
Galen menghentikan laju mobilnya ketika melihat keributan tak jauh didepan sana. Dia mengenali mobil dibelakang adalah milik Aurora yang membuat Galen segera berlari mendekat.
"Turun kau! Cepat buka pintu mobilnya! Bagaimana bisa kau menabrak mobilku dari belakang saat lampu merah menyala. Dasar gadis gila!" umpat seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor yang menjadi korban.
"Ada apa ini?" Galen bertanya setelah berhasil menerobos kerumunan orang-orang.
"Gadis didalam sana sudah menabrak mobilku. Bagaimana bisa dia menyetir dengan gegabah seperti itu! Atau jangan-jangan dia sedang mabuk! Dasar anak muda jaman sekarang!" tuduh wanita paruh baya tersebut.
Galen bisa melihat Aurora masih bertahan didalam mobil, terdiam di kursi kemudi, pelipis gadis itu terluka, tampak mengeluarkan darah, tapi Galen yakin dia masih dalam keadaan sadar meskipun kedua matanya tengah terpejam.
"Biarkan aku bicara padanya. Tolong menyingkir sebentar." pinta Galen.
"Dia harus bertanggung jawab!" wanita paruh baya itu masih bersikeras.
"Dia terluka! Aku harus mamastikan keadaannya terlebih dahulu." sentak Galen.
Galen tahu jika dalam kasus ini Aurora memang bersalah, tapi melihat keadaannya yang tengah terluka sudah seharusnya mereka memberikan pertolongan terlebih dahulu sebelum menuntut tanggung jawab.
"Aurora, buka pintunya. Ini aku, Galen." pinta Galen sembari mengetuk kaca mobil.
Mendengar suara Galen, Aurora mencoba membuka kedua matanya, menatap kearah jendela dan menemukan keberadaan lelaki itu disana.
"Keluarlah dari mobil. Kau terluka, aku akan membawamu ke rumah sakit." ucap Galen dari luar.
Aurora menurut begitu saja untuk membuka pintu mobilnya. Dengan segera Galen bergerak melepaskan seat belt yang terpasang, menarik keluar gadis itu dari sana dan menggendongnya hendak menuju ke rumah sakit.
"Tunggu sebentar! Apa kau akan membawa gadis gila ini pergi begitu saja?!" tanya wanita paruh baya tersebut masih dengan emosi yang meluap-luap.
"Dia terluka!" balas Galen masih mencoba untuk tenang dan tidak terbawa emosi.
Wanita itu berdecak keras. "Kalian pasti bersekongkol! Lihatlah.. gadis gila ini bahkan pura-pura tidak berdaya agar terlepas dariã…¡"
"Bayiku.." Aurora bergumam lemah. "Tolong selamatkan bayiku.."
Mendengar ucapan Aurora, wanita paruh baya itu seketika terdiam.
"Gadis ini hamil?" tanya wanita itu setelah beberapa detik terdiam.
Galen mengangguk singkat.
"Jika anda ingin mendapatkan ganti rugi, datang saja ke JWN hotel, kami akan mengurusnya disana, berapapun ganti rugi yang anda inginkan. Untuk saat ini biarkan aku membawa gadis ini pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. Dia terluka, perlu segera mendapatkan perawatan." ucap Galen.
Tanpa menunggu jawaban wanita paruh baya tersebut, Galen setengah berlari bergegas menuju mobilnya.
"Bayiku.. tolong selamatkan bayiku.." rancau Aurora setengah sadar, gadis itu sudah menangis disana.
__ADS_1
Galen tampak gusar melihat keadaan Aurora, dengan segera tancap gas menuju rumah sakit.
***
Galen tidak bisa berhenti merasa cemas ketika menunggu dokter yang masih menangani Aurora didalam ruang UGD
Tiba-tiba ponsel Galen didalam saku jasnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari Mina.
Via telepon..
"Kau dimana?" tanya Mina begitu mereka terhubung.
"Aku sedang ada urusan sebentar." jawab Galen.
"Bisa kau katakan dengan jelas urusan apa itu?" dari nada bicaranya, saat ini Mina jelas tengah merasa curiga.
"Kenzo sedang mengadakan pasta sederhana untuk merayakan kehamilan pertama Hera. Aku 'kan sudah memberitahumu kemarin." balas Galen berdusta.
