
"Hehe.. kau memang peka sekali." balas Anna dengan tawa. "Jadi begini, bisakah nanti aku pulang lebih awal? Hanya untuk hari ini saja."
"Kau ada keperluan?"
Anna segera menjawab dengan anggukan.
"Kemana?"
"Pergi ke rumah calon mertua." balas Anna dengan suara riang, jelas sekali gadis berusia dua puluh dua tahun ini tengah merasa berbahagia.
"Aku baru tahu kalau kau sudah punya pacar." ucap Aurora penuh selidik. "Kau sekarang hobi main rahasia ya?"
"Bukan seperti itu, aku juga baru jadian dengan dia minggu lalu. Belum ada waktu untuk bercerita padamu karena kau sibuk terus." jawab Anna memberikan alasan.
"Kalau kau ingin cepat pulang, segera selesaikan pekerjaanmu."
"Jadi boleh 'kan?" tanya Anna memastikan.
"Boleh."
Senyum Anna mengembang. "Terima kasih. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan baik hari ini."
Pikiran Aurora menerawang jauh. "Tentu saja gadis sepertimu harus pergi berkencan, kemudian menikah dan hidup bahagia. Aku harap pacarmu punya sifat yang baik."
"Dia baik. Kakak juga harus mulai mencari yang baru, jangan langsung menyerah begitu saja hanya karena telah disakiti oleh satu pria. Kau orang baik, aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan pasangan yang baik juga."
Aurora hanya pasang raut wajah datar mendengar ucapan Anna. "Kau sudah tahu keputusanku untuk tidak menikah 'kan? Seumur hidup!"
"Eiy.. aku yakin kau tidak serius mengatakan hal tersebut, nanti kau pasti akan menikah, hanya saja untuk saat ini kau masih belum bisa menemukan orang yang cocok denganmu. Percayalah padaku!" balas Anna.
"Sudah sana, kembalilah bekerja." Aurora tampaknya tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh.
"Baiklah.."
***
"Kau pulang sana!"
Aurora bisa menemukan Briella yang baru saja datang.
"Kenapa kau datang-datang malah mengusirku?" tanya Aurora tak paham.
"Anna tadi mengatakan jika kau muntah-muntah lagi." jawab Briella.
"Astaga, anak itu mengadu padamu?" tahu begitu tadi Aurora tidak akan memberikan Anna ijin untuk pulang cepat, mulut gadis itu benar-benar ember bocor!
"Aku memang meminta dia untuk mengawasimu selama berada disini. Ini sudah kesekian kalinya aku mengatakan padamu untuk pergi ke rumah sakit." ucap Briella sebal.
"Ini bukan masalah besar. Akhir-akhir ini aku hanya sedang merasa stres." balas Aurora.
__ADS_1
"Jika kau tahu penyebabnya seharusnya hal itu bisa ditangani dengan segera. Kau bisa pergi berlibur atau melakukan apapun yang kau sukai selama hal itu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik."
"Bagaimana dengan melanjutkan pendidikan di luar negeri? Mungkin aku bisa meringankan beban didalam pikiranku ini setelah tinggal secara mandiri disana." ucap Aurora mengutarakan keinginannya.
"Kau benar-benar ingin pergi?"
Aurora mengangguk mantap.
"Kalau begitu kau bisa melakukannya. Pergilah, jika memang hal itu yang kau inginkan." balas Briella memberikan ijin.
***
Masih pukul lima pagi ketika Briella menemukan Aurora sudah duduk manis di kursi meja makan yang berada di dapur dengan dua porsi croissant sandwich disana.
"Aku lapar, ingin makan sesuatu. Jadi aku membuat ini." ucap Aurora bahkan sebelum Briella bertanya.
"Tumben sekali." tanggap Briella heran.
"Entahlah.. aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena merasa kelaparan sepanjang malam. Ah, ya.. kau mau juga?" Aurora menawarkan salah satu croissant miliknya disana.
