaan ibu disini. Mengingatkan aku pada ibuku yang selalu menemaniku di meja makan." balas Aurora.
Sarah beralih mengusap lembut rambut Aurora dengan penuh rasa sayang. Galen sudah hampir beranjak karena tidak tahan dengan Sarah yang terlihat mulai menyayangi Aurora, namun dengan segara Sarah mencegahnya.
"Galen, ambilkan Aurora air minum." perintah Sarah.
"Iya, Bu.." balas Galen dengan tidak ikhlas menuruti perintah Sarah.
Galen datang tak lama kemudian dengan membawa segelas air putih. Dia bisa lihat Aurora tampak begitu lahap menikmati sepiring nasi goreng.
"Kau kelihatan seperti orang yang tidak pernah makan!" hina Galen.
"Hei! Jaga mulutmu!" Sarah sudah memberikan delikan tajam pada putranya itu.
Aurora menatap Galen dengan tatapan sinis. "Apa kau akan percaya jika aku mengatakan aku hampir tidak pernah makan nasi selama seminggu ini?"
"Kau pasti bercanda!" bales Galen tak bisa percaya sama sekali.
"Aku serius!" tekan Aurora.
"Memangnya hal apa yang membuatmu tidak bisa makan nasi selama seminggu ini?" tanya Sarah penasaran namun juga terlihat khawatir.
Aurora menghela nafas panjang kemudian menatap Sarah disebelahnya. "Bayiku menolaknya."
***
__ADS_1