Aroma Hujan

Aroma Hujan
Itikad baik


__ADS_3

"Aku hanya takut anak kita kenapa-napa. Dia mungkin akan kekurangan nutrisi atauă…ˇ"


"Semuanya baik-baik saja, sayang.." sela Mina dengan senyum manis.


Galen balas tersenyum. "Usianya sudah tiga bulan 'kan? Tapi dia belum terlalu kelihatan ya?"


"Kenapa kau bicara seperti itu? Maaf, sayang.. tapi aku memang agak sensitif, aku jadi merasa kau mungkin saja curiga jika kehamilanku ini hanya sebuah kebohongan belaka seperti ucapan Austin." balas Mina raut wajah sedih.


"Aku tidak pernah memiliki pikiran seperti itu karena aku sangat mempercayaimu. Aku hanya khawatir pada calon bayi kita. Tolong jangan salah paham." pinta Austin.


Tapi perasaan Mina belum juga membaik, Galen sangat maklum jika Mina berubah menjadi lebih sensitif dari biasanya, kemungkinan karena hormon kehamilan. Jadi jika sudah seperti ini yang bisa Galen lakukan hanya datang dan memberikan pelukan pada gadis itu.


"Orang-orang menganggapku pembohong! Apakah aku memang tidak pantas mendapatkan kepercayaan?" tanya Mina dengan air mata yang mulai jatuh mengalir.


"Bukan orang-orang, hanya Austin yang menganggapmu seperti itu, tapi memangnya pendapat Austin itu penting? Aku bahkan sama sekali tidak percaya pada dia." hibur Galen.


"Benarkah?"


"Iya.. sudah jangan menangis lagi, nanti calon anak kita juga ikut sedih. Habiskan sarapanmu, setelah ini kita harus bersiap-siap untuk pergi ke kediaman Handoko untuk bertemu dengan ayah dan ibu." ucap Galen yang segera dibalas anggukan oleh Mina


***


Setiap manusia pasti memiliki batas kesabaran, begitu pula dengan Juniar. Dia begitu malu melihat kelakuan putra semata wayangnya yang pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil dan memutuskan tinggal bersama Mina yang masih belum ada kejelasan antara hubungan mereka.


Jika memang Galen ingin hidup bersama Mina, bukan seperti ini caranya! Setidaknya dia harus menyelesaikan hubungannya dengan Aurora terlebih dahulu baru kemudian membuka lembaran baru bersama Mina.


"Kapan ibumu datang kemari?" tanya Juniar pada Mina.


Juniar memang meminta Galen dan Mina untuk datang, sudah dari minggu kemarin sebenarnya, namun Mina sering menunda-nunda dengan alasan sedang merasa tidak enak badan.


"Bulan depan, Yah.." jawab Mina dengan menunduk tanpa berani menatap kedua mata Juniar.


"Mina.. bulan kemarin kau juga berkata seperti itu, tapi nyatanya ibumu tidak kunjung datang kemari." ucap Sarah yang sudah berulang kali menghela nafas demi menenangkan dirinya sendiri.


"Keluarga kami memiliki itikad baik terhadapmu, juga calon bayimu." ucap Juniar kesal, merasa baik Mina maupun Galen hanya mengulur-ulur keadaan.


"Ayah, ibu.. saat terakhir kali kemari, Mina memiliki masalah dengan ibunya. Jadi untuk saat ini dia masih berusaha untuk membujuk ibunya agar mau datang kemari. Jadi bersabarlah.." pinta Galen.


"Sampai kapan? Dua bulan lagi Aurora akan segera melahirkan, sementara persiapan pernikahan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Kalian ini sebenarnya berniat untuk menikah atau malah sudah terlanjur nyaman dengan hubungan tanpa status seperti ini?" tanya Juniar geram.


"Ayahmu benar, nak.. mengurus perceraian, kemudian menikah dengan Mina itu akan menjadi hari yang sangat sibuk. Setidaknya mulai sekarang kita sudah harus mulai mempersiapkannya." ucap Sarah.

__ADS_1


Juniar dan Sarah yang pada akhirnya menyetujui hubungan antara Galen dan Mina adalah permintaan dari Aurora, gadis itu sudah memilih untuk menyerah. Membiarkan Galen meraih kebahagiaannya sendiri.


"Aku tau, Bu.. tolong beri Mina waktu sedikit lagi." pinta Galen.


"Dua minggu lagi." balas Juniar dengan segera.