"Tidak, terima kasih." balas Briella.
Bagi Briella ini masih terlalu pagi untuk pergi sarapan. "Apa kemarin kau melewatkan makan malammu?"
Aurora menggeleng, mulai melahap makanannya.
"Bukankah nanti kau harus bertemu dengan klien kita di butik, Galen dan Mina." Briella mengingatkan.
Mendengar itu Aurora segera teringat sesuatu. "Ah, ya.. aku pasti lupa mengatakannya padamu. Untuk sisanya mereka ingin kau yang mengurusnya."
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu atau kau sudah berbuat kesalahan?" tanya Briella penasaran.
"Aku hanya mengobrol sebentar dengan calon suaminya. Lalu setelah itu, sikap Mina mulai berubah dan mengatakan dia ingin kau saja yang mengurus sisanya." jawab Aurora.
Briella justru tertawa mendengar jawaban Aurora. "Sudah ku duga."
"Apa?" tanya Aurora penasaran.
Karena awalnya Aurora sempat berpikir Briella akan marah, menganggap Aurora sudah membuat klien mereka merasa tak puas dengan pelayanan yang dia berikan.
"Mina tipe gadis pencemburu berat." jawab Briella.
"Memangnya apa menariknya lelaki seperti Galen?" gumam Aurora tak habis pikir.
"Tentu saja sangat menarik!" balas Briella dengan penuh semangat. "Galen masih muda, tampan dan mapan, pasti para gadis di luar sana yang ingin memilikinya."
"Kecuali aku!"
"Benarkah?" goda Briella tak percaya. "Itu karena dia sudah hampir menikah 'kan? Makanya kau bisa bicara seperti itu. Coba kalau dia masih lajang, pasti kau juga mau."
__ADS_1
"Tidak mungkin. Mustahil!" balas Aurora bersikeras.
"Aneh sekali." gumam Briella tiba-tiba, seperti baru saja menyadari sesuatu.
"Apa?"
"Biasanya kau tidak pernah makan sebanyak ini." ucap Briella menemukan dua porsi croissant sandwich dihadapan Aurora yang sudah hampir habis.
"Ini enak." balas Aurora tak ingin menanggapi ucapan Briella dengan serius.
"Apapun itu, nanti siang pokoknya kau harus pergi ke rumah sakit. Aku curiga sesuatu telah terjadi pada tubuhmu."
"Apa maksudmu?" tanya Aurora yang mulai merasa risih dengan tatapan Briella.
"Katakan sejujurnya padaku, selama berpacaran dengan Aron kemarin, kalian tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh 'kan?" tanya Briella penuh selidik.
"Hah?!"
"Entahlah.. tapi aku melihatmu sekarang ini mirip denganku saat hamil Sean dulu."
"Apa?!!"
Seketika itu nafsu makan Aurora hilang dalam sekejap.
Aurora buru-buru masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamarnya, mengabaikan Briella yang menatapnya bingung karena tiba-tiba ditinggal begitu saja.
Gadis itu membuka lemari gantung disana, tempat dia biasa menyimpan pembalut wanita.
Ada dua kotak, masih dalam keadaan utuh.
"T-tidak mungkin.." ucap Aurora dengan wajah pucat.
Apakah ini akibat dari kejadian dua bulan yang lalu?
Bersama lelaki itu!
Galen.
"Ini pasti hanya karena aku sedang merasa stres." gumam Aurora mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Kilas balik dari pengalamannya dulu saat ia masih duduk dibangku SMA.
Aurora pernah terlambat menstruasi selama tiga bulan karena terlalu stres belajar. Mungkin saja kali ini sama seperti yang dulu.
Tapi setidaknya, Aurora perlu memastikan terlebih dahulu.
Dia pergi keluar kamar setelah berganti pakaian, membawa mobilnya untuk pergi kesuatu tempat, lagi-lagi mengabaikan Briella yang bertanya dia hendak pergi kemana pagi-pagi begini.
***
__ADS_1