
Berada didalam kamar Galen, suasana mendadak berubah menjadi dingin. Lelaki itu tidak mengatakan sepatah katapun, Aurora baru menyadari mereka bahkan tidak mengobrol seharian ini.
"Galen.."
Aurora ingin memulai membuka sebuah obrolan dengan suaminya itu. Belum sempat dia menemukan topik yang pas, Galen tiba-tiba datang menghampiri dan duduk disebelahnya.
"Aku tanya padamu! Apa kau sekarang merasa bahagia? Apa ini yang kau inginkan? Kau tau, menikah karena sebuah keterpaksaan tidak akan pernah berakhir dengan indah."
"Siapa bilang?" tanya Aurora.
Galen tidak mengerti maksud dari pertanyaan Aurora.
"Apa kau tidak pernah mendengar istilah adanya sebuah cinta karena telah terbiasa?" tanya Aurora sekali lagi.
Galen sudah menunjukkan ekspresi tak percaya. "Kau mempercayai hal semacam itu?"
"Ya. Kenapa tidak?"
"Aku rasa hal itu hanya berlaku untuk dirimu sendiri. Aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas. Kau! Adalah seorang gadis yang telah bersumpah tidak akan pernah menikah seumur hidup! Apa kau tidak sadar sudah menjilat ludahmu sendiri?!"
"Ini semua berjalan diluar kendaliku! Bahkan saat pertama kali mengetahui keberadaan bayi ini, aku masih tidak memiliki ketertarikan untuk menikah." balas Aurora.
Dia bahkan tidak tersinggung dengan segala macam tuduhan yang telah Galen layangkan karena memang kenyataan yang ada seperti itu.
"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran sekarang? Kau seharusnya menyadari telah menjadi seseorang yang begitu kejam merusak kebahagiaan gadis lainnya. Bukankah kalian sama-sama seorang wanita? Aku yakin kau pasti bisa membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Mina saat ini."
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu jika kau terlalu baik bersanding dengan gadis egois seperti Mina." ucap Aurora mengingatkan.
Anehnya Galen tidak marah. Bukan hanya pada Aurora, sekalipun itu Mark, Kenzo ataupun Austin yang mengatakan Mina adalah gadis yang egois, Galen tidak bisa menyangkalnya karena memang sikap egois sudah melekat kuat pada image Mina.
"Kau sepertinya terlalu percaya diri secara tidak langsung telah mengatakan jika kau memiliki sifat yang jauh lebih baik daripada Mina setelah kita berdua resmi menikah." tuduh Galen.
"Bukan seperti itu." sangkal Aurora dengan segera. "Aku hanya satu dari sekian banyak gadis di luar sana yang memiliki kesempatan untuk menikah denganmu karena telah mengandung bayimu."
"Itu hanya alasanmu saja! Intinya aku tidak suka dengan gadis yang plin plan sepertimu!"
__ADS_1
"Terserah kau saja!" balas Aurora yang sudah mulai merasa lelah.
Kedua kemudian saling diam untuk waktu yang cukup lama.
"Galen.." panggil Aurora pelan setelah beberapa saat.
"Apa?" balas Galen sinis.
"Kau serius ingin mendengar alasan dariku mengapa pada akhirnya aku bersedia menikah denganmu."
Raut wajah Aurora tampak serius jadi Galen mengangguk singkat karena benar-benar penasaran.
"Itu karenaㅡ" Aurora memejamkan kedua matanya erat, karena hal ini akan menjadi yang pertama kali dia lakukan dalam seumur hidup.
"Aku mulai menaruh perasaan padamu." yaitu mengakui perasaannya pada seorang laki-laki terlebih dahulu.
Aurora bisa melihat raut Galen yang tampak kebingungan, namun siapa yang peduli? Aurora hanya mengatakan dengan jujur apa yang ingin Galen dengar.
"Itu benar, Galen.. aku rasa aku mulai mencintaimu." lanjut Aurora.