Mina tampaknya cukup terkejut dengan ucapan Juniar.


"Jika ibumu tak kunjung datang, maka kami yang akan datang mengunjungi ibumu kesana." putus Juniar final.


***


Ruangan dokter Alina..


10:15


"Berat badan anda turun lagi, ibu Aurora. Ini bahkan turun dua kilogram dari bulan lalu. Apakah anda masih merasa mual di pagi hari atau bahkan muntah?" tanya dokter Alina.


Aurora diam melamun.


"Ibu Aurora.." panggil dokter Alina.


Aurora kemudian tersadar saat melihat kedua mata dokter Alina yang tengah menatapnya dengan raut wajah khawatir.


Dokter Alina tersenyum maklum. "Anda melamun?"


"Maaf.."


"Saya tadi mengatakan berat badan anda turun lagi, ini sudah terjadi sejak bulan lalu. Apa anda masih mengalami muntah di pagi hari? Atau mual yang membuat anda tidak memiliki nafsu untuk makan?"


"Tidak, dokter.. saya sudah bisa makan dengan nyaman. Lalu mengenai berat badan, apakah itu berefek buruk pada calon bayi saya?"


"Sejauh ini memang masih aman, tapi tidak menutup kemungkinan hal itu akan berpengaruh pada kondisi janin anda kedepannya. Contohnya seperti kondisi bayi yang lahir memiliki berat badan yang kurang."


Aurora mengangguk mengerti.


"Saya akan memberikan beberapa resep vitamin untuk anda. Tetap makan makanan yang sehat dan bergizi, jika memungkinkan anda juga bisa melakukan olahraga ringan dan hindari stres."


"Baik, dokter." balas Aurora


Keluar dari ruangan dokter Alina, Austin sudah menyambut Aurora disana.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa calon bayiku baik-baik saja?" serbu Austin.


Aurora hanya menjawab dengan anggukan singkat.


Aurora sengaja memilih mengabaikan ucapan Austin yang baru saja menyebut kata 'bayiku'. Gadis itu berjalan keluar dari area rumah sakit di iringi oleh langkah Austin.


"Kau bahkan tidak akan mengingat jadwal pemeriksaan rutin baby rangers kalau tidak aku ingatkan. Sudah aku ingatkan berulang kali, sekalipun kau merasa terpuruk jangan sampai baby rangers terkena imbasnya. Kasihan dia.." omel Austin.


Aurora diam tanpa minat untuk menjawab.


Dua bulan ini, Aurora sudah seperti raga tanpa jiwa, berjalan kesana kemari dengan tatapan kosong.


Austin sebenarnya ingin sekali datang setiap hari untuk menghibur gadis itu namun Seorae BBQ sedang jaya-jayanya, jadi Austin tidak memiliki banyak waktu untuk memberikan perhatian pada Aurora.


"Ayo, kita pergi makan." ajak Austin.


"Aku tidak lapar." balas Aurora.


"Temani aku makan kalau begitu, aku lapar belum sempat sarapan. Didekat ini ada yang jualan roti isi yang enak, kita kesana saja!"


"Makanlah sendiri." ucap Aurora tanpa minat.


"Ayolah, sebentar saja. Sebagai tanda terima kasih karena aku sudah mau mengantarmu periksa kandungan."


Aurora menatap Austin sebal. "Aku 'kan tidak minta."


"Ah, tidak seru sama sekali! Ternyata wanita ini berhati dingin!"


Pada akhirnya mereka jadi mampir kesana setelah Austin pura-pura mengeluh jika maag-nya kambuh. Aurora tau Austin hanya akting, tapi rasa malu saat melihat Austin yang hampir bergulung-gulung di trotoar dengan menahan sakit membuat Aurora memilih untuk mengalah saja.


"Kenapa pesan dua?" tanya Aurora saat Austin membawa dua roti berisi daging asap dengan dua minuman jus apel.


"Satu untukmu." jawab Austin.


"Aku 'kan sudah bilang tidak nafsu makan."


Austin mengabaikan protesan Aurora, malah asik menggigit roti isinya disana. "Hei, coba cicipi itu dulu. Rasanya benar-benar enak sekali."


"Makan saja dua-duanya kalau kau memang sangat suka!" balas Aurora cuek.


"Kenapa harus makan semuanya? Aku 'kan beli satu untukmu." gumam Austin sebal.

__ADS_1


***


__ADS_2