Meskipun tidak sepenuhnya berbohong, karena tadinya Galen memang sudah dalam perjalanan menuju rumah Kenzo, tapi tanpa sengaja malah bertemu dengan Aurora yang tengah tertimpa musibah.
"Jangan pulang terlalu malam. Aku menunggumu disini." pinta Mina.
"Iya. Aku akan segera pulang begitu acaranya selesai."
"Sampaikan salam ku pada Kenzo dan Hera, juga permintaan maaf karena tidak bisa turut hadir disana."
Pintu ruang UGD terbuka, membuat Galen buru-buru mengakhiri obrolannya bersama Mina.
"Sudah dulu ya, nanti aku akan kembali menghubungimu saat acaranya sudah selesai."
"Iya. Selamat bersenang-senang." ucap Mina yang kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.
Galen mendengarkan penjelasan dari dokter dengan seksama. Untungnya Aurora hanya mengalami cidera kepala ringan, juga keadaan janinnya yang baik-baik saja.
Sekalipun Galen ingin menggugurkan bayi itu, namun bukan begini caranya.
Jauh dalam lubuk hati Galen merasa bersyukur mengetahui keadaan Aurora dan bayinya baik-baik saja.
"Lain kali berhati-hati saat mengemudi." Galen memperingatkan setelah Aurora sudah dipindahkan kedalam kamar rawat.
"Bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Aurora sinis.
"Bagaimana bisa kau melimpahkan segala kecerobohan akibat perbuatanmu sendiri menjadi kesalahanku?" Galen balas bertanya dengan tatapan tak terima.
"Kau menginginkan bayi ini mati!" ucap Aurora masih tak mau kalah.
__ADS_1
"Buktinya dia tidak mati! Bayi itu masih baik-baik saja didalam sana."
"Untuk saat ini memang benar, tapi nanti kau pasti akan kembali mendesak ku untuk menggugurkannya." air mata Aurora jatuh mengalir.
Galen yang melihat hal itu pada akhirnya memilih untuk mengalah saja.
"Mari berhenti berdebat dan segera pergi beristirahat. Dokter mengatakan kecelakaan ini mungkin tidak membuatmu kehilangan bayi itu, namun jika kau terus menerus merasa stres hal itu yang justru akan berpengaruh pada keselamatan bayimu. Bukankah kau ingin menjaganya?"
Aurora menatap Galen tidak percaya. "Kau mengijinkannya?"
Dengan berat hati Galen terpaksa mengangguk.
"Seperti ucapanmu, kau akan segera pergi ke luar negeri. Jadi aku pikir Mina juga tak akan tahu jika bayi itu akan terlahir ke dunia ini."
Aurora mengangguk dengan cepat, gadis itu seolah telah menemukan harapan baru.
"Aku akan kesana, dan mungkin tak akan pernah kembali lagi."
Galen mengangguk tanpa minat. "Aku akan mengatakan pada Mina jika kita sudah menggugurkan bayi itu sesuai keinginannya. Tadi aku juga sudah bicara pada seseorang yang menghubungi ponselmu, dia yang akan menjagamu malam ini."
"Siapa?" tanya Aurora penasaran.
"Kalau tidak salah namanya Anna." balas Galen.
"Anna?! Mengapa kau memberitahunya?!" protes Aurora kesal.
"Memangnya kenapa?" tanya Galen tak mengerti.
Aurora berdecak keras. "Sudahlah.. lagipula sudah terlanjur terjadi."
Aurora melihat Galen saat ini tengah fokus dengan layar ponselnya, sebelum akhirnya kembali fokus pada Aurora disana.
"Aku akan pergi keluar sebentar dan segera kembali."
"Kau tidak perlu kembali. Langsung pulang saja!"
Galen tidak memperdulikan ucapan Aurora, dia keluar dari kamar rawat dan kembali masuk lagi setelah sepuluh menit berlalu dengan membawa sesuatu yang tidak pernah Aurora duga sebelumnya.
Cheese corndog.
"Kenapa cuma dilihat? Tadi saat di restoran tonkatsu kau bilang ingin makan itu 'kan? Aku sengaja membelikannya untukmu." ucap Galen yang ternyata pamit keluar sebentar untuk mengambil cheese corndog yang tadi sempat dia pesan melalui aplikasi food delivery.
"Mengapa kau baik sekali padaku?" tanya Aurora tak mengerti.
Karena seharusnya Galen tidak boleh bersikap seperti ini.
__ADS_1
***