"Terobsesi kau bilang?!" tanya Aurora tak percaya.
"Aku bahkan tidak pernah berusaha merebutmu dari Mina! Kau seharusnya tau, aku hanya mengikuti alur ini begitu saja! Bahkan ini bisa disebut sebagai takdir Tuhan! Lantas dimana letak kesalahanku?!"
Aurora sedikit tersinggung dengan ucapan Galen hingga membuat emosinya seketika meledak. Apalagi keadaannya yang sedang berbadan dua tidak menutup kemungkinan jika perasaan Aurora menjadi lebih sensitif dari biasanya.
"Jawab pertanyaanku! Apa aku bersalah karena memendam perasaan ini padamu? Bukankah itu hak milik ku. Mencintai seseorang yang ingin aku cintai? Ayah dari calon bayiku."
"Ini sudah terlalu jauh. Tampaknya kau segera harus disadarkan jika posisimu disiniㅡsudah persis seperti seorang perebut!"
Aurora tidak menyangka Galen bisa mengucapkan kalimat semacam itu dengan begitu lancar tanpa terlihat ada perasaan bersalah sedikitpun.
"Tarik segera kata-katamu itu!" balas Aurora geram. "Aku! Bukan! Seorang! Perebut!"
"Sangkal saja semuanya! Tapi kenyataan yang ada memang seperti itu 'kan? Kau membiarkan gadis malang itu jatuh terpuruk. Menangisi pernikahannya yang telah gagal." balas Galen enggan menuruti permintaan Aurora.
__ADS_1
"Sadarilah.. semua ini terjadi akibat dari perbuatan buruk Mina sendiri!"
Galen mendengus tidak peduli.
"Ingat ya! Sekalipun ada bayi itu, perasaanku padamu tidak akan pernah berubah."
Aurora mencelos mendengarnya. Sekalipun itu bukan sebuah bentakan namun efek dari ucapan Galen barusan tidak main-main rasa sakitnya!
Seolah pintu harapan Aurora telah terkunci rapat bahkan sebelum harapan itu terbuka.
"Setelah bayi itu lahir, aku akan pergi untuk menceraikanmu!"
"Lakukan! Lakukan saja sesukamu!" balas Aurora dengan bibir bergetar menahan tangis. "Tapi satu pintaku, anak ini, hak asuhnya akan menjadi milikku sepenuhnya."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu karena sejak awal dia memang milikmu. Jadi, ambillah.."
Bukan hanya Aurora, ternyata calon bayinya juga dibuang disini. Bahkan sebelum dia lahir.
"Harga diri seorang pria dipegang dari ucapannya. Aku harap kau tidak akan pernah merasakan sebuah penyesalan karena sudah mengatakan hal ini. Penolakanmu atas diriku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengakuanmu yang tidak menginginkan bayi ini, darah dagingmu sendiri."
Galen masih tampak tidak peduli sekalipun air mata Aurora sudah jatuh deras disana.
"Sisa enam bulan ini. Mari kita jalani dengan cara masing-masing." ucap Aurora dengan rasa sakit hati yang begitu mendalam.
Perasaan kecewa sudah terlanjur menguasai. Aurora sudah ditegaskan untuk berhenti mencintai Galen bahkan sebelum dia berjuang.
Rasanya sungguh menyesakkan sekali.
Aurora tidak pernah menyangka jika mencintai seseorang bisa sesakit ini. Dimana letak kesalahan Aurora jika saja perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja tanpa di undang!
"Aku akan segera pergi menemui Mina, entah itu besok atau lusa. Sekalipun kita sudah menikah kau tidak memiliki hak untuk melarangku. Sudah pernah aku ingatkan padamu sebelumnya, sifat nekatmu ini pada akhirnya hanya akan melukai dirimu sendiri. Kau akan merasa menyesal karena sudah memilih untuk menikah denganku." ucap Galen panjang.
"Terserah!"
Aurora sudah menyerah!
__ADS_1